Biografi Brigadir Jenderal Katamso Darmokusumo, Sosok Pahlawan Yang Berjuang Hingga Berakhir di Sumur Tua

Brigadir-Jenderal-Katamso-Darmokusumo

RiauOnline.id, Sejarah Nasional -- Brigadir Jenderal Katamso Darmokusumo adalah seorang Jendral yang dilahirkan di Sragen. Keahlian beliau kemudian menjadikannya sebagai salah satu Jendral yang memiliki kemampuan untuk menangani pemberontakan pasca Kemerdekaan Indonesia.

Berikut perjalanan hidup Brigadir Jenderal Katamso Darmokusumo, dari biografi hingga jasadnya merusak di dalam Sumur Tua.

1. Biografi Lengkap Brigjen Anumerta Katamso Darmokusumo


...Jadi,

Sosok Brigjen Anumerta Katamso Darmokusumo merupakan salah satu pahlawan nasional Indonesia yang yang kariernya terhenti setelah terbunuh dalam peristiwa G.30S/PKI.  Brigjen Anumerta Katamso Darmokusumo tidak terbunuh dengan para Jenderal lainnya, tapi Ia terbunuh di Jogjakarta dalam hari dan peristiwa yang sama.

Mengawali masa mudanya, Ia pernah bersekolah di Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah. Setelah itu Ia melanjutkan pendidikan tentara Peta di Bogor.

Berawal dari TKR yang kemudian berubah menjadi TNI, Ia selalu memimpin pasukan dalam sebuah pertempuran semasa agresi militer Belanda. Sebuah tugas berat yang di embannya kala Indonesia sudah merdeka. Ini adalah misi mempertahankan kemerdekaan.

Belanda tidak mengakui kemerdekaan Indonesia, meski pada akhirnya terpaksa harus mengakui kedaulatan Indonesia.

Setelah itu, kemudian Brigadir Jenderal Katamso Darmokusumo mendapat tugas untuk menumpas pemberontakan Batalyon 426 di Jawa Tengah.

Selanjutnya, sekitar tahun 1958,  ada peristiwa pemberontakan terhadap Indonesia, pemberontakan itu oleh PRRI/Permesta. Sewaktu itu beliau menjabat sebagai Komandan Batalyon “A” Komando Operasi 17 Agustus yang dipimpin oleh Kolonel Ahmad Yani.

Pada karir Brigjen Anumerta Katamso Darmokusumo selanjutnya diketahui sekitar tahun 1963, ia menjabat sebagai Komandan Korem 072 Kodam VII/Diponegoro yang berkedudukan di Yogkakarta.

Dalam rangka menghadapi kegiatan PKI yang berpusat di daerah Solo, Brigjen Anumerta Katamso Darmokusumo sangat aktif membina dan memberikan pengarahan mahasiswa. Mahasiswa mahasiswa itu diberi pelatihan militer sebagai bagian dari tangkisan dalam menghadapi pengaruh PKI yang begitu pesat dan gencar penyebarannya di daerah Solo.

Ini adalah bagian dari strategi Pemerintah Indonesia dalam menangani persoalan penyebaran pengaruh PKI.

Saat kudeta PKI di Yogjakarta Pada tanggal 1 Oktober 1965,  ada upaya dari Partai Komunis Indonesia untuk penculikan para jenderal yang sedang menjalankan misi pengamanan dan penghadangan pengaruh G.30 S/PKI di Jakarta.

Kemudian Gerakan30 S/PKI berhasil menduduki lokasi informasi strategis RRI Jogjakarta, Markas Korem 072 dan mengumumkan pembentukan Dewan Revolusi.

Aktifitas penculikan dilakukan pada sore hari, kala itu mereka menculik Komandan Korem 072, Kolonel Katamso dan Kepala Staf Korem Letnan Kolonel Sugiono. Mereka berdua di bawa ke daerah benama Kentungan. Keadaan mereka cuku parah setelah di siksa dan di pukul dengan menggunakan kunci mortar. Kemudian tubuh merekadimasukan dalam sebuah lubang yang sudah disiapkan oleh anggota gerakan ini.

Kemudian hari, kedua jenazah ini baru kemudian ditemukan pada tanggal 21 Oktober 1965 dalam keadaan busuk dan rusak,selanjjutnya  pada tanggal 22 Oktober 1965 beliau dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Semaki Yogyakarta.

2. Pendidikan dan Karier Brigadir Jenderal Katamso Darmokusumo


Brigadir Jenderal Katamso Darmokusumo menempuh Pendidikan Sekolah Menengah Pendidikan Militer Pembela Tanah Air (PETA) di Bogor. Kemudia dalam karier beliau berawal di Shodanco Peta Solo, kemudian diangkat menjadi Komandan Kompi di klaten, setelah itu beliau menjadi Komandan Kompi Batalyon 28 Divisi IV, selanjutnya juga tercatat sebagai Komandan Batalyon "A" Komando Operasi 17 Agustus, Kepala Staff Resimen Team Pertempuran (RTP)  II Diponegoro, Kepala Staff Resimen Riau Daratan Kodam III/17 Agustus, Komando Pendidikan dan Latihan (Koplat) merangkap Komandan Pusat Pendidikan Infanteri (Pusdikif) di Bandung, Komandan Resort Militer korem 072, Komando Daerah Militer (Kodam) VII Diponegoro di Yogyakarta.

Serta Penghargaan terakhir sebagai penghormatan Bangsa Indonesia terhadap jasa dan perjuangan Brigadir Jenderal Katamso Darmokusumo, maka Ia di anugrahi Gelar Pahlawan Revolusi (SK Presiden RI No. 118/KOTI/Tahun 1965, tanggal 19 Oktober 1965)

3. Perjuangan dan Pemberantasan G30S/PKI oleh Brigadir Jenderal Katamso Darmokusumo


Aksi klandestin militer di Jakarta tahun 1965 membawa dampak buruk di Yogyakarta. Sore hari, 2 Oktober 1965, Kolonel Katamso baru saja pulang dari Magelang.

Ia dipaksa menandatangani surat yang mendukung Dewan Revolusi oleh Mayor Mulyono. 

Ia tidak langsung setuju, tetapi meminta rapat terlebih dahulu. Malangnya, ia langsung diculik dari rumahnya.

Di bawah todongan senjata, Katamso dibawa ke kompleks Batalyon L di desa Kentungan Yogyakarta. Ia dianiaya dan dibunuh, lalu dimasukkan dalam sebuah sumur dan ditutup tanah.

Katamso yang berasal dari kota “bumi Sukowati’ ini menempuh pendidikan umum sampai tingkat Sekolah Menengah di kota kelahirannya. Lalu masa pendudukan Jepang, ia mengikuti pendidikan tentara Pembela Tanah Air (Peta) di Bogor.

Setelahnya, ia diangkat menjadi Shodanco Peta di Solo. Sesudah kemerdekaan Indonesia, ia menyumbang tenaga untuk mempertahankan kemerdekaan dengan masuk TKR. Awalnya ia diangkat sebagai Komandan Kompi di Klaten, kemudian Komandan Kompi Batalyon 28 Divisi IV.

Selama agresi Militer Belanda kedua, pasukan yang dipimpinnya sering kali terlibat dalam pertempuran melawan Belanda.

Selepas pengakuan kedaulatan Indonesia, di Jawa Tengah timbul pemberontakan Batalyon 426. Katamso diserahi tugas menumpas pemberontakan tersebut dan berhasil. Saat muncul pemberontakan PRRI/Permesta tahun 1958, ia diangkat menjadi Komandan Batalyon “A” Komando Operasi 17 Agustus dibawah pimpinan Kolonel Ahmad Yani.

Kemudian diserahi tugas sebagai Kepala Staf Resimen Team Pertempuran (RTP) II Diponegoro dan berkedudukan di Bukittinggi, Sumatra Barat.

Dari situ ia dipindahkan menjadi Kepala Staf Resimen Riau Daratan Komando Daerah Militer (Kodam) III/17 Agustus.

Setelah keamanan di Sumatra pulih kembali, ia ditarik ke Jakarta dan bertugas pada Komando Pendidikan dan Latihan (Koplat) merangkap sebagai Komandan Pusat Pendidikan Infanteri (Pusdikif) di Bandung.

Pada tahun 1963 Katamso dipindahkan ke Jawa Tengah memangku jabatan Korem 072 Pamungkas di bawah Kodam VIII Diponegoro, berkedudukan di Yogyakarta.

Ia membina Resimen Mahasiswa yang diberi latihan-latihan rniliter dan juga giat mengembangkan pendidikan.

4. Ketika Kolonel Katamso di Khianati Bawahannya Sendiri


...Ada hal menarik dalam kajian perjalanan militer Jenderal Katamso.

Kala itu PKI sudah menanamkan pengaruh dalam tubuh militer di Yogjakarta, para tentara yang ada di Militer Yogjakarta telah berkubu dengan orang-orang PKI dalam rantai Dewan Revolusi.

Sehingga, kala Kolonel Katamso pergi dan meninggalkan Yogjakarta membuat Mayor Mulyono dan anggota lainnya lebih leluasa untuk bergerak dan menjalankan sebuah rencana.

Kala itu, ada upaca ambil alih kekuasaan di tubuh militer di Yogjakarta. Rencana ini disusun matang oleh bawahannya yang merupakan Kepala Seksi (Kasi) Korem 72/ Pamungkas Mayor Mulyono bertindak sebagai pimpinannya. Kemudian dalam rencananya itu dibantu oleh Mayor Kartawi, Mayor Daenuri, Kapten Kusdibyo, Kapten Wisnuaji, Sertu Alip Toyo, Peltu Sumardi, Pelda Kamil, Praka Anggara, Praka Sudarto, Praka Sugimin, dan lainnya (dalam catatat sejarah Peristiwa Pemberontakan G30S/PKI 1965 di Yogyakarta dan Sekitarnya, 2000).

...Kolonel Katamso Tak sadar akan Hal tersebut,

Setibannya di Yogjakarta sekitar pukul 2 siang, Kolonel Katamso tidak langsung kekantor tapi beliau langsung pulang ke rumah dinasnya yang berlokasi di Jalan Jenderal Sudirman Nomor 48 Yogyakarta. Ternyata, situasi Militer di kantornya sudah di ambil alih oleh bawahannya.

Di tempat kediamannya ini kemudian Kolonel Katamso kembali membuka dan membahas apa yang menjadi hasil pertemuan mereka  dengan Pangdam Diponegoro. Kala itu hadir beberapa staf Korem 72/Pamungkas, juga salah satunya hadir Mayor Kartawi yang sebetulnya adalah bagian dari kelompok pengkhianat tersebut.

Dalam pembahasan itu, terdapat dua hal yang sangat penting yang diperintahkan oleh Pangdam Diponegoro dalam pertemuan di Magelang pagi tadi, yakni

(1) Pangdam sedang berusaha melakukan kontak dengan pusat atau Jakarta, dan 

(2) Pangdam memerintahkan kepada seluruh korem yang berada dalam wewenangnya untuk tetap waspada, tenang, dan jangan mengambil tindakan sendiri-sendiri.

Sebelum kejadian itu, Kolonel Katamso kedatangan tamu dan menerima dua tamu tersebut di dalam rumahnya usai rapat tersebut. Tamu yang datang tersebut adalah Mayor Sutomo (Komandan Batalyon C/Klaten) dan Kapten Rahmat (Kepala Penerangan Korem 72/Pamungkas).

Sore hari, sekitar jam 5 bertepatan dengan 1 Oktober 1965, terlihat sebuah mobil rantis berjenis Jeep Gaz, kemudian mobil tersebut mengarah dan memasuki halaman depan kediaman Kolonel Katamso.

Dibelakangnya terlihat ada kenderaan lain lagi, ternyata kendaraan khas militer itu rupanya tak sendiri. Di mobil truk belakang di penuhi prajurit dengan enjata lengkap.

Kala itu, terlihat ada dua orang yang kemudian bergegas turun dari mobil. Mereka adalah  Peltu Sumardi dan Pelda Kamil.

Nah, kemudian keduanya segera memasuki rumah dan langsung menodongkan senjata ke arah Kolonel Katamso, memintanya untuk ikut dengan mereka (dalam kutipan Taufik Abdullah, dkk., Malam Bencana 1965 dalam Belitan Krisis Nasional, 2012:117).

Saat itu, Kapten Rahmat yang masih berada di rumah Kolonel Katamso berusaha menenangkan situasi, namun beliau justru kena bentak.

Kolonel Katamso tidak ingin kerusuhan terjadi, beliau akhirnya memutuskan untuk ikut dengan para rombongan penodong yang ternyata sudah dikenalnya itu. Begitu juga dengan Kapten Rahmat turut dibawa, namun kemudian dilepaskan.

Selanjutnya, Jeep yang membawa Kolonel Katamso ini bergerak menuju Markas Komando Batalyon di daerah Kentungan beserta dengan rombonga prajurid yang ada di dalam truk tadi. Di Markas ini, kemudian Kolonel Katamso ditahan di ruang Komandan Batalyon.

Katamso akhirnya harus menjadi korban kekisruhan yang terjadi di Angkatan Darat. Semenjak ia diculik dan terbunuh, jenazahnya baru ditemukan pada 21 Oktober 1965.

Kemudian, ia dimakamkan  di Taman Pahlawan Semaki [Kusumanegara] Yogyakarta.

Sebelum dikebumikan, Presiden segera menaikkan pangkatnya menjadi Brigjend Anumerta dan memberi gelar Pahlawan Revolusi kepada Katamso.

0 Response to "Biografi Brigadir Jenderal Katamso Darmokusumo, Sosok Pahlawan Yang Berjuang Hingga Berakhir di Sumur Tua"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel