Perang Praya: Gejolak Kemarahan Praya dan Politik Adu Domba Kerajaan Mataram

Perang-Praya-dan-Kerajaan Mataram

RiauOnline.id, Sejarah Lombok -- Kajian tentang perang Praya memang tidak terdapat banyak literasi yang bercerita tentang kisah memilukan ini. Memang pada saat itu, setiap kejadian tidak tercatat dengan baik, entah apa sebabnya!

Bisa jadi tak ada juru tulis yang mumpuni! Atau kejadian-kejadian seperti itu memang tak akan pernah ada literasi dari catatan sejarahnya, namun setidaknya para pemikir dan peneliti sejarah sudah banyak menguraikan berdasarkan pengamatan terhadap bukti-bukti sejarah sebagai pembandingnya.

Lalu dari mana sumber sejarah ini?

Nah, begini ceritanya...

Para pakar sejarah tidak bisa mengambil kesimpulan dari satu bukti yang ada, setidaknya ada bukti pembanding dari sisi lain.

...Misalnya begini,

Kalau Perang Praya melawan Kerajaan Mataram maka akan di gali dari kedua belah pihak baik itu sejarah yang tertinggal di Praya maupun yang tersimpan didalam babad lombok semasa Kerajaan Mataram. Jadi, ketika dua sumber dan data yang dipertemukan maka akan ketemu sebuah kecocokan informasi.

So, balik lagi pada Perang Praya ini...

Waktu itu ada seorang bernama Raden Wiracandra, terlihat beberapa kali ke Mataram dengan pasukan lengkap dan bersenjata.

Sebenarnya Praya sudah menyadari bahwa malapetaka bagi dirinya hanya menunggu giliran saja. Praya sudah tidak tahan lagi memelihara persahabatan dengan Mataram.

peran-praya-melawan-mataram

Jadi, feeling dari praya yang merasakan hal tak nyaman tersebut disebabkan oleh beberapa hal. Misalnya, kala itu situasi yang dilakukan oleh Kerajaan Mataram yang selalu saja melanggar perjanjian antara Arya Banjar Getas dengan I Gusti Ketut Karangasem. Keadaan ini tentunya menjadi hal yang tidak pantas di zaman itu.

Jadi, orang-orang yang hidup di zaman kerajaan itu benar-benar memegang janji yang di amggap sebagai sumpah, dan jika melanggar maka akan ada dampak petakanya, namun yang terjadi saat itu adalah situasi yang berbeda, Kerajaan Mataram mulai ingkar dengan segala perjanjian tersebut.

Hal kedua yang meresahkan adalah tindakan dari Mataram yang mulai menggerogoti daerah kekuasaan Banjar Getas secara perlahan.

Mereka ini mulai mendirikan daerah-daerah otonom kecil sebagai daerah yang langsung berada dibawah kekuasaan Mataram. Semula, hal ini di anggap biasa-biasa saja. Namun timbul pemikiran bahwa apa yang dilakukan oleh kerajaan Mataram ini sudah diluar dari ketentuan.

...Nah,

Hal sepele ini mulai dianggap suatu masalah yang besar bagi Banjar Getas.

Selain itu, Juga terlihat usaha untuk menguasai seluruh Lombok dengan menjalankan politik adu domba antara para pemimpin Sasak dan Raden Wiracandra difitnah akan menyerang Mataram. Usaha terakhir Mataram untuk menaklukkan Praya secara halus, adalah dengan melamar putri Raden Wiracandra yang ditolak oleh Praya. Maka untuk menyerang Praya, raja Mataram menghasut desa-desa tetangganya untuk memusuhi Praya.

Jadi, jelas sudah terlihat siasat mereka...

Menyerang dan merangkul desa-desa otonom yang dibentuknya tadi, sudah ada pengaruh Kerajaan Mataram di kalangan penduduk desa-desa ini. 

...Jika di ibaratkan hanya tinggal menunggu perintah Mataram!

Kalau proses melamar sebenarnya hanya bagian dari politik Kerajaan Mataram untuk mencari masalah dengan Praya. Mereka membuat celah untuk menyerang! Dan inilah yang terjadi.

Sangat terarah dan terukur! Apa yang dilakukan sudah dalam perencanaan matang.

Yang hebatnya lagi, pengatur siasat Kerajaan Matarm memasukkan Kopang dan Batukliang sebagai bagian dari siasat adu domba mereka. Sukses! Kopang dan Batukliang termakan hasutan dari Kerajaan Mataram. 

Perang-praya-dan-mataram

Hasutan berhasil dan suasana berbalik, Kopang dan Batukliang seolah-olah menjadi musuh utama Praya. Apa yang dilakukan Mataram berjalan dengan lancar, peperangan pun pecah! Praya menyerang Batukliang dan Kopang.

...Dalam situasi ini, Mataram masuk!

Jadi kehadiran Mataram bukan sebagai musuh utama Praya, namun Mataram datang sebagai bala bantuan untuk kedua desa tersebut, Kopang dan Batukliang. Sungguh taktik yang mumpuni! Kemudian Ratu Gde Wanasara yang didampingi oleh I Made Rai dan Gusti Made Kaler memimpin pasukan Mataram dalam peperangan ini.

Lagi-lagi Kerajaan Mataram memainkan siasatnya,

Jadi, Pemimpin dari pasukan Mataram meminta Kopang dan Batukliang menunggu tibanya pasukan Praya didaerah perbatasan. Nah, di daerah perbatasan ini kemudian pasukan Praya terkepung oleh Kopang, Batukliang dan Mataram. Turut serta juga beberapa pasukan dari Batujai, Suradadi, Penujak, Jonggat Puyung, Rarang, dan Sakra.

...Sekali lagi, siasat yang matang!

Sebenarnya Praya memiliki pasukan yang kuat hingga bertahan cukup lama, peperapangan ini tidak berhenti hingga enam bulan lamanya. Bayangkan, peperangan selama enam bulan!

Akibar dari ini, terjadi kelaparan dimana-mana. Praya sudah terkepung! Untuk keluar mencari makan saja pasukan bisa terbunuh, sangat menggelisahkan! Raden Wiracandra sangat kwatir dengan keadaan ini, beliau sangat gelisah sekali melihat rakyat dan prajuritnya dalam keadaan terkepung dan kelaparan.

...Raden Wiracandra dan keputusan Perang Fisabillilah?

Keadaan yang makin terjepit dan diperparah dengan kondisi prajurit yang dalam keadaan kelaparan membuat Raden Wiracandra harus segera mengambil keputusan.

Sebuah keadaan yang sulit, 

peran-praya-melawan-mataram

...Menyerang mati, tidak menyerang juga dalam kondisi kelaparan, dalam keadaan seperti ini hanya satu keputusan yang tepat bagi Raden Wiracandra yaitu 'Perang Fisabillilah', jika harus mati maka mereka siap mati Sahid dalam medan peperangan.

...Jadi, kalaupun mereka hanya bertahan dan tidak menyerang mereka juga akan mati kelaparan.

Jika tetap mengulur waktu maka keadaan makin parah. Peperangan pun kembali bergejolah, dalam peperangan kali ini Raden Wiracandra tewas. Namun peperangan terus dilanjutkan dengan pemimpin mereka Haji Umar meskipun mereka juga tewas dalam pertempuran ini.

Melihat kondisi ini, sangat tidak memungkinkan untuk terus menyerang, kemudian Raden Tunggul, putra dari Raden Wiracandra dapat meloloskan diri dan pergi ke Bugis.

Ada juga yang tidak sempat melarikan diri, kondisi putri-putri Raden Wira Candra tak sempat melarikan diri, mereka menjadi tawanan Mataram. Sebagian dari tawanan ini kemudian dibuang ke Bali dan Lombok Utara (daerah Tanjung).

...Tragisnya, sebagian dari mereka di bunuh dengan kejam!

Jadi, inilah yang menjadi titik awal dari kekuasaan kekuasaan Anak Agung Gde Ngurah, raja Karangasem di Praya.

Selanjutnya...

Sedangkan di Praya diangkat seorang pimpinan dari keturunan Banjar Getas bernama Mamiq Sapian.

Keruntuhan Praya dan kegembiraan bagi Kopang dan Batukliang. Nama Kopang dan Batukliang mencuat, martabat mereka naik seiring kehancuran Praya ini. Kopang dan Batukliang seolah-olah menjadi tumpuan serangan atas kehancuran Praya.

Dari serie sejarah sebelumnya sudah diketahui bahwa Kpang dan Batukliang adalah desa otonom bentukan Kerajaan Mataram, mereka harus tunduk pada kekuasaan Kerajaan Mataram. Situasi dan persepsi atas keberhasilan Kopang dan Batukliang ini membuat Kerajaan Mataram tidak nyaman.

Beberapa tahun setelah perang Praya pertama, Jero Wirasari pimpinan Kopang, dipanggil ke Mataram.

...Panggilan Mataram ini adalah panggilan atasan Kopang.

Nah, kala itu Jero Wirasari berangkat ke Kerajaan Mataram bersama rombongannya. Anehnya, panggilan ini kemudian berubah menjadi fitnah bagi pemimpin Kopang ini. Situasi dipanggil Penguasa Mataram malah berubah isu menjadi fitnah pemberontakan.

Jero Wirasari dituduh akan memberontak ke Kerajaan Mataram!

...Kemudaian,

Raja memerintahkannya untuk ke Pemenang, salah satu desa di kawasan Lombok Utara dan tanpa di sadari kemudian Jero Wirasari dikeroyok dan dibunuh oleh pasukan Mataram di bawah pimpinan Gusti Ketut Ning.

..Keadaan yang cukup kejam!

Jenazahnya dimakamkan oleh para rombongannya di Pemenang. Sejak saat itu Kopang mengalami kemunduran.

Rencana Raja Mataram untuk menguasai desa demi desa semakin menjadi-jadi, sehingga ia tidak lagi membedakan kawan atau lawan, yang penting tujuannya tercapai dengan mudah dan cepat. Satu-persatu sekutunya dihancurkan.

...Seperti itulah kekuasaan yang dijalankan oleh Kerajaan mataram kala itu,

Hal ini sangat menggelisahkan para pemimpin Sasak. Mereka tidak dapat bersatu akibat politik Mataram yang sangat cerdik.

Situasi itu membuat pemimpin Sasak kesulitan untuk mempersatukan persepsi, politik adu domba yang dijalankan Kerajaan Mataram selalu berhasil. Salah satu aksi yang sangat sukses yang dilakukan Kerajaan Mataram selain menumpas Praya adalah kehancuran Kopang.

Kopang menjadi korban kekejian Kerajaan Mataram kala itu!

Jadi, logika yang berjalan kala itu adalah siapa yang kuat dan cerdik maka dialah yang berjaya dan memiliki kekuasaan yang luas.

...Kita tidak mengatakan Kerajaan Mataram salah atas tindakan ini, juga tidak mengatakan benar atas segala politik adu domba yang dilakukannya, intinya ini adalah sebuah siasat perang!

Korban selanjutnya adalah Batukliang,

Kejadian selanjutnya menyasar pada Batukliang. Raden Sumintang diminta datang ke Mataram. Para bangsawan dan pembantunnya melarang beliau datang ke Mataram untuk memenuhi surat panggilan dari Anak Agung Mataram itu.

...Sebenarnya, para penasehat raden sudah tahu akan politik yang sedang dijalankan oleh Anak Agung Mataram.

Awalnya, Raden Sumintang mendengarkan nasehat tersebut. Setelah tiga kali surat diterima dan tidak dihiraukan juga.

...Fatal!

Kerajaan Mataram malah mengirim pasukan di bawah pimpinan Gusti Made Sangka untuk menangkap Raden Sumintang dalam keadaan hidup atau mati. Agar Batukliang tidak bernasib seperti Praya, Raden Sumintang menyerahkan diri di Aik Gering kepada pasukan yang akan menangkapnya.

Ternyata, beliau langsung dibunuh oleh Gusti Made Sangka.

Melihat Radennya dibunuh, para pengiringnya bernama Tati' Engkis tidak dapat menahan diri lalu mengamuk. Tetapi baru dapat menewaskan seorang musuh, ia pun tewas. Jenazah Raden Sumintang dimakamkan di Batukliang.

Inilah siasat Kerajaan Mataram kala masih berkuasa! Uraian selanjutnya akan saya kupas tentang pemberontakan terhadap Kerajaan Mataram ini juga.

...Stay Tune!

0 Response to "Perang Praya: Gejolak Kemarahan Praya dan Politik Adu Domba Kerajaan Mataram"

Post a comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel