dr. Moewardi, Seorang Dokter yang berperan dalam Peristiwa Proklamasi

dr. Moewardi, Seorang Dokter yang berperan dalam Peristiwa Proklamasi

Admin
Friday, 17 May 2019

dr-Moewardi-Seorang-Dokter-yang-berperan-dalam-Peristiwa-Proklamasi

RiauOnline.id – Moewardi adalah seorang ahli dalam bidang kesehatan, beliau adalah seorang dokter. Selangkapnya, dr. Moewardi di lahir di Pati, Jawa Tengah pada tahun 1907.

Beliau mendapat gelar Pahlawan Kemerdekaan Nasional yang berdasarkan pada penetapan Keppres No. 190 Tahun 1964 dengan tanggal penetapan pada  4 Agustus 1964.

Ia memang dokter, tapi jiwa mudanya menggelora saat Belanda datang lagi ke Indonesia. Ia ikut bertempur melawan penjajah. Ia kerahkan orang-orangnya untuk mengamankan lapangan Ikada, saat akan diadakan proklamasi kemerdekaan, meski batal. Ia juga yang mengerahkan orang-orang barisan pelopor untuk menjaga rumah presiden dan wakil presiden di Jakarta.

Ia seorang dokter yang punya peran vital dalam peristiwa proklamasi kemerdekaan Indonesia.

Moewardi yang lahir di Pati ini hijrah ke Batavia untuk studi kedokteran di STOVIA. Ia memperdalam pengetahuan sebagai spesialis telinga, hidung, dan tenggorokan. Sewaktu di STOVIA, ia memasuki organisasi Jong Java.

Ia pernah pula menjadi anggota Indonesia Muda. Organisasi pramuka pun diikuti dan pernah menjadi pimpinan umum Pandu Kebangsaan yang kemudian berganti nama menjadi Kepanduan Bangsa Indonesia [KBI].

Pada masa pendudukan Jepang, Muwardi menjadi pemimpin Barisan Pelopor daerah Jakarta. Beberapa hari sebelum kemerdekaan Indonesia diproklamasikan, ia diangkat menjadi pemimpin Barisan Pelopor seluruh Jawa. Pada 16 Agustus 1945, anggota Barisan Pelopor dikerahkannya mengawal Lapangan Ikada, sebab menurut rencana di tempat itulah Proklamasi Kemerdekaan akan diucapkan. Sesudah proklamasi diumumkan, Muwardi membentuk Barisan Pelopor Istimewa sebagai pengawal pribadi Presiden Sukarno. Saat Kabinet Presidensiil terbentuk, ia diminta untuk menjadi menteri pertahanan, tetapi ditolaknya sebab ingin terus praktik sebagai dokter.

Permulaan tahun 1946, pusat kegiatan Barisan Pelopor dipindahkan ke Solo. Namanya berganti menjadi Barisan Banteng. Cabang-cabang Barisan Banteng dibentuk di daerah-daerah lain. Khusus untuk daerah Solo didirikan Divisi Laskar Banteng. Bersama anak buahnya, Muwardi turut bertempur melawan musuh. Ketika masih berada di Jakarta, ia ikut dalam pertempuran melawan Inggris di Klender.

Di samping itu, tugas sebagai dokter tetap dijalankannya. Bersama dokter-dokter lain, ia mendirikan Sekolah Kedokteran di Jebres, Solo dan kemudian pindah ke Klaten.

Selepas Perjanjian Renville, situasi politik di tanah air menjadi panas. Gesekan antar golongan terjadi. Orang-orang kiri yang merasa tidak puas berusaha membuat sabotase. Kota Solo yang dekat dengan ibu kota, dijadikan daerah percobaan.

Laskar-laskar kiri dan orang-orang yang pro pemerintah saling serang, saling culik dan membunuh. Dalam situasi gawat seperti itu, dr. Muwardi mendirikan Gerakan Rakyat Revolusioner. Sementara itu, praktik sebagai dokter tetap ia jalankan. Peristiwa yang berujung pada “Madiun affair” itu membahayakan nyawa Muwardi dan itu benar-benar terjadi.

Pada 13 September 1948, anggota staf Barisan Banteng melarangnya pergi ke rumah sakit, tetapi ia tidak mengindahkan. Ia datang rumah sakit Jebres untuk melakukan operasi terhadap seorang pasien. Sewaktu menjalankan tugas sebagai dokter itulah, ia diculik oleh sekelompok orang dari golongan kiri dan kemudian dibunuh. Atas jasa-jasanya dalam mendukung kedaulatan Republik Indonesia, pemerintah menetapkannya sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional pada tahun 1964.