Tradisi Basiacuong Dalam Masyarakat Adat Limo Koto Kampar, Warisan Seni Lisan dan Sopan Santu

tradisi-basiacuong-kampar
Salah Satu Rumah Adat di Kampar
RiauOnline.id, Tradisi dan Budaya -- Tradisi Basiacuong di Kampar oleh Masyarakat adat Lino Koto Kampar. Masyarakat Limo Koto Kampar merupakan bagian yang tak terpisahkan dari Kabupaten Kampar. Kabupaten Kampar memiliki sejarah panjang daengan Limo Koto ini. Kawasan ini dahulunya adalah bagian dari daerah persekutuan Minangkabau yang kala itu sudag menguasai sebagian wilayah Pulau Sumatera.

Jadi, kala semasa pemerintahan menggunakan sistem adat kenegerian yang dipimpin oleh datuk atau ninik mamak, pemerintahan Kampar dikenal dengan sebutan “Andiko 44” yang termasuk kedalam wilayah pemerintahan Andiko 44 adalah XIII Koto Kampar, VIII Koto Setingkai (Kampar Kiri), daerah Limo Koto (Kuok, Bangkinang, Salo, Airtiris dan Rumbio), X Koto di Tapung ( Tapung Kiri VII dan Tapung Kanan III), III Koto Sibalimbiong (Siabu), Rokan IV Koto dan Pintu Rayo.

...Tradisi Basiacuang Limo Koto?

Nah, disalah satau wilayah yang dikenal dengan sebutan daerah Limo Koto memiliki sebuah tradis yang dikenal dengan istilah Basiacuang. Tradisi ini merupakan sebuah tradisi seni berlisan oleh masyarakat adat Limo Koto Kampar.

Selain menjadi warisan yang bernilai, tradisi Basiacuang ini memiliki nilai melatih terampil dalam berbicara, menjunjung tinggi budaya sopan santun, sebuah penyampaian nasehat serta sebagai bentuk silaturahmi dalam kehidupan sehari-hari dalam masyarakat Limo Koto Kampar.

...Momen basiacuong dalam masyarakat Limo Koto Kampar?

Nah, saat ini dalam masyarakat adat Limo Koto kegiatan Basiacuong ini dilaksanakan dalam sebuah upacara adat seperti penobatan pemangku adat ataupun acara bakampuong serta upacara-upacara adat seperti dalam prosesi perkawinan, keduri, pemberian nama anak, khitanan, pergaulan hidup dan lain sebagainya.

Dalam Prosesi Basiacuong ini dilaksanakan sesuai dengan upacara yang ada dan berpedoman kepada ketentuan adat yang mengatur tata cara basiacuong serta mempergunakan ungkapan kata- kata siacuong.

Mereka yang akan melakukan penuturan kata siacuong dalam acara adat adalah para ninik mamak dari setiap persukuan yang ada.

Sedangkan acara adat seperti kenduri atau khitan maka penuturnya boleh berasal dari kalangan mereka yang terampil dalam basiacuong yang sudah dipersiapkan pada masing-masing kelompok yang ada.

Namun sangat disayangkan jika hal ini terjadi sebuah kemunduran dalam pelestarian tradisi ini. Hal ini dikarenakan generasi muda yang kirang tertarik untuk mempelajari tradisi Basiacuong ini. Pengaruh dari terus berkembangnya zaman serta era digital terus mengikis adat dan tradisi yang ada.

Sebenarnya, tradisi ini merupakan hal yang sudah turun temurun mereka lakukan dan merupakan sebuah warisan leluhur nenek moyang mereka di zaman dahulu.

Jika didefisini kan maka kata 'Siacuong' berasal dari kata sanjung menyanjung dari satu pihak ke pihak lain yang biasanya diwakili oleh  ninik mamak dari suatu suku yang berbincang atau mereka yang karena kedudukannya diberi kesempatan untuk berbicara.

Biasanya basiacuong dilaksanakan pada acara lamaran atau proses peminangan, peresmian  pernikahan  dengan tata cara sebagai berikut:

1.    Ninik mamak dari pihak calon pengantin laki-laki bertanya kepada orang limbago pengantin perempuan mengenai kepada siapa dia memulai basiacuong tersebut.

2.    Nah, setelah itu, orang limbago akan menjawab  pertanyaan tersebut, maka ninik mamak pengantin laki-laki akan memulai basiacuong dalam rangka penyerahan tepak, yang disebut dengan basiacuong ulur tepak.

3.    Setelah acara prosesi penyerahan tepak selesai, maka acara akan dilanjutkan berikutnya adalah kegiatan makan bersama yang didahului oleh basiacuong oleh orang limbago.

4.    Setelah beberapa rangkaian kegiatan diatas maka dilanjtukan dengan penyerahan kemenakan (pengantin laki-laki) kepada ninik mamak pihak perempuan.

5.    Setelah penyerahan tersebut maka Ninik Mamak laki-laki akan kembali menanyakan tentang tanda peminangan kepada Ninik Mamak pihak perempuan yang disebut dengan membalikkan tanda.

6.    Pada penghujung acara peminangan ini maka mereka akan pamit meninggalkan tempat acara dan pulang  ke rumah masing- masing oleh pihak ninik mamak pihak laki-laki dengan basiacuong.

Nah, isilah salah satu dari sekian tradisi dan ada yang ada di Adat Kampar, Riau. Selain pada prosesi diatas acara basiacuong juga dapat dilaksanakan pada acara khitanan, penobatatan ninik mamak, Acara kenduri dalam berbagai bentuk yang dilaksanakan.

Sangat menarik untuk ditelusuri lebih lanjut. Tradisi Basiacuong merupakan bagian dari kekayaan tradisi dan budaya Indonesia dan kita patut berbangga atas ini semua.

0 Response to "Tradisi Basiacuong Dalam Masyarakat Adat Limo Koto Kampar, Warisan Seni Lisan dan Sopan Santu"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel