Mengenal Tradisi Badondong Kampar, Sastra Lisan yang Lahir Dari Rasa Kebersamaan Masyarakat di Kampar, Provinsi Riau

Salah Satu Objek Wisata Sejarah

RiauOnline.id
, Tradisi dan Budaya -- Ada Satu tradisi unik dari Kabupaten Kampar yang sedikit menarik perhatian kita. Trasisi ini sering disebut oleh masyarakat Kampar dengan istilah Badondong. Sebuah Tradisi budaya yang terlahir dari sebuah keakraban dan kebersamaan di kalangan masyarakat Kampar, Riau.

...Oh ya,

Sedikit saya ingin berbagi informasi umum seputar Kabupaten Kampar terlebih dahulu, agar apa yang saya jelaskan dapat terbayangkan Kampar itu dimana dan masuk kawasan mana. Benar nggak?

Jadi, Kabupaten Kampar merupakan salah satu kabupaten yang ada di Provinsi Riau. Kabupaten ini memiliki sebutan atau julukan Bumi Sarimadu. Pusat kota Kabupaten Kampar terletak di salah satu kotanya yang dikenal dengan nama Bangkinang. Jadi, Wilayah dari Kabupaten Kampar memiliki pembagian daerah menjadi 21 kecamatan, 8 kelurahan dan 242 Desa. Secara administratif, Kampar memiliki Luas wilayahnya mencapai 10.983,47 km² dan jumlah penduduk menurut sensus pada tahun 2017 adalah berjumlah 740.839 jiwa (2017) dengan sebaran 67 jiwa/km².

...Back to our topic,

Jadi, Tradisi Baondong ini berasal dari daerah yang saya sebutkan tadi, Kampar. Kala itu, tradisi yang disebut dengan Badondong ini merupakan sebuah tradisi yang dihasilkan kebiasaan masyarakat Kampar dari sebuah kebersamaan mereka beraktifitas. Mengingat kala itu masyarakat Kampar memiliki banyak masyarakat yang beraktifikasi di ladang sebagai petani.

Kebersamaa ini kemudian menimbulkan semangat untuk melakukan sesuatu secara bersama atau bergotong royong atau kebersamaan saling tolong menolong dalam bertani. Selain bertani, kebersamaan ini juga terlihat pada aktivitas lainnya kala itu. Misalnya saat mereka masuk ke hutan untuk mencari kayu, menanam atau menuai padi dan bahkan saat mereka ke kebun karet.

Nah, kala mereka bersama canda dan kegembiraan atas kebersamaan itu kemudian saling berbalas pantun untuk menghangatkan suasana yang begitu melelahkan. Seiring waktu berjalan, ber pantun yang semulanya hanya untuk bercanda ria ini menjadi sebuah kebiasaan yang secara tidak sengaja kemudian menjadi tradisi dan kebiasaan mereka.

...Pada generasi selanjutnya,

Tradisi dan kebudayaan Badondong ini kemudian turun temurun tetap dilakukan oleh generasi berikutnya. Kemudian timbul sebuah kesepakatan secara konvensional bahwa tradisi Badondong ini menjadi tradisi warisan leluhur mereka.

Jika melihat dari sejarahnya, maka ada banyak value yang terkandung di dalam  Tradisi Badondong ini. Di lihat dari asal usulnya maka akan merujuk pada sebuah kebersamaan dan gotong royong dalah hal kebaikan.

Tradisi yang lahir atas dasar dan nilai-nilai positif ini sudah sewajarnya dicatat dan menjadi warisan tradisi yang terus dijaga dan dilestarikan oleh generasi berikutnya mengingat nilai yang terkandung di dalamnya sangat baik.

Ada nilai Karakter yang harus diambil didalam Tradisi Badondong ini, Seperti yang terdapat didalam pantun berikut ini:

Matilah lintah dipaluik lumuik cu 
Di tongah-tongah cu kosiok badoai oo hoi 
Apo perintah kan den tuwuik yo cu A
salkan jan kasiohkan bacoai oo hai Onde cu 

(Jika dimaknakan maka akan menjadi, Matilah lintah di palut lumut ya bang Di tengah-tengah bang pasir berderai Apa perintah akan saya turuti ya bang Asalkan jangan kasihkan bercerai oo hai Aduh bang)

Sedangkan dalam formasi bentuk pantun tersebut sama seperti pantun pada lazimnya.  Terdiri dari empat baris, pada baris pertama dan kedua sebagai sampiran dan baris ketiga serta keempat sebagai isi.

Jika dibuat pola maka polanya adalah a,b;a,b. Perbedaan pantun badondong dengan pantun biasa ialah adanya sisipan kata atau bunyi seperti onde diok (aduh dik), onde cu (aduh bang), oo cu (oh bang), diok (adik).

Inilah sekilas tentang sebuah tradisi dan budaya yang ada di Kabupaten Kampar, Provinsi Riau. Menjadi sebuah tradisi yang sangat baik dan bernilai positif jika hal tersebut terus dilestarikan sebagai bentuk penghargaan kita terhadap leluhur dan sebagai bentuk kebanggan kita terhadap sebuah kekayaan akan tradis dan kebudayaan.

0 Response to "Mengenal Tradisi Badondong Kampar, Sastra Lisan yang Lahir Dari Rasa Kebersamaan Masyarakat di Kampar, Provinsi Riau"

Post a comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel