Menelusuri Siapa Sunan Prapen Sebenarnya?

Menelusuri Siapa Sunan Prapen Sebenarnya?

Admin
Monday, 25 November 2019

siapa-sunan-prapen-sebenarnya

RiauOnline.id – Nama Sunan Prapen sangat tak terpisahkan dengan keberadaan Islam di kawasan Pulau Lombok.

Jika kamu sedang menggali informasi lainnya, silahkan baca artikel KETIKA ISLAM MULAI MASUK BERKEMBANG DI PULAU LOMBOK, SEPERTI APA SITUASI LOMBOK SAAT ITU? di artikel ini mungkin akan kamu temukan beberapa informasi penting tentang sejarah penyebaran Islam di Gumi Sasak.

Sunan Prapen datang ka Gumi Sasak mengemban tugas atau Misi Suci menyebarkan ajaran Islam. Misi ini atas dasar perintah dari Sunan Giri.

Dalam catatan perjalanannya, Misi Suci ini tak hanya sebatas Pulau Lombok namun terus dilakukan kearah timur yaitu: Sumbawa, Dompu dan Bima.

Siapa Sunan Prapen Sebenarnya?


sejarah-sunan-prapen


...Menarik untuk ditelusuri lebih lanjut,

Menurut beberapa sumber mengatakan bahwa Sunan Prapen merupakan keturunan dari Sunan Giri. Dia sendiri merupakan pemegang tahta keempat yang memerintah Giri Kedaton, yang dalam Babad Gresik disebutkan berkuasa antara tahun 1548 sampai 1605 M.

Jadi kala itu...

Karena Sunan Prapen lah Giri Kedaton tidak hanya dikenal oleh orang sebagai tempat belajar agama namun tempat ini juga menjadi daerah yang mempunyai suatu sistem pemerintahan, kekuasaan dan kekuatan politik yang kuat.

Apa hubunganya dengan keadaan dan peyebaran Islam di Pulau Lombok?


sejarah-sunan-prapen

Dalam beberapa catatan sejarah tercatat nama sunan prapen sebagai orang atau tokoh agama
yang menyebarkan Islam di Tanah Lombok. Jadi fakta seputar nama Sunan Prapen itu tercatat didalam Babad Lombok yang dibukukan Alfons van Der Kraan, dengan judul  “Lombok, Penaklukan, Penjajahan dan Keterbelakangan 1870-1940”.

Selain itu, dikatakan oleh seorang Dosen jurusan Sejarah Ekonomi dari Universitas Murdoch di Perth Australia itu, mengatakan bahwa Susuhunan Ratu Giri (Sunan Giri) di Gresik, Jawa Timur, memerintahkan supaya keyakinan yang baru itu (Islam) dibawa ke pulau-pulau. Sunan Giri menginginkan agar Agama Islam tersebut secara luas ke bagian timur.

Tak hanya Sunan Prapen, yang lainnya seperti Dilembu Mangku Rat dikirim dengan sebuah pasukan bersenjata ke Banjarmasin, Datu Bandan dikirim ke Makassar, Tidore, Seram, dan Galea.

Pengiriman orang-orang ini sebagai bentuk dan pelaksanaan misi suci dari Sunan Giri dalam menyebarkan Ajaran Islam lebih luas lagi.

Sedangkan sang Putra Susuhunan sendiri, Pangeran Prapen dikirm ke kawasan Bali, Lombok dan Sumbawa. Prapen berlayar ke Lombok, dan di Lombok beliau mulai menyebarkan agama Islam dengan berbagai cara.

Mengapa Sunan Prapen mendapat kesulitan dalam menyebarkan Islam di Gumi Sasak ini?


...Sebenarnya sangat sederhana untuk menemukan jawabannya,

Ingatkan pengaruh besar yang sudah ada saat kerajaan Hindu-Budha menguasai hampir seluruh Nusantara ini.

Sebelum tuntas, Sunan Prapen sempat meninggalkan daerah Lombok. Saat ini, para kaum wanita belum sepenuhnya menerima keberadaan Islam yang masuk dan dikenal sebagai ajarah baru. Sesuatu yang wajar jika harus langsung menerima ajaran baru yang datang kala ajaran yang ada saat itu memiliki pengaruh yang sangat besar.

Selain itu, pada saat yang sama pengaruh dari kerajaan Karangasem yang ada di bali sangat kuat dan tangguh, inilah yang menjadi tantangan dan hambatan yang sangat besar kala akan menyebarkan Islam di Pulau Lombok.

Permasalahan ini bukanlah menjadi hal yang menyurutkan tekat Sunan Prapen untuk menghentikan penyebaran Ajaran Islam di Gumi Lombok. Justru sebaliknya, Sunan Prapen kembali lagi ke Pulau Lombok untuk menuntaskan tugas Sucinya itu.

So guys…

“Apa yang kamu lihat dan rasakan sekarang adalah berkat perjuangan orang-orang sebelum kita yang dengan giat menyebarkan Islam”

Perpecahan di Masyarakat Lombok


sunan-prapen-di-lombok

Balik dan kembalinya Sunan Prapen ke Pulau Lombok ini mendapat berbagai tanggapan dari msyarakat Sasak yang ada di Pulau Lombok ini sehingga dalam kelompok masyarakat terjadi perpecahan menjadi tiga kelompok.

Pertama, ada kelompok yang menghidar dan melarikan diri bahkan mereka mengungsi ke gunung-gunung lalu masuk hutan, mereka dikenal sebagai Orang Boda. Apa yang mereka lakukan ini untuk menghindari ajaran yang dibawa oleh Sunan Prapen ini. Pada dasarnya mereka masih berpegang teguh dengan ajaran yang sebelumnya.

Kedua,  ada kelompok yang takluk dalam peperangan dan kemudian mereka masuk Islam. Nah, mereka ini dikenal sebagai Waktu Lima, dan yang ketiga, merupakan kelompok yang hanya takluk di bawah kekuasaan Sunan Perapen dikenal sebagai penganut Wetu Telu.

Kelompok yang ketiga atau wetu telu ini hingga saat ini masih exist di Pulau Lombok bagian utara atau sekarang kita kenal dengan nama KLU atau Kabupaten Lombok Utara.

Menjadi minoritas, kelompok ini ada di kawasan Desa Bayan Lombok Utara. Masjid tua yang menjadi sentra penyebaran islam kuno masih dapat kita jumpai dikawasan ini.

Ekspansi Sunan Prapen ke Daerah Lainnya


Setelah lama berada dibeberapa kawasan yang ada di Nusa Tenggara Barat (Lombok, Sumbawa, Dompu, Bima), Sunan Prapen juga memiliki rencana untuk memasuki daerah Bali. Namun, niat tersebut dipending karena pada saat itu mendapat perlawanan dari Dewa Agung GelGel yaitu Dewa Agung Batu Renggong pada abad ke 16 Masehi.

Dewa Agung Batu Renggong mencoba melawan arus penyebaran agama Islam yang pada saat itu tengah gencar dan berkembang dengan pesat.

Pada periode tersebut, orang-orang dari Makasar focus menyebarkan Islam kea rah timur Indonesia sedangkan orang-orang yang berasal dari Pulau Jawa focus menyebarkan Islam di kawasan Barat Indonesia. Namun sebagian dari mereka juga bergerak kea rah timur Indonesia.

Terakhir diketahui bahwa Sunan Prapen wafat pada tahun 1605 M. Terlihat Makam Sunan Prapen terletak di Desa Klangonan Kecamatan Kebomas, Kabupaten Gresik Jawa Timur, Makan beliau terletak sekitar 400 meter di sebelah barat Makam Sunan Giri, dalam sebuah cungkup berarsitektur unik dengan ukiran bernilai seni tinggi.

Posisi makan Sunan Prapen juga cukup menarik dibahas, untuk bsa mencapai lokasi makam, kita diharus untuk nanjak menaiki 33 anak tangga.

Jadi yang ada di atas bukit tersebut adalah tiga makam besar. Dua makam berbahan batu kapur putih adalah makam Panembahan Kawis Guwo dan Panembahan Agung. Keduanya merupakan pemimpin Giri Kedaton setelah Sunan Prapen. Yang paling kanan adalah makam Sunan Prapen.

Sejak dulu makam tersebut sudah ditutupi gebyok kayu. Gebyok kayu tersebut berukuran 9 x 6 meter dan diperkirakan sudah ada sejak 1506 Masehi.