Menjelajah Suku Laut Kepulauan Riau: Hidup di Laut dan Berkawan Dengan Alam Bebas di Lautan

suku-laut-kepulauan-riau

RiauOnline.id
– Provinsi Kepulauan Riau merupakan provinsi pecahan dari Provinsi Riau. Kala itu kawasan ini masih masuk dalam daerah administratif Provinsi Riau atau orang sering menyebut dengan istilah Riau Daratan.

Karena jarak dari hampir dari keseluruhan daerah kepulauan ini cukup jauh untuk mengakses ibu kota provinsi maka di usul lah untuk membentuk sebuah Provinsi baru, dan provinsi tersebut bernama Provinsi Kepulauan Riau dengan kota sentral Tanjung Pinang dan Batam.

Keadaan geografi dari Kepulauan Riau ini hampir mencapai 90 persen daerahnya sebagai gugusan pulau-pulau. Provinsi Kepulauan Riau juga sering di singkat namanya menjadi Kepri.

Di wilayah yang ada di Provinsi Kepri, terdapat salah satu suku yang cukup unik, suku ini dikenal dengan sebutan suku laut. Suku laut ini seringkali ditemukan di sejumlah daerah pulau-pulau dan muara sungai yang ada di beberapa kawasan Kepulauan Riau-Lingga, wilayah Pulau Tujuh, Kepulauan Batam, serta beberapa daerah pesisir serta pulau-pulau di area lepas pantai Sumatera Timur serta Semenanjung Malaya pada kawasan bagian selatan.

Sejarah Singkat Suku Laut di Provinsi Kepulauan Riau




Dalam sebuah naskah yang tercatat dalam catatan Kamaruddin, diungkapkan bahwa keberadaan dan aktivitas suku laut ini sudah ada dan menghuni wilayah pesisir Batam semenjak tahun 231 Masehi. Kala itu, tepat pada tahun 1300 Masehi, Batam berada dalam dominasi dan penguasaan Kerajaan Melayu.

…Nah,

Ketika sejarah masuk dalam periode ini, ada situasi di mana masyarakat suku laut menjadi benteng pertahanan kerajaan tersebut.

Suku laut di area Kepulauan Riau mendiami kawasan-kawasan Republik Indonesia yang berbatasan dengan Singapura, Malaysia dan Vietnam. Atau tepatnya berada pada 4º15-0º48’LS dan 103º10’BT - 109º00’BT. Lokasi ini adalah jalur laut yang strategis dan ramai serta kawasan ini merupakan jalur pelayaran internasional yang lumayan padat dan sibuk oleh aktivitas perdagangan dari berbagai negara.

…Mengapa dikatakan Suku Laut?

Sebutan suku laut ini berasal dari kehidupan mereka didominasi oleh aktivitas dilautan atau diperairan. Jadi, suku  ini menjadikan sampan atau perahu sebagai rumah tempat mereka bermukim. Nah, perahu atau sampan yang menjadi tempat tinggal mereka ini disebut kajang yang lebar.

Cukup sederhana, perahu ini hanya terbuat dari bahan kayu berukuran 1,5 x 5 meter atau lebih kurang besarnya dari ukuran tersebut. Semua aktivitas mereka dilakukan didalam perahu ini. Misalnya masak, mencuci, tidur dan aktivitas-aktivitas lainnya.

Dan uniknya lagi, mereka ini lebih sering melakukan pernikahan dengan kalangan sesama suku mereka.

Jelas mata pencaharian mereka adalah sebagai nelayan. Momen mereka naik ke darat adalah saat mereka membawa hasil tangkapan melaut yang dijual ke daratan dan kemudian membeli segala kebutuhan mereka dari hasil jualan ikan tersebut. Setelah itu mereka kembali ke tempat tinggal mereka di perahu tersebut.

Terkadang, sistem lama seperti barter masih berlaku pada masyarakat suku laut tersebut ketikan melakukan transaksi jual beli. Sebenarnya, kehidupan suku laut ini masih berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat yang lainnya. Tergantung dari situasi dan kondisi alam saat itu.

Mereka mengarungi lautan tanpa memahami batas teritorial sebuah daerah, sampai-sampai tak heran andai mereka tidak jarang berada di wilayah yang berbeda.

Keadaan fisik orang suku laut paling tangkas dan sigap dalam menghadapi gangguan yang ada di laut. Misalnya ketika badai datang, gelombang besar, angina ribut atau pun persoalan lainnya.

Bgitu juga dengan kehidupan anak-anak mereka yang telah mereka didik untuk menjadi Pelaut yang handal. Mereka sejak umur masih kecil sudah terbiasa aktivitas bersama orang tua mereka di laut dan menangkap ikan yang untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka.

...Misalnya, 

suku-laut-kepulauan-riau

Ketika sang anak masih berusia 12 tahun maka sang anak sudah diajarkan bagaimana menombak ikan dari jarak sekitar 10 meter.

Kisah Suku Laut menjadi sedikit tragis kala di zaman yang sudah serba teknologi ini mereka harus bertahan hidup dengan segala keterbatasan dan bergantung pada alam bebas.

Bayangkan aja ketika masuk kapal-kapal besar dengan segala teknologi yang dimilikinya dan menangkap ikan dikawasan-kawasan yang ada di Kepri ini. Kapal-kapal besar ini melakukan penangkapan ikan tanpa harus takut dengan situsi gelombang dan angin yang besar, mereka aman-aman saja.

Sedangkan mereka yang berasal dari Suku Laut ini harus berjuang keras menerpa badai dan angina dengan menggunakan alat seadanya. Kondisi ini mungkin menjadi hal tersulit dalam kehidupan mereka.
Suku Laut Menurut Sumber Kerajaan Johor dan Majapahit

Pada zaman Kerajaan Johor dan Kerajaan Majapahit sudah menyebutkan istilah ‘orang laut’ yang kemudian banyak yang diangkat menjadi bagian dari kerajaan meskipun tugas mereka berada di laut.

Menurut beberapa sumber lainnya menyebutkan keberadaan Orang Laut sudah muncul antara tahun 500-800 M da nada juga yang menyebutkan sekitar tahun 231 Masehi sudah mulai ada dan menetap di kawasan yang dulunya menjadi daerah kekuasaan Kerajaan Johor dan Kerajaan Lingga.

Mereka yang hidpu dilaut ini sebenarnya sudah mulai mengenal perdagangan maritim dengan menjual kepada hasil tangkapan mereka kepada para pedagang-pedagang asing berupa tripang, mutiara, kerang, sagu, dan kulit kayu bakau.

Kala itu masih menggunakan system barter hasil tangkapan dengan barang-barang kebutuhan hidup Suku Luat ini. Dengan cara inilah mereka memenuhi kebutuhan hidup mereka.

Menurut sebuah laporan Suma Oriental, Tome Pires menjelaskan bahwa keberadaan Orang Laut hidup dari menangkap ikan dilaut, berburu dan berdagang. Nah, Selain itu, mereka juga ikut berperang dalam agenda membantu pangeran dari Palembang (Parameswara) menyebrang ke Tumasek, Muar dan akhirnya membangun kerajaan di Malaka.

Sementara di Kepulauan Riau, Orang Laut dikenal sebagai orang Suku Laut. Mereka seperti Orang Suku Tambus, Orang Suku Galang, Orang Suku Bulang, Orang Suku Bintan, dan Orang Suku Mepar (Lingga).

“Orang laut dikenal sebagai rakyat laut. Penduduk dari suatu kerajaan, mungkin dulu Kerajaan Riau Johor,”

Sedangkan penuturan seorang Sejarawan Universitas of Hawaii, Leonard Andaya dalam Kingdom of Johor menyebutkan Sultan Johor sebelum abad 18 M mengerahkan 5.500 pasukan yang direkrut dari orang Suku Laut. Mereka bahkan diperkuat dengan 233 kapal perang yang dipersenjatai meriam dan senapan.

Selanjutnya untuk membantu Kerajaan dalam ikut memajukan perekonomian maka  kapal-kapal orang Suku Laut itu bertugas mengamankan jalur pelayaran. Mereka menyerang dan menghancurkan kapal-kapal dagang yang berdagang dengan pesaing Johor. Dan kewajiban mereka adalah melindungi kapal-kapal yang berniaga dengan Sultan Johor.

Begitu juga halnya kala Kerajaan Sriwijaya berkuasa dan berekspansi memperluas daerah kekuasaan maka mereka juga telah dijadikan prajurit laut oleh pihak kerajaa. Jadi, kala itu mereka dipimpin oleh seseorang yang bergelar datuk.

Namun, belum ada kepastian sejarah yang mengungkapkan apakan mereka Suku Laut yang ada saat ini merupakan nenerasi penerus dari Suku Laut yang disebutkan kala itu. Namun, jika dilihat dari tutur sejarah dan bukti-bukti dari apa yang disebutkan oleh para sejarawan maka besar kemungkinan mereka adalah leluhur suku laut yang ada saat ini.

Kondisi Pendidikan Anak-anak Suku Laut di Provinsi Kepulauan Riau


Suku Laut Kepulauan Riau

Karena banyak menghabiskan waktu membuat anak-anak dari Suku Laut ini jarang yang mengenyam pendidikan hingga ke tinggat lanjut, bagi mereka tidak bersekolah hingga SMA atau perguruan tinggi adalah hal yang biasa-biasa saja

Menurut survey pada tahun 2010, anak-anak Suku Laut ini nyaris 90% tak melanjutkan pendidikan, kadang mereka hanya sekolah hingga sekolah dasar saja. Untuk melanjutkan hingga SMA sangat kecil kemungkinan mereka melanjutkannya. Mereka lebih memilih untuk membantu orang tua mereka menangkap ikan di laut.

Kondisi seperti ini sudah menjadi hal yang lazim dikalangan suku laut yang ada dibeberapa daerah di Kepulauan Riau. Laut adalah sahabat sejati mereka dan alam bebas adalah kehidupan mereka.

Bahasa yang Digunakan Suku Laut di Kepulauan Riau


Sebagaian besar wilayah di Provinsi Kepulauan Riau menggunakan bahasa Melayu sebagai bahasa untuk berkomunikasi mereka. Begitu juga pada Suku Laut ini, bahasa yang mereka gunakan juga hamper sama persis dengan bahasa Melayu yang biasa digunakan oleh masyarakat local yang ada di Kepulauan Riau.

Hanya saja terdapat sedikit perbedaan pada dialek pada bahasa yang digunakan Suku Laut bila dibangdingkan dengan Bahasa Melayu yang digunakan oleh kebanyakan orang yang ada di Kepulauan Riau ini.

Kebiasaan mereka yang terus berkelana dilautan maka suku ini juga disebut sebagai ‘Kelana Laut’, mereka hanya akan naik kedarat untuk kepentingan menjual hasil tangkapan dan membeli segala kebutuhan hidup mereka selama melaut.

Sebutan lain Suku Laut yang ada di Beberapa kawasan Provinsi Kepulauan Riau




Jadi sebutan Suku Laut ini sendiri sebenarnya dating dari orang-orang luar yang menyebutnya, hal ini dikarenakan hampur semua aktivitas mereka dilakukan dilaut sehingga mereka menyebutnya dengan nama Suku Laut.


Sebenarnya suku laut itu sendiri menyebut diri mereka mereka dengan beberapa sebutan sesuai dengan kelompok dan dikawasan mana suku laut ini berada, misalnya:

1. Orang Laut atau Suku Laut yang ada di dekat sekitaran Pulau Pancur dan Lingga mengungkapkan diri mereka sebagai suku bangsa Barok.

2. Orang Laut atau Suku Laut yang ada di dekat sekitaran Pulau Batam, Bintan, Mantang dan kawasan Kelong menyebut diri mereka sebagai suku bangsa Mantang.

3. Dan Orang Laut yang berada disekitara perairan Pulau Mapur, Kelong dan pun Toi menamakan diri sebagai suku bangsa Mapur

Agama dan Kepercayaan Suku Laut di Kepulauan Riau

Kala kerajaan Malaka dan Johor serta Lingga masih Berjaya maka dominan dari masyatakat yang ada dalam pengaruh kerajaan ini memeluk agama Islam, kepercayaan ini sesuai dengan ajaran yang berkembang di kerajaan yang berkuasa kala itu.

Namun, dalam melaksanakan ibadah maka suku laut ini cenderung menganut keyakinan animisme.

Dan sekarang, sebagian dari suku laut yang terdapat di se putaran Kepulauan Riau berkeyakinan dan beragama Kristen. Hal ini diperlihatkan dengan pembangunan gereja GPIB di Pulau Boyan.

Tradisi dan Budaya Unik Suku Laut dalam Mencari Pasangan Hidup


Suku Laut Kepulauan Riau

Ada hal menarik lainnya yang menjadi adat dan tradisi dikalangan Suku Lut ini. Mereka memiliki sebuah permainan yang sangat khas dan menjadi tradisi orang suku laut untuk mencari pasangan hidup.

1. Ketika seorang pria ingin mencari jodoh para wanita suku laut akan melakukan sebuah perlombaan sampan atau perahu dengan si calon pria pasangannya tersebut. Nah, jika si calon pria kalah dalam perlombaan dari si wanita maka pria tersebut gagal meninangnya.


2. Selain itu, ada lagi permainan lainnya yaitu pukul bantal. Permainan Pukul bantal ini merupakan sebuah permainan dimana sang wanita harus  menghindar dari pukulan bantal dari calon sang pria yang ditentukan 3 kali kesempatan bagi wanita untuk terkena pukulan.

Suku Laut yang ada di Pulau Bintan, Kepulauan Riau


Dikawasan Bintan juga terdapat Suku Laut, mereka hidup di salah satu desa di kawasan Kecamatan Bintan Pesisir, Pulau Bintan. Tak banyak, di prediksi sekitaran 40 hingga 50 kepala keluarga.

Sebenarnya Pemerintah setempat sudah memberikan bantuan pembangunan pemukiman yang dikhususkan untuk Suku Laut ini. Meski pun demikian, mereka lebih tetap memilih untuk lebih banyak aktivitas di lautan sebagai kegiatan utama mereka.

Pemerintah tetap mengupayakan agar mereka ini menetap di permukiman yang diberi oleh pemerintah, messkipun mereka harus melaut namun diharapkan hanya pada aktivitas mencari ikan saja dan tidak menetap dengan anak istri di waktu yang lama di lautan.

Ini merupakan upaya pemerintah untuk memperbaiki generasi Suku Laut dan kondisi ekonomi mereka. Namun, hal ini mungkin agak sulit terealisasi mengingat Suku ini memang lebih merasa nyaman di laut.

Beberapa Permasalahan Suku Laut di Kabupaten Lingga


Meski kehidupan mereka terbiasa di lautan buka berarti Suku Laut tidak membutuhkan Air Bersih, tidak membutuhkan sekolah dan kebutuhan-kebutuhan lainnya.

Sebenarnya kehidupan mereka di lautan sangatlah memprihatinkan, banyak anak-anak mereka yang tidak dapat mengeyam pendidikan layaknya anak seusia mereka. Kalangan mereka menjadi kelompok yang tertinggal dali perubahan zaman.

a. Ketika Ari Bersih Menjadi Permasalahan Mereka

bayangkan aja bagaimana mereka akan mendapatkan suplai air bersih ketika sebagian besar kehidupan mereka di laut. Meski pun mereka naik ke darat maka stok air bersih yang mereka bawa hanya sebatas untuk kebutuhan masak dan minum. Lalu untuk sanitasi dan kebutuhan mandi seperti apa?

Seperti yang ada di Dusun Linau Batu, disana tersedia hanya satu sumur yang kemudian dijadikan sumber mata air bagi suku Laut ini.

b. Ketika melaut menjadi satu-satunya keterampilan yang dimiliki

Keputusan untuk tetap menetap dilaut bukanlah pilihan hidup mereka yang sebenarnya. Hanya saja keterbatasa keterampilan yang mereka miliki. Bayangkan aja, jenjang pendidikan yang mereka tempuh hanya sebatas SD, itupun terkadang hanya sampai kelas 2 atau 3 dan kembali lagi ke laut.

c. Rendahnya Tingkat Pendidikan dan Buta Huruf


Sebelumnya sudah diungkapkan jenjang pendidikan yang di tempuh Suku Laut ini. Mereke lebih memilih untuk tetap melaut dan ikut membantu orang tua mereka ketimbang harus melanjutkan ke jenjang pendidikan selajutnya.

Selain karena keterbatas ekonomi, buta huruf juga menjadi persoalan mereka Suku Laut ini. Mayoritas  diantara  mereka  tidak  bisa  membaca  dan  menulis,  pun  begitu  dengan kesempatan  memperoleh  pendidikan  yang  sangat  jarang.

Namun, beberapa waktu terakhir ini pemerintah mulai gencar untuk memberikan perhatian terhadap pendidikan Suku Laut ini. Hingga perumahan pun disediakan pemerintah agar mereka mau bermukim di daratan mesikipun harus tetap melaut.

0 Response to "Menjelajah Suku Laut Kepulauan Riau: Hidup di Laut dan Berkawan Dengan Alam Bebas di Lautan"

Post a comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel