Ketika Islam Mulai Masuk dan Berkembang di Pulau Lombok, Seperti Apa Kondisinya?

Ketika Islam Mulai Masuk dan Berkembang di Pulau Lombok, Seperti Apa Kondisinya?

Admin
Friday, 22 November 2019

sejarah-awal-masuk-islam-di-lombok

RiauOnline.id – Jika melihat kondisi dan aktifitas keberagamaan di Pulau Lombok saat ini maka kita pantas meberikan acungan jempol. Julukan ‘Pulau Seribu Masjid’ sangat tepat disematkan terhadap Pulau Lombok yang mayoritas masyarakatnya beragama Islam.

Jika saya bisa memberi gelar terhadap Pulau Lombok maka selain Pulau Seribu Masjid maka kata yang akan saya berikan adakah:

“Pulau Seribu Pesantren…”

“Pulau Seribu Tuan Guru…”

“Pancor Kota Santri…”

Dan masih banyak kalimat lainnya yang pantas kita gelari untuk Pulau Mungil bernama Lombok ini.
Melihat aktifitas seperti ini menggugah rasa kepenasaran saya terhadap system dan kronologi awal ketika Islam mulai masuk dan berkembang di Lombok.

Jauh dimasa lampau, ketika Kerajaan Majapahit memegang kendali kekuasaan nusantara, Pulau Lombok adalah salah satu yang masuk dalam wilayah kekuasaannya. Secara otomatis Hindu menjadi ajaran yang paling berkembang dengan pesat di Pulau Lombok.

Pertanyaannya…

Mengapa Islam menjadi Agama mayoritas di Pulau Lombok saat ini?

Mengapa ada seribu Masjid di Gumi Sasak ini?

Mengapa? Mengapa? Dan Mengapa? Kamu penasaran…

....Sama, saya juga penasaran…

Jika ingin mengulas lebih dalam tentang sejarah ini maka kita harus flashback kea bad 13 Masehi. Kala itu Lombok sempat menjadi salah satu sentral dan lalu lintas strategis perdagangan Nusantara.

Labuhan Lombok menjadi tempat paling banyak dikunjungi oleh para pedagang yang berdatangan dari luar Pulau Lombok, seperti dari Jawa, Palembang, Banten, Gresik dan Sulawesi.

Abad ini menjadi awal mula dimulainya Ajaran Islam masuk ke Pulau Lombok. Para pendatang yang berdagang ini tak hanya berdagang semata mereka mulai berbaur dan menyatu dengan masyarakat Sasak yang ada di Pulau Lombok.

Sifat suku Sasak yang bisa menerima kedatangan orang baru membuat mereka para pedagang yang dating dari luar Pulau Lombok merasa nyaman dan bahkan sebagian dari mereka mulai menetap dan bahkan ada kelompok yang mendirikan rumah-rumah yang kemudian menjadi sebuah perkampungan.

Benar adanya…!

Tak ayal semata, ada bukti konkrit yang menjadi bukti bahwa mereka pernah menetap dan mendirikan perkampungan di Pulau Lombok kususnya dikawasan pesisir. Hal itu terlihat dari bekas-bekasnya seperti perkampungan Bugis yang ada di Labuhan Lombok.

Pada abad selanjutnya, Pulau Lombok dan Pulau Bali sudah memulai secara konvensional memproduksi dan melakukan perdagangan sarung yang kemudian di angkut melalui armada laut yang berasal dari Gresik.

Perkembangan abad ke 14 ini memang berkembang sangat pesat. Para pedagang melakukan pelayaran dan berdagang di sepanjang pantai Jawa bagian utara, Selat Madura, Pulau Lombok pada bagian Timur, pulau-pulau sunda kecil hingga menyisir sampai ke Maluku.

Mereka-mereka yang berdagang ini adalah mayoritas seorang muslim.

Dalam melakukan perdagangan ini, mereka juga selalu membawa kitab-kita dan kesusasteraan yang bernafaskan Islam. Misalnya karangan Roman Yusuf dan Serat Menak. Selain itu juga ada yang membawa Kitab Suci Agama Islam, Al-Qur’an.

Pada awalnya tujuan membawa ini bukanlah untuk disebarkan melainkan untuk dipakai sebagai konsumsi pribadi masing-masing.

Mereka mengaji ditempat-tempat dimana mereka berdagang.

Lho, kalau kalau hanya untuk penggunaan pribadi bagaimana bisa tersebar?

Yang perlu kita ketahui bahwa interaksi social yang dilakukan oleh para pedagang ini sangat baik. Mereka berbaur dengan masyarakat sasak dengan adab dan perilaku yang membuat kelompok masyarakat local dengan mudah dapat menerima keberadaan mereka.

Terjadi Inkultrasi budaya dan agama….

Kala seseorang sudah memiliki suatu keyakinan maka akan sangat sulit untuk menerima keyakinan baru diluar kontek dari yang diyakininya.

Hal seperti ini pun terjadi diawal masuknya Agama Islam kedalam lingkup yang sudah berkembang ajaran Hindu.

Namun ada yang berbeda dengan apa yang terjadi di Pulau Lombok ini, hubungan intens yang baik menimbulkan satu rasa saling menghormati dan menghargai. Secara perlahan mulailah terjadi inkutrasi budaya dan agama didalam masyarakat. Mana hal yang mereka anggap sesuai dan baik selalu dapat mereka terima dan hal yang mereka anggap tidak cocok dan bertantangan dengan kebiasaan mereka ditinggalkan.

Seperti ini yang terjadi kala itu….

Perniagaan dan adab baik yang dibawa para pedagang muslim menempatkan mereka pada posisi yang dapat diterima dengan baik oleh masyarakat Sasak Lombok yang saat itu beragama Hindu.
Maksud awal yang hanya berniaga atau berdagang dilanjutkan dengan menyebarkan Islam kepada masyarakat di Pulau Lombok yang mulai dapat menerima keberadaan mereka.

Namun selanjutnya, penyebaran agama Islam semakin intens dilakukan. Sesuai dengan apa yang termuat dalam babad Lombok yang mengungkapkan bahwa Sunan Ratu Giri memerintahkan raja-raja Jawa Timur dan Palembang untuk menyebarkan Islam ke Indonesia bagian utara.

Tugas mereka khusus sebagai penyebar Agama Islam. Para Raja menginginkan agar agama Islam tersebar secara luas.

Adapaun mereka yang dikirim adalah Lembok Mangkurat yang lengkap dengan pasukannya dikirim ke Banjar, Datu Bandan dikirim ke Selayar, Makassar, Tidore dan Seram; Pangeran Perapen mengirim anak laki-lakinya untuk berlayar untuk mengajar dan menyiarkan Islam ke wilayah Bali, Lombok dan Sumbawa.

Misi Pangeran Prapen…

Menurut penuturan sejarah, Pangeran Prapen mulai masuk dan mendarat ke Lombok dengan menggunakan kapal.

Nah, disini ada dua pendapat sejarah. Pendapat pertama, ada yang mengatakan bahwa ketika Pangeran Prapen dating ke Gumi Sasak Lombok langsung diterima oleh raja Lombok dan dikatakan bahwa sang raja saat itu dengan sukarela menerima dan memeluk agam Islam.

Sedangkan pendapat kedua, disebutkan bahwa awal mula raja Lombok menolak untuk memeluk Agama Islam.

Nanum, dengan kelembutan Pangeran Prapen menjelaskan apa yang menjadi maksud kedatangannya dengan menyampaikan misi suci yang sedang diembannya secara bijaksana yang pada akhirnya beliau dapat diterima dengan baik oleh sang raja.

Perkembangan lebih lanjut terjadi pergolakan dikalangan bawah, mereka menolak kedatangan Agama Islam dengan menghasut raja mereka agar supaya menantang Pangeran Prapen karena mereka menganggap ajaran yang dibawa tersebut bertantangan dengan apa yang telah menjadi kebiasaan adat Suku Sasak saat itu.

Peperangan terjadi, Rakyat Lombok melawan, pertempuran darah dimulai! 

Saat itu rakyat Lombok menghasut raja mereka, hasutan ini membuat sang Raja mulai ingkar janji. Kemudian sang raja mempersiapkan pasukan untuk mengempur Pangeran Prapen dan rombongannya.

Namun akhirnya berakhir malang, raja mengalami kekalahan hingga terdesak dan melarikan diri. Pelarian tersebut tak berhasil sang raja berhasil di tangkap dan dibawa menghadap ke Pangeran Prapen.

Diluar dugaan sang raja, Pangeran Prapen mengampuni kesalahan yang telah dilakukan sang raja atas penyerangan dan ingkar janjinya.

Ucapan dua kalimat shahadat dipersembahkan sang raja sebagai bentuk diterimanya dengan sepenuh hati agama Islam dan sebagai bentuk pengIslamannya.

Setelah sang raja masuk Islam kemudian diikuti oleh rakyat Lombok mengucapkan dua kalimat shahadat dan di khitan, namun pada saat itu syahbandar Lombok meminta untuk menunda khitan terhadap kaum wanita.

Ini adalah apa yang mereka sebut dengan ‘Perjalanan Suci’ Sunan Prapen

Perjalanan tersebut tak sampai disitu, beliau melanjutkan menyebarkan ajaran Islam kepada kedatuan-kedatuan lainnya yang ada di Pulau Lombok. Misalnya: Kedatuan Pejanggik, Langko, Parwa, Sarwadadi, Bayan, Sokong dan Sasak (Lombok Utara).

Hal yang membuktikan ini benar-benar terjadi adalah peninggalan arkeologis seperti masjid-masjid tua yang ada di Lombok, beberapa makam kuno dan lain sebagainnya. Penyebaran Islam di kedatuan Lombok tidak semuanya berjalan dengan mulus, ada yang dengan sukarela menerima ajaran Islam dan ada juga memeluk agama Islam setelah kalah dalam peperangan melawan rombongan sunan prapen.

Megapa penyebaran Islam di Lombok berlangsung cepat ?

Penyebaran agama Islam di Pulau Lombok memang masuk katagori cepat dan pesat. Cara demokratis dan damai yang dilakukan oleh sunan Prapen membuat masyarakat Sasak dengan mudah menerima segala kebenaran yang diajarkan dalam Islam.

Jalur damai menjadikan mereka sadar bahwa Islam adalah ajaran yang penuh dengan kedamaian. Sesuai dengan apa yang mereka anggap benar menjadikan masyarakat Sasak secara berbondong memeluk Islam.

Secara detail, berikut ini beberapa factor yang menyebabkan Islam dapat diterima dan menyebar dengan cepat di Pulau Lombok:

Pertama, agama Islam dianggap demokratis.

Kedua, ajaran Islam bukan merupakan ajaran yang asing lagi karena sudah lebih dahulu bercampur dengan anasir India.

Ketiga, Penyebarannya berjalan secara damai karena melalui perdagangan dan perkawinan.

Keempat, karena terjadinya kekosongan pegangan rohani rakyat akibat kemunduran Majapahit.

Kelima, karena intensi kegiatan para guru agama, ulama dan wali yang dianggap memberi manfaat yang nyata bagi kehidupan masyarakat.

Tak banyak informasi selanjutnya yang beredar tentang aktifitas dan rutinitas secara mendetail ketika Sunan Prapen berada dibeberapa tempat lainnya.

Namun ada satu informasi yang mengungkapkan kembalinya Sang Prapen ke Gumi Sasak Lombok.
Dikatakan bahwa masuknya Sunan Prapen ini melalui Sugian dan memasuki kawasan-kawasan yang belum memeluk Islam.

Tak ayal berjalan mulus, kedatangan sang Sunan masih mendapatkan beragam tantangan dan hambatan dalam penyebaran Islam, kala itu kelompok masyarakat Lombok terpecah menjadi 3 kelompok, yaitu:

  • Kelompok yang melarikan diri dan mengungsi ke gunung-gunung lalu masuk hutan, mereka dikenal sebagai Orang Boda,
  • Kelompok yang takluk dan masuk Islam dikenal sebagai Waktu Lima, 
  • kelompok yang hanya takluk di bawah kekuasaan Sunan Perapen dikenal sebagai penganut Wetu Telu.

Jika sekarang kamu masih melihat beberapa tempat bersejarah yang ada di Lombok Utara merupakan peninggalah yang menjadi bukti penyebaran Islam di Tanah Lombok. Istilah Islam Wetu Telu hingga sekarang masih sering kita dengar ditelinga, khususnya dikawasan Lombok Utara.