Mengenal Sejarah Kerajaan Siak Sri Indrapura, Kerajaan Melayu di Provinsi Riau

Mengenal Sejarah Kerajaan Siak Sri Indrapura, Kerajaan Melayu di Provinsi Riau

Admin
Sunday, 16 June 2019


sejarah-Kerajaan-Siak-Sri-Indrapura

RiauOnline.id – Sore ini, sejenak berjalan-jalan mengelilingi salah satu kabupate yang ada di Provinsi Riau. Salah satu kabupaten yang sangat kental dengan kebudayaan melayunya. Kabupaten Siak, itulah nama kabupaten yang saya maksudkan.

“KABUPATEN SIAK…”

Kabupaten yang satu ini agak sedikit unik, budaya dan Bahasa melayu sangat kental di kawasan ini. Selain itu, bukti sejarah juga masih berdiri kokoh di kawasan Kabupaten Siak ini.

“Asserayah Hasyimiah”

atau dikenal juga dengan nama

“Istana Matahari Timur”

Nah, istana ini menjadi tempat tinggal Sultan Siak. Hingga saat ini bangunan Istana Siak ini masih berdiri kokoh di tengah perkotaan Kabupaten Siak. Perhatian Masyarakat dan pemerintah membuat Istana Siak tetap terjaga dan menjadi salah satu ikon sejarah yang sangat membanggakan.

Apakah kamu sudah tahu bagaimana Sejarah Kesultanan Siak…???

So, can you explain?

Nah, begini sejarahnya…

Kesultanan Siak didirikan sektiar tahun 1723 oleh seorang Raja Kecik. Beliau bergelar Sultan Abdul Jalil Rahmat Syah. Raja Kecik ini merupakan putra Raja Johor (Sultan Mahmud Syah) dengan istrinya Encik Pong.

Kala itu, pusat Kerajaan Siak berada di Buantan. Menurut penuturan dan berbagai sumber sejarah mengatakan bahwa nama siak berasal dari nama tumbuh-tumbuhan yang kala itu banyak tumbuh dikawasan tersebut. Namun sumber-sumber lainnya juga terdapat penjelasan mengenai asal usul nama Siak.

Awalnya, daerah Siak ini merupakan kawasan kekuasaan Kerajaan Johor. Ekspansi perluasan kekuasaan yang dilakukan oleh Kerajaan Johor ini masuk hingga ke kawasan Siak. 

Lalu, siapapun yang berkuasa di daerah Siak ini merupakan seseorang yang ditunjuk dan diangkat oleh Sultan Johor.

Meski dikuasai oleh Kerajaan Johor, kawasan Siak cukup lama tidak memiliki pemimpin yang diutus oleh Kerajaan Johor hanya terdapat Syahbandar yang kala itu ditunjuk dan diutus untuk melakukan pengawasan terhadap pemungutan cukai hasil hutan dan laut.

Pada tahun 1699, petaka menyelimuti Kerajaan Johor. Penguasa mereka ‘Sultan Mahmud Syah II’ dibunuh oleh seorang bernama Magat Sri Rama.

Dan sedihnya lagi, sang Istri Sultan Mahmud Syah II sedang dalam keadaan mengandung. Encik Pong, nama istri Sultan, kemudian terpaksa dilarikan ke Singapura dan kemudian menuju Jambi. Kala itu Encik Pong sedang dalam keadaan hamil tua hingga dalam perjalanan tersebut lahirlah seorang bayi laki-laki yang sekarang kita kenal dengan sebutan ‘Raja Kecik’.
Dalam sejarah dituturkan bahwa Raja Kecik hidup dan dibesarkan di daerah Kerajaan Pagaruyung Minangkabau.
Sepeninggalnya Sultan Mahmud syah II maka menjadi kewajiban bagi Raja Kecik untuk merebut haknya sebagai pewaris tahta kerajaan yang telah ditinggalkan oleh ayahnya. Kala itu Kerajaan Johor sudah dikuasai oleh Datuk Bendahara Tun Habib dengan gelar Sultan Abdul Jalil Riayat Syah.
Raja Kecik dirawat dan dibesarkan oleh ibunda tercinta di Negeri Pagaruyung. Dia dibekali kekuatan hingga mampu merebut kembali tahta tersebut hingga pada tahun 1717 Kerajaan Johor kembali mampu direbut oleh Raja Kecik.

5 tahun kemudian, tepatnya pada tahun 1722 Tengku Sulaiman kembali merebut Kerajaan Johor. Dia merupakan anak dari Sultan Abdul Jalil Riyat Syah. Kala perbutan Kerajaan Johor tersebut Tengku Sulaiman dibantu oleh orang-orang dari kalangan bangsawan Bugis.

Note:
Tengku Sulaiman merupakan ipar dari Raja Kecik. Maka perang tersebut masih terbilang perang saudara dalam perebutan kekuasaan yang ada di Kerajaan Johor.

Perang saudara terjadi, kerugian besar pun tak terhidarkan hingga akhirnya mereka memutuskan tuk mengundurkan diri, pihak Johor mengarah ke Pahang dan Raja Kecil ke Bintan.

Catatan sejarah selanjutnya mengungkapkan bahwa Raja Kecik berekpansi dengan mendirikan Negeri Baru di Kawasan pinggirian sungan Buantan (aliran anak sungai siak). Pada awal berdirinya, pusat Kerajaan yang baru berdiri ini dipusatkan Buantan.

Dalam catatat lain mengungkapkan bahwa pusat kerajaan ini berpindah-pindah, mulai dari Buantan, Mempura, Senapelan Pekanbaru dan kemudian kembali lagi ke Mempura. Pada masa kekuasaan Sultan Ismail dengan Sultan Assyaidis Syarif Ismail Jalil Jalaluddin (1827-1864) pusat kerajaan kembali dipindahkan ke Siak Sri Indrapura.

Pembangunan Istana megah bernama “Asserayah Hasyimiah”

Oh iya, satu informasi penting yang sepertinya kamu harus tahu. Ketika berjalan mengelilingi perkotaan Siak maka mata kamu akan dimanjakan dengan sebuah bangunan yang bernilai sejarah yang sekaligus menjadi bukti eksistensi dari Kerajaan Siak.

“Asserayah Hasyimiah”

Inilah nama lain dari istana megah yang ada di Kabupaten Siak. Istana ini juga disebut “Istana Matahari Timur”.

Tutur sejarah mengatakan bahwa Istana Siak ini dibangun pada masa Sultan ke 11 yaitu Sultan Assayaidis Syarif Hasyim Abdul Jalil Syaifuddin. Beliau memerintah Kerajaan Siak pada tahun 1889 – 1908. Pada masa pemerintahan Sultan inilah diperintahkan untuk membangun sebuah istana nan megah (tepatnya pada tahun 1889).

Ditangan Sultan Assayaidis Syarief Hasyim Abdul Jalil Syaifuddin, Kerajaan Siak mengalami kemajuan yang sangat pesat. Keadaan ekonomi Kerajaan Siak cukup baik dan maju, beliau juga sempat pergi ke Jerman dan Belanda.

Assayaidis Syarief Hasyim Abdul Jalil Syaifuddin memiliki putra yang disekolahkan di Batavia bernama Tengku Sulung Syarif Kasim. Dia dinobatkan untuk mengganti sang ayah yang menginggal dunia dan menjadi Sultan ke 12 Kerajaan Siak. 

Tepat pada tahun 1915, beliau diangkat menjadi pemegang kendali Kerajaan Siak dengan gelar Assayaidis Syarif Kasim Abdul Jalil Syaifuddin.

Seiring waktu berjalan Sultan Assayaidis Syarif Kasim Abdul Jalil Syaifuddin dan terakhir terkenal dengan nama Sultan Syarif Kasim  Tsani  (Sultan  Syarif  Kasim  II) lebih terkenal dengan nama Sultan Syarif Kasim  Tsani  (Sultan  Syarif  Kasim  II).

So, ingatkan nama bandara di Pekanbaru, Riau? Bandara Internasional Sultan Syarif Kasim II, nama ini diambil dari nama Sultan ke 12 Kerajaan Siak.

Kala Indonesia menyatakan Kemerdekaan…!!!

Kala itu, Indonesia masih berlum merdeka dan masih terpecah dengan kekuatan kerajaan masing-masing. Namun Sultan Syarif Kasim II sudah memiliki tekad untuk bergabung dengan Indonesia menjadi sebuah kesatuan yang utuh.

Tekad beliau ini disambut dengan aksi beliau yang berangkat dan menemui Bung Karno di Jakarta untuk menyatakan bergabung dengan Indonesia. Di Jakarta, Sulta Syarif Kasim II menyerahkan Mahkota dan uang sebesar 10.000 gulden sebagai bentuk bantuan atas dukungan terbentuknya Republik Indonesia.

Pada tahun 1960, Sultan Syarif Kasim II kembali ke siak dan kemudian wafat pada tahun 1968. Beliau tidak menginggalkan keturunan. Sebagai bentuk penghormatan Bangsa Indonesia terhadap Sultan Syarif Kasim II maka diberilah gelar kehormatan Kepahlawanan kepada beliau.

Makam Sultan Syarif Kasim II terletak ditengah Kota Siak Sri Indrapura tepatnya disamping Mesjid Sultan yaitu Mesjid Syahabuddin.

So, berikut daftar lengkap sultan-sultan yang pernah memerintah di Kerajaan Siak Sri Indrapura.

#1 Sultan Abdul Jalil Rahmad Syah I (1725-1746)
#2 Sultan Abdul Jalil Rahmad Syah II (1746-1765)
#3 Sultan Abdul Jalil Jalaluddin Syah (1765-1766)
#4 Sultan Abdul Jalil Alamuddin Syah (1766-1780)
#5 Sultan Muhammad Ali Abdul Jalil Muazzam Syah (1780-1782)
#6 Sultan Yahya Abdul Jalil Muzaffar Syah (17821784)
#7 Sultan Assaidis Asyarif Ali Abdul Jalil Syaifuddin Baalawi (1784-1810)
#8 Sultan Asyaidis Syarif Ibrahim Abdul Jalil Khaliluddin (1810-1815)
#9 Sultan Assyaidis Syarif Ismail Abdul Jalil Jalaluddin (1815-1854)
#10 Sultan Assyaidis Syarif Kasyim Abdul Jalil Syaifuddin I (Syarif Kasyim I, 1864-1889)
#11 Sultan Assyaidis Syarif Hasyim Abdul Jalil Syaifuddin (1889-1908)
#12 Sultan Assyaidis Syarif Kasyim Abdul Jalif Syaifudin I (Syarif Kasyim II), (1915-1949)

Hiruk pikuk perjalanan menjadi sebuah kesatuan bernama Negara Kesatuan Republik Indonesia tak lepas dari jasa-jasa para pahlawan yang telah lama mendahului kita, jasa-jasa beliau hingga akhirnya sekarang kita hidup dalam satu payung bernama NKRI, Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Nah, di awal-awal terbentuknya pemerintahan Republik Indonesia Kabupaten Siak merupakan wilayah Kewedanan Siak yang kala itu masih berada di bawah Kabupaten Bengkalis. Seiring waktu berjalan wilayah kewedanan Siak berubah menjadi Kecamatan Siak hingga pada akhirnya tahun 1999 Kecamatan Siak berubah status menjadi sebuah Kabupaten dengan pusat ibukota di Siak Sri Indrapura yang berdasarkan pada UU No. 55 Tahun 1999.

Finally…


Ada banyak hal yang bias kita dapatkan berkaitan dengan sejarah di Kabupaten Siak ini. Selain terdapat bukti sejarah yang masih berdiri kokoh, kita juga bias melihat benda-benda yang terdapat didalam Istana nan megah ini.