Haji Agus Salim, Sosok Cerdas yang Terlahir Koto Gadang, Sumatera Barat

Haji Agus Salim, Sosok Cerdas yang Terlahir Koto Gadang, Sumatera Barat

Admin
Monday, 14 October 2019

Haji-Agus-Salim-dari-Koto-Gadang-Sumatera-Barat

RiauOnline.id -- Haji Agus Salim merupakan sosok yang sangat cerdas. Orang cerdas yang begitu benci kolonialisme ini  bernama  kecil Masyhudul Haq, yang berarti pembela kebenaran.

Terbukti bahwa nantinya sang pembawa nama ini benar-benar  selalu membela kebenaran. Kebenaran bagi bangsanya. Salim merupakan anak seorang bangsawan bernama Tuanku Imam Syech  Abdullah bin Abdul Aziz dan ibunya bernama Zainatun Nahar. Pendidikan dasarnya ditempuh di Europeesche Lagere School [ELS], sekolah khusus anak-anak Eropa di kota kelahirannya. Setelah lulus, Salim merantau ke Batavia dan masuk HBS.

Pada 1903, diakhir tahun pendidikan, semua murid HBS sibuk menanti pengumuman kelulusan, terutama murid-murid Belanda.

Sekolah elit ini memang dikhususkan untuk kaum Belanda dan segelintir pribumi anak priyayi. Bahasa pengantarnya bahasa Belanda, maka wajar jika murid-murid Belanda menjadi yang terdepan di sekolah ini.

Akan tetapi, di tahun itu, semua berubah. Semua tercengang saat mengetahui hasil kelulusan. Siapa yang paling tinggi nilainya? siapa yang juara? orang-orang Belanda kaget luar biasa saat tahu bahwa anak bernama Agus Salim menjadi juara umum HBS se-Hindia Belanda. Seorang inlander menjadi yang terbaik mengalahkan kaum kulit putih Belanda.

Akan tetapi, diskriminasi terjadi, ia tidak langsung dapat beasiswa untuk sekolah lebih tinggi lagi. Saat pemerintah kolonial memberi beasiswa karena desakan banyak pihak, Agus Salim menolaknya. Ia terlanjur sakit hati. Tumbuhlah sikap melawan pada kolonial Belanda.

Salim konsisten melawan sistem kolonial. Dalam dekade 1920- an, saat ia telah duduk sebagai anggota volksraad, ia melawan. Tentu dengan gaya elegan. Satu kali, ia berpidato dalam volksraad. Lazimnya pidato dalam dewan, tentu dengan bahasa Belanda.

Walaupun begitu, Salim mengagetkan anggota dewan dari kalangan Belanda saat ia dengan sadar memilih pidato dengan bahasa Melayu [Indonesia].

Ia ditegur, tetapi ia dengan cerdas berdalih bahwa tidak ada peraturan resmi yang mengatur ia harus berbahasa Belanda saat pidato. Saat ia mengucap kata “ekonomi”, seorang Belanda bernama Bergmeyer mengejeknya, “apa kata ekonomi dalam bahasa Melayu?” tentu semua tahu bahwa tidak ada padanan katanya dalam Melayu. Akan tetapi, Salim tidak hilang akal.

Dengan senyum ia balik bertanya, “coba tuan sebutkan apa kata ekonomi dalam bahasa Belanda, nanti saya sebutkan Melayu [Indonesia]nya”. Bergmeyer terdiam. Ia mati kutu karena kelihaian Salim. Itulah gaya Salim menantang kolonialisme. Bahkan pada 2 Oktober 1945, saat juru warta BBC Richard Straub mewawancarainya, Salim yang saat itu berumur 60 tahun, berujar sangat geram: “daripada Indonesia diberikan pada Belanda lebih baik saya bakar musnah pulau ini!”.

Salim memang murid cerdas, ia belajar otodidak hingga mampu menguasai sembilan bahasa asing, bahasa Belanda, Inggris, Jerman, Prancis, Arab, Turki dan Jepang.

Hal itu memungkinkannya membaca bermacam-macam buku ilmu pengetahuan. Mula-mula Agus Salim bekerja sebagai penerjemah, kemudian sebagai notaris. Dari tahun 1906 sampai 1911, ia bekerja pada konsulat Belanda di Jedah.

Kesempatan itu dipakainya untuk memperdalam pengetahuan tentang agama Islam, sambil mempelajari seluk beluk diplomasi. Kegiatan politik dimulainya setelah memasuki Serikat Islam [SI] dan diangkat sebagai anggota Pengurus Pusat hingga mengantarkannya menjadi anggota Volksraad [1921-1924]. Pada 1929, Serikat Islam berganti nama menjadi Partai Serikat Islam Indonesia (PSII).

Setelah Cokroaminoto meninggal pada tahun 1934, Haji Agus Salim diangkat menjadi ketua PSII. Selain aktif di bidang politik, ia aktif pula di bidang kewartawanan dan memimpin beberapa surat kabar, seperti Neratja, Hindia Baroe, Bandera Islam, Fadjar Asia, dan Mustika.

Dikala Jepang masuk, Agus Salim duduk sebagai anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia [PPKI]. Setelah Indonesia merdeka, ia diangkat menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung. Karena memiliki pengetahuan yang luas dibidang diplomasi.

Pemerintah RI mengangkatnya menjadi Menteri Muda Luar Negeri dalam Kabinet Syahrir I 1946 dan Kabinet Syahrir II 1947 dan kemudian Menteri Luar Negeri dalam Kabinet Hatta 1948- 1949. Saat agresi militer Belanda kedua, Salim ikut ditangkap dan diasingkan ke Bangka.

Sesudah pengakuan kedaulatan, Agus Salim tidak  duduk lagi dalam pemerintahan. Pada 1953, ia sempat memberi ceramah tentang Islam di Universitas Cornell dan Princeton Amerika. Di Walaupun begitu, ia tetap diperlukan oleh pemerintah sehingga di tunjuk sebagai penasehat Menteri Luar Negeri hingga akhir hayatnya pada 1954.

Jenazah Agus Salim dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata Jakarta. Atas jasa-jasanya terhadap perjuangan kemerdekaan, pemerintah Indonesia memberikan gelar Pahlawan Kemerdekaan Nasional pada 1961.