Hadji Oemar Said Tjokroaminoto - HOS Cokroaminoto, Sang Raja Tanpa Mahkota yang Berjuang Untuk Kemerdekaan

Hadji Oemar Said Tjokroaminoto - HOS Cokroaminoto, Sang Raja Tanpa Mahkota yang Berjuang Untuk Kemerdekaan

Admin
Monday, 14 October 2019

HOS-Cokroaminoto-Sang-Raja-Tanpa-Mahkota

RiauOnline.id – Tokoh lain yang berperan dalam kemeredekaan Republik Indonesia adalah seorang sosok yang sering kita dengar dengan sebutan HOS Cokroaminoto.

Nah, pada paruh pertama abad ke 20, semua percaya bahwa ia tokoh besar. Ribuan orang akan berdesak-desakan menyaksikan ia naik podium. Ia jago berorasi, menyebar propaganda, membakar emosi massa. Ia mampu menghipnotis massa dengan suara baritonnya.

Ribuan pengikutnya menganggap ia sang Erucokro (Ratu Adil)  yang akan membebaskan penderitaan pribumi. Akan tetapi, ia menolak anggapan itu. ia merasa bukan Ratu Adil, hanya ia memang pemimpin yang berusaha membebaskan pribumi dari pengisapan kaum kolonial Belanda. Ia lantang bersuara,

“...kita diberi makan bukan karena kita dibutuhkan susunya...”

Ia menganggap kolonial Belanda hanya menjadikan kaum pribumi sebagai sapi perahan. Ia lawan penindasan itu dengan menyadarkan ribuan rakyat. Begitu takutnya hingga orang-orang kolonial menganggapnya sang “Raja Jawa” meski tidak memakai mahkota layaknya sunan atau sultan vorstenlanden.

1. Profil Singkat HOS Cokroaminoto


Sosok Hos Cokroaminoto merupakan sesosok unik yang terlahir di Desa Bakur. Jadi, Semasa kecil beliau ini dikenal nakal dan suka berkelahi. Sering kali ia berpindah-pindah sekolah, walaupun pada akhirnya pada 1902 beliau ini berhasil menamatkan OSVIA (Sekolah Pamongpraja) di Magelang.

Setelah bekerja selama tiga tahun sebagai juru tulis di Ngawi, ia pindah ke Surabaya dan bekerja pada perusahaan dagang. Di kota itu, ia memasuki Serikat Dagang Islam (SDI). Atas sarannya, pada 10 September 1912 secara resmi nama SDI diubah menjadi Serikat Islam [SI].

Nama            : Raden Hadji Oemar Said Tjokroaminoto
Lahir             : Ponorogo, Jawa Timur, 16 Agustus 1882
Meninggal    : 17 Desember 1934, Yogyakarta
Kebangsaan  : Indonesia
Agama          : Islam
Orang tua     : RM. Tjokroaminoto
Pasangan      : Suharsikin
Anak            :
                      Siti Oetari
                      Oetaryo Anwar Tjokroaminoto
                      Harsono Tjokroaminoto
                      Siti Islamiyah
                      Ahmad Suyud



Sosok HOS Cokroaminoto merupakan salah satu tokoh pergerakan Nasional Indonesiayang yang terkenal cerdas dan sangat gigih. sSemasa hidupnya beliau juga pernah memiliki beberapa murid diantaranya Soekarno, Musso dan Kartosuwiryo.

...Sedikit aneh,

Beliau tak pernah pemikiran yang sejalan membuat ketiga orang muridnya ini berselisih paham. Kemudian pada tahun 1912 tepatnya pada bulan Mei, Tjokroaminoto bergabung dalam kepengurusan Organisasi Sarekat Islam.

Cokroaminoto diangkat menjadi komisaris SI dan kemudian menjadi ketua pada 1915. Di bawah pimpinannya, SI berkembang dengan pesat dan tumbuh menjadi partai massa sehingga mencemaskan pemerintah Belanda.

Sebagai wakil SI dalam Volksraad,  pada 25 Nopember 1918,  ia mengajukan mosi yang dikenal dengan Mosi Cokroaminoto. Melalui mosi itu Pemerintah Belanda dituntut supaya membentuk parlemen yang anggota-anggotanya dipilih dari rakyat dan oleh rakyat. Dituntut pula supaya pemerintah bertanggung jawab kepada parlemen.

Cokroaminoto mengecam pengambilan tanah untuk dijadikan perkebunan milik orang-orang Eropa. Ia mendesak Sumatera Landsyndicaat supaya mengembalikan tanah rakyat di Gunung Seminung [tepi Danau Ranau, Sumatera Selatan]. Dituntutnya pula supaya kedudukan dokter-dokter pribumi disamakan dengan dokter-dokter Belanda.

Pada 1920, dengan tuduhan menyiapkan pemberontakan  untuk  menggulingkan  Pemerintah  Belanda,  ia dimasukkan ke penjara. Selepas bebas, ia diminta lagi untuk duduk dalam Volksraad. Permintaan itu ditolaknya, sebab ia tidak mau lagi bekerjasama dengan Pemerintah Belanda.
Cokroaminoto tidak hanya bergiat dibidang politik, ia banyak pula menulis artikel di pelbagai surat kabar.

Tulisan-tulisannya  sering dimuat Oetoesan Hindia, Fadjar Asia, dan Bendera Islam. tetapi tak lama ia mengelola Koran Bendera Islam, Cokroaminoto mengembuskan napas pungkasannya pada umur 52 tahun. Jenazahnya segera dimakamkan di pemakaman Pakuncen Yogyakarta. Atas jasa-jasanya dalam bidang pergerakan nasional, Cokroaminoto dijadikan Pahlawan Kemerdekaan Nasional pada 1961.

2. Lima-K, Konsep kepemipinan ala Hos Cokroaminoto


Walaupun semasa kecil Hos Cokroaminoto adalah sosok yang dikenal nakal dan berkelahi, ternyata itu hanya naluri pemberani yang nampak sejak kecil. Sosok Hos Cokroaminoto ternyata tumbuh menjadi inspirasi umat dalam sebuah perjuangan.

...Membangun Konsep 5K,

Berlandasan Agama dan selalu mencontoh baginda Rasullullah SAW, keberadaan Hos Cokroaminoto menjadi sosok yang mampu membangkitkan semangat juang. Melalui konsep 5K ini,beliau kembali membangunan kesadaran umat yang sedang dalam keadaan terlena bahwa harkat dan martabatnya hilang. Berikut penjelasn Konsep Lima K ala Hos Cokroaminoto:

Pertama, Kemauan.

Beliau Selalu mengobarkan semangat juang kala itu, dalam setiap gerakan dan motivasinya selalu berlandaskan Rasulullah SAW seperti kala berkata bahwa dalam diri manusia terdapat segumpal daging. Bila rusak maka rusaklah seluruh tubuhnya. Sebaliknya, bila baik maka baiklah seluruh kerja tubuhnya.

...Apa itu ? Qolbu, sumber gerak motivasi manusia.

Menurut Konsep Lima K ini, hal yang paling pertama dilakukan adalah membangkitkan kemauan umat Islam yang kala itu sebenarnya memiliki kekuatan yang luarbiasa. Ketika kemauan umat sudah dikobarkan maka tensi juang akan semakin bergelora dan terus bergelora.

Ternyata cara ini juga sesuai dengan Carl von Clausewitz, ON War bahwa untuk dapat memenangkan perang, maka yang harus diutamakan dan dijadikan target serangan adalah destruction of the enemy’s will (penghancuran kemauan lawan).

Ketika itu sebagian besar wilayah Indonesia sudah diduduki oleh penjajah, hal tersebut membuat semangat umat melemah. Mereka berfikir bahwa sesuatu yang tidak mungkin mengalahkan musuh yang telah mengakar masuk.

...Tak sependapat dengan Hos Cokroaminoto,

Menurut Hos Cokroaminoto bahwa hal tersebut akan dapat kita lakukan atau dapat kita rebut kembali jika kita memiliki semangat dan kemauan untuk merebutnya.

Kedua, Kekuatan

Selain hanya kemauan umat, Hos Cokroaminoto juga berpendapat bahwa kekuaan umat Islamharus digalang kembali. Ketika kemaua umat sudah terorganisi makahal selanjutnya adalahmembangun kekuatan yang luarbiasa ini.

...Kekuatan Islam!

Landasan ini yang membuat beliau kembali menggalang kekuatan umat Islam. Beliau berkata, Nusantara Indonesia boleh saja diduduki oleh penjajah, tetapi tidaklah berarti telah terkalahkan pula kemauan umat Islam sebagai mayoritas rakyat Indonesia.

Ketiga, kemenangan

Perpaduan kemauan dan keyakinan akan melahirkan sebuah pencapaian yang luarbiasa, InsyaAllah sebuah kemenangan akan diraihnya.

...Victory,

Hrapan dan cita-cita yang ingin diwujudkan oleh Hos Cokroaminoto kala memulai menggelorakan kemauan dan kekuatan umat Islam. Beliau berkeyakinan bahwa ini akan mampu diraihnya. Kemenangan ini tentu dengan ijin Allah SWT.

Keempat, Kekuasaan.

Kematangan pemikiran Hos Cokroaminoto tak sampai disitu, jika kemauan dan kekuatan sudah menghasilkan sebuah kemenangan maka harus terus bergerak pada titik selanjutnya.

...Kekuasaan,

Oleh karena itu, dalam konsep Cokroaminoto bahwa tujuan membangkitkan kesadaran umat Islam adalah agar umat Islam siap, mau dan mampu untuk menduduki kembali kekuasaan dengat berbagai cara dan posisi.

Dalam analisa, mengapa umat Islam harus tertindas?

Ternyata, dengan kehilangan 40 kekuasaan politik Islam atau kesultanan keberadaan rakyat makin tertindas. keadaan tertindas ini dikarenakan adanya pelemahan eksistensinya dengan cara para sultannya dipaksa untuk menandatangani Korte Verklaring (Perjanjian Pendek).

Jadi,

Kala itu para sultan hanya memiliki gelar sultan, namun mereka tidak lagi memiliki kekuasaan dan wewenang politik serta kekuasaan ekonomi. Bahkan, untuk memenuhi kebutuhan kehidupan istana, bersama kerabatnya, sultan terima gaji dari pemerintah kolonial Belanda.

“...Tidak bisa manoesia mendjadi oetama jang sesoenggoeh-soenggoehnja, tidak bisa manoesia mendjadi besar dan moelia dalam arti kata jang sebenarnya, tidak bisa ia mendjadi berani dengan keberanian jang soeci dan oetama, kalau anda banjak barang jang ditakoeti dan disembahnja...”

Itu adalah ungkapan seorang HosCokroaminoto untuk menyemangati dan membangkitkan kekuatan Umat Islam yang seperti terkurung dirumah sendiri.

...Beliau menambahkan:

“Keoetamaan, kebesaran, kemoeliaan, dan keberanian jang sedemikian itoe, hanjalah bisa terjapai karena “Tauhid” sahadja. Tegasnja, menetapkan lahir batin “ Tidak ada sesembahan, melainkan Allah sahadja”.

Kelima, kemerdekaan

...Ini adalah tujuan akhir,

Keberadaan dan kekuaran umat bisa meraih ini. Hos Cokroaminoto melihat fakta  ini, hanya saja bagaimana membangkit semangat umat. Beliau paham betul jika tujuan akhir dari berbangsa dan bernegara adalah berdaulat atas bangsa sendiri serta bebas dari kemiskinan dan kebodohan yang menyelimuti kehidupan masa itu.

3. Catatan Snouck Hurgronje Dalam Majalah “Indologen Blad”

Kepemimpinan Hos Cokroaminoto dalam membawa Syarikat Islam berhasil dan mampu berkembang dengan pesat. Kala itu seorang Penasehat kolonial Belanda Snouck Hurgronje pernah memberikan catatan dalam sebuah tulisan pada majalah “Indologen Blad” sebagai berikut:

“Suatu bangsa yang masih muda di negeri ini, sedang sadar dan insyaf. Lalu bergerak menempuh masa yang akan menciptakanya menjadi akil baligh, yang mulai memikirkan hal kehidupannya dan hal kedudukannya sebagai warga negara.”

Kecerdasan sosok Hos Cokroaminoto menjadi perhatian Belanda kala itu, mereka mula was-was dengan keberadaan itu. Hal ini terbukti dari apa yang diungkapkan oleh Snouck Hurgronje dalam majalah tersebut yang mengatakan:

Ia menambahkan “Awaslah kita, jika kita melengahkan arti gerakan itu oleh karena masih muda umurnya dan banyak cacat celanya atau jika kita alpa dengan memberikan penghargaan kepada gerakan itu.” (D.M.G Koch, Menuju Kemerdekaan hal ; 33, Yayasan Pembangunan Jakarta, 1951).

...Belanda jeli,

Segala sesuatu yang menjadi penghambat mereka harus lenyap, dengan cara apapun! Ittulah konsep Belanda kala itu.

Hal tersebut terjadi dalam tubuh Sarekat Islam yang dipimpin oleh Hos Cokroaminoto,

Ada upaya pembusukan Organisasi Sarekat Islam yang dilakukan dengan memasukkan faham Komunisme ke dalam tubuh SI. Inilah yang menyebabkan sehingga SI pecah menjadi SI kanan dan Kiri. Belanda punya kuasa saat itu, mereka mampu melakukan apapun yang mereka inginkan. termasuk untuk membusukkan citra sarekat Islam.

Kini, Sang Lagenda telah tiada. Hari ini adalah bagian dari perjuangan beliau yang tak henti membangkitkan semangat dan kemauan Umat untuk berjuang melawan Penjajahan. Ingat kata-kata beliau “semurni-murni tauhid, setinggi-tinggi ilmu dan, sepandai-pandai siasat”.