Biografi Dewi Sartika, Sosok Tegar dan Pendiri Sekolah Wanita Pertama di Indonesia

Dewi-Sartika-Pendiri-Sekolah-Wanita-Pertama-Indonesia

RiauOnline.id, Sejarah Nasional -- Dewi Sartika adalah Sosok Pendiri Sekolah Wanita Pertama dalam sejarah  Indonesia. Dewi Sartika dilahirkan di Bandung pada tanggal 4 Desember 1884 dan kemudian meninggal di Tasikmalaya pada tanggal 11 September 1947.

...Sekilas,

Jika Ki Hajar Dewantara sebagai 'Bapak Pendidikan Indonesia' maka saya secara pribadi ingin menggelarkan sang Raden Dewi Sartika dengann 'Ratu Pendidikan Indonesia.

Memang sangat jarang Wanita bertindak seperti ini kala zaman seperti itu!

Sangat tak lazim,

Jadi, jika pemerintah Indonesia memberikan Gelar Pahlawan pada sosok ini maka itu bukan lah hal yang 'wajar' tapi menjadi hal yang 'Wajib'. Kiprahnya akan membuat semua mata tercengang, aksi dan usahanya membangun Wanita-wanita kala itu sangat luar biasa.

...Gelar Pahlawan?

Dewi Sartika mendapat  gelar  Pahlawan Nasional dengan dasar penetapan Keppres No. 252 Tahun 1966 dan tanggal penetapan pada 1 Februari 1966.

Ini sebagai bentuk penghargaan Negara akan jasa Dewi Sartika terhadap bangsa Indonesia.

Saat masih berusia sembilan tahun,

Dewi Sartika menikmati pendidikan yang diimpikannya. Ia punya cita-cita tinggi, memajukan pendidikan kaum perempuan. Akan tetapi, kebahagiaannya dikala kecil itu sirna saat dinamit meledak di lapangan Tegalega Bandung dalam acara pacuan kuda pada 17 Juli 1893.

Ayahnya dituduh menjadi otak pengeboman itu. Sang ayah diasingkan, kekayaannya disita, keluarganya tercerai- berai. Seketika itu ia kehilangan status menaknya. Ia menjadi anak pungut dan disia-siakan.

..Lalu, pataharangkah gadis muda itu?

Tidak.

Perlahan ia bangkit menggelorakan impiannya lagi, memajukan pendidikan kaum wanita pribumi dan ia berhasil. Ia menjadi pionir dalam pendirian sekolah wanita Hindia [Indonesia].

Mari kita ulas satu persatu tentang Dewi Sartika,

Biografi Lengkap Dewi Sartika


biografi-dewi-sartika

Dewi Sartika merupakan keturunan menak [priyayi] Bandung. Kakeknya adalah R.A.A. Wiranatakusumah IV, seorang Bupati Bandung. Ayahnya bernama R. Rangga Somanagara, seorang patih Bandung, atau wakil bupati Bandung, sedang ibunya bernama R.A. Rajapermas.

Dewi Sartika sendiri dilahirkan di Bandung pada tanggal 4 Desember 1884 dan kemudian beliau meninggal di Tasikmalaya pada tanggal 11 September 1947.

...Pada masa awal,

Dewi Sartika mendapat kesempatan untuk bersekolah di sekolah Belanda, Sekolah Kelas Satu [Eerste Klasse School]. Sejak itu ia punya bakat mengajar. Kala bermain, ia sering mengambil peran layaknya seorang pengajar, sedangkan teman- temannya berperan sebagai murid.

...Semua sudah terlihat dari peran yang dimainkan itu!

Sekolah Dewi hanya sampai kelas dua saja, saat ayahnya diasingkan ke Ternate.  Ia segera dititipkan di rumah pamannya  di Cicalengka, Raden Suria Kartahadiningrat. Di sanalah, dewi mendapatkan perlakuan diskrimininatif.

Jadi ceritanya, Dewi Sartika ini adalah titipan. Maka wajar jika tidak diperlakukan seperti anak sendiri oleh pamannya.

Hasranya tak putus,

Dewi Sartika kecil tetap  tegar menghadapinya,  ia  masih bisa mendapat pendidikan menjahit, juga masih diperbolehkan mendengarkan pengajaran bahasa Belanda anak-anak pamannya. Saat itu dewi memang hanya bisa mendengarkan saja karena ia dilarang mendapatkan pendidikan Bahasa Belanda oleh pamannya.

Perhatian Dewi Sartika Terhadap Pendidikan


sekolah-dewi-sartika

…Selain sebagai seorang perempuan yang tegas, perhatian dewi Sartika terhadap dunia pendidikan sangat terlihat.

Kala suaana seperti itu, mengapa ngotot bangun sekolah?

Dewi Sartika berlogika jika rakyat cerdas dan tidak buta huruf maka dengan otomatis tidak mudah termakan hasat buruk dari setiap penjajah yang datang.

…Kala itu kita tidak sekolah,

Kamu bisa bayangkan bagaimana kondisi rakya Indonesia kala itu. Identik buta huruf, taka da pendidikan kalangan bawah.

Kebebasan aja susah, apalagi mau sekolah!

Ingin mencerdaskan kehidupan rakyat, Dewi Sartika menebus mimpinya itu dengan mendirikan beberapa sekolah dengan harapan para rakyat kecil juga dapat menempuh pendidikan, bisa mebaca dan berhitung serta logika berfikir yang tidak seperti biasanya.

Kita mulai dari sekolah yang pertama:

1. Sekolah Isteri


…Namanya cukup unik, ‘Sekolah Istri’

Jadi, sekolah yang didirikan pada tanggal 16 januari 1904 ini khusus buat wanita. Dewi Sartika menargetkan pendidikan pertama buat para wanita.

Kebetulan sih, kala itu Dewi Sartika punya kakek bernama Raden Agung A Martanegara. Nah, kakeknya ini merupakan seorang Inspektur Kantor Pengajaran yaitu Den Hamer. Kala mendengar bahwa Dewi Sartika ingin membangun sekolah dan bercerita dengan kakeknya ini, Dewi Sartika mendapat restu.

…Berdirilah ‘Sekolah Isteri’,

Dewi Sartika ini sosok pemikir cerdas!

Nah, sebelum membangun sekolah ini Dewi Sartika sudah punya targer dan sasaran kepada siapa pendidikan ini diberikan. Pertama kali buka kelas, Sekolah Isteri mempunyai murid sekitar 20 orang. Semuanya adalah wanita.

…memang ini targetnya!

Konsep yang diterapkan oleh Dewi Sartika pada sekolah ini tidak hanya focus pada belajar membaca dan berhitung. Beliau ini melengkapi kemapuan wanita-wanita ini dengan skill menjahir, merenda serta dibumbui dengan materi dan belajar tentang agama.

…Viral!

Hal tersebut terlihat dari antusias kaum wanita yang ingin ikut dan bergabung menjadi murid di Sekolah Isteri ini.

Permasalah baru muncul,

Jumlah local kelas tak mampu menampung banyaknya wanita yang ingin bergabung menjadi bagian dari Sekolah Isteri ini.

Waktu itu Sekolah Isteri hanya punya dua lokal kelas. Bagaimana bisa menampung semua wanita-wanita ini. Satu sisi, Dewi Sartika memang menargetkan seluruh wanita yang ada kala itu untuk dapat bersekolah di Sekolah Isteri ini.

…Dewi Sartika berfikir keras mencari cara,

Solusi yang di cobanya adalah dengan meminjam sebagian ruangan yang ada di kepatihan Bandung, ini solusi yang dilakukan Dewi Sartika demi menampung semua wanita yang ingin bersekolah di Sekolah Isteri rintisan Desi Sartika ini.

…Sebuah perjuangan yang sangat luarbuasa dan keikhlasannya menyentuh banget!

Nah, selanjutnya, Dewi Sartika kembali membangun sebuah sekolah. Sekolah yang kedua ini diberi nama ‘Sekolah Keutamaan Isteri’

Apa sekolah ini sama dengan Sekolah Isteri! Atau hanya berganti nama saja?

2. Sekolah Keutamaan Isteri


…lanjut,

Ternyata Sekolah Keutamaan Isteri ini buka sekolah baru namun bagian dari kelanjutan Dewi Sartika mengelola Sekolah Isteri.

Jadi begini…

Keinginan bersekolah kaum wanita saat itu semakin tinggi. Dari yang awalnya hanya 20 orang tumbuh pesat hingga ruang kelas tidak cukup. Pada rentetan cerita selanjutnya, Dewi Sartika meminjam Gedung Kepatihan bandung, masalah teratasi!

Tak sampai disitu,

Permintaan dari para wanita untuk bergabung semakin meningkat lagi, Gedung Kepatihan Bandung tidak mampung mengcover sebagai ruang kelas sekolah tersebut.

…Maka,

Solusi selanjutnya adalah pindah tempat. Nah, kala Sekolah Isteri ini pindah maka namanya juga ikut berubah menjadi Sekolah Keutamaan Isteri sekitar pada tahun 1910. Dewi Sartika memindahkan Sekolah Isteri ini ke tempat yang lebih luas untk dapat memenuhi kebutuhan wanita yang ingin bersekolah.

Yang menjadi uniknya lagi,

Ternyata Dewi Sartika mulai memodifikasi ‘kurikulum’ yang awalnya hanya belajar membaca, berhitung serta life skill kemudian bertambah dengan pelajaran tentang bagaimana menjadi seorang ibu rumah tangga yang baik untuk suami serta mandiri dan terampil.

Waaw…!!!

Sangat luarbiasa, melihat para muridnya yang masih gadis-gadis itu maka tak salah jika di sekolah Keutamaan Istri ini memasukkan semua kegiatan pembelajaran yang berkaitan dengan pembinaan rumah tangga kelak setelah pernikahan.

Dewi Sartika menjadi Inspirasi wanita-wanita lainnya, mereka melihat sebuah kekuatan dan keinginan lepas dari ketertinggalan. Hingga pada 1912 sekolah Isteri terus bertambah hingga menjadi 9 lokasi didaerah lainnya.

3. Organisasi Keutamaan Isteri


…jika tadi mendirikan sekolah sudah berhasil,

Dewi Sartika tak puas sampai disitu saja. Beliau kembali mendirikan sebuah organisasi Keutamaan Isteri. Tepat pada tahun 1913 Organisasi Keutamaan Isteri berdiri.

…Untuk apa? Apak Dewi Sartika berpolitik?

Tidak, ini bukan organisasi Politik!

Saya semakin yakin bahwa sosok Dewi Sartika adalah pemikir dan konseptor yang handal. Hal ini terlihat dari organisasi yang didirikan ini.

Bukan untuk berpolitik tapi menjadi organisasi yang mewadahi sekolah-sekolah yang jumlahnya terus bertambah.

Yah,

Kalau kita ibaratkan sekarang kurang lebih seperti ‘Kementerian Pendidikan’ lah. Jadi, organisasi ini akan mengurusi secara serius sekolah-sekolah yang telah didirikan ini.

Mereka harus menyatukan kurikulum, menyatukan kualitasa Guru dahn hal-hal lainnya. Jadi,s emua sekolah yang didirikan oleh Dewi Sartika memiliki konsep dan system yang sama. Dan organisasi ini yang menjadi pemandu sekolah-sekolah ini.

…Great!

4. Sekolah Keutamaan Perempuan


…Keutamaan Perempuan,

Sekolah ini ternyata juga sama seperti halnya saat ‘Sekolah Isteri’ berubah nama menjadi ‘Sekolah Keutamaan Isteri’. Munculnya sekolah ‘keutamaan Perempuan’ adalah peralihan nama dari ‘Sekolah Keutamaan Isteri’ yang sebelumnya.

Jangkauannya sangat luas kawan!

Bayangkan, Dewi Sartika dan Organisasinya ini sudah mengurusi sekolah Keutamaan Perempuan pada ¼ daerah Jawa Barat.

Beliau terus menginspirasi wanita lainnya,

Hal tersebut terbukti kala salah satu wanita bernama Encik Rama yang mendirikan sekolah di wilayah Bukittinggi. Satu hal yang perlu kamu ketahui, mendirikan sekolah kala itu sesuatu yang sangat sulit. Akan ada banyak rintangan yang kamu temukan.

…dibutuhkan nyali besar bro!

5. Sekolah Raden Dewi


Pada periode terakhir pada tahun 1929, Sekolah Keutamaan Perempuan berubah nama lagi menjadi Sekolah Raden Dewi. Perubahan ini untuk yang terakhir kalinya.

Tidak jelas diketahui apa yang menjadi dasar perubahan nama sekolah yang didirikan oleh Dewi Sartika ini. Dari awal membangun dengan nama ‘Sekolah Isteri’ hingga menjadi ‘Sekolah raden Dewi’

…25 tahun, ada 3 perubahan nama!

Punya pengaruh besar! Sekolah Raden Dewi ini mendapat apresiasi dari pemerintahan Hindia Belanda. Sebagai bentuk apresiasi itu, Pemerintah Hindia Belanda mendirikan sebuah gedung baru yang cukup lumayan besar yang dipersembahkan untuk sekolah Raden Dewi ini.

...Et the end of the story,


Pada masa Jepang, semua sekolah tingkat dasar dijadikan satu macam atau jenis sekolah saja yaitu sekolah rakyat. Sekolah Raden Dewi kemudian menjadi sekolah rakyat gadis nomor 29. Mula-mula ditawarkan jabatan kepala sekolah kepada Dewi Sartika.

Tapi Dewi menolak untuk bekerja dengan rencana pelajaran yang ditentukan mengabdi pada Jepang.

Ini jalan yang ditempuh Dewi Sartika sebagai bentuk penolakannya terhadap kedatangan dan penjajahan Jepang terhadap Nusantara.

Apa yang Menjadi Keistimewaan Sosok Dewi Sartika?


…Jadi,

Sebelumnya, sudah dijelaskan secara mendetail bagai mana sosok seorang Dewi Sartika. Selalu menjadi inspirasi bagi wanita lain yang ada di sekitarnya, beliau ini selalu menjadi acuan bagi para wanita-wanita yang ingin bangkit.

…Jadi yang menjadi keistimewaan dari Dewi Sartika adalah:

Sosok Inspiratif,

Ini adalah point utama yang terdapat dalam sosok Dewi Sartika. Memberikan pendidikan kepada kaum wanita kala itu adalah hal yang sangat luas biasa dan tak lazim dilakukan pada zamannya.

Salah satu contoh, seorang bernama Encik Rama memberanikan diri mendirikan Sekolah di Bukittinggi karena terinspirasi oleh sosok Dewi Sartika. Selain itu, ada banyak wanita yang melakukan hal yang sama di Jawa Barat hanya karena melihat Dewi Sartika ini.

Apa yang dilakukannya ini selalu menjadi hal menarik bagi wanita lainnya, bisa dikatakan sebagai pioneer pada zaman itu. Sekolah-sekolah yang didirikan tersebut kemudian diberi induk dalam bentuk sebuah organisasi yang dibentuknya, Organisasi yang dikenal dengan ‘Organisasi Keutamaan Isteri.

Sosok Konseptor yang matang,

Hal ini terlihat bagaimana kemajuan yang ada di Sekolah Isteri hingga Sekolah Raden Dewi hingga pendirian Organisasi Keutamaan Isteri sebagai wadah dari semua sekolah yang didirikannya.

Meski taka da sumber sejarah yang mengatakan bahwa Dewi Sartika adalah sosok konseptor handal, namun kita bisa menarik sebuah kesimpulan dari apa yang dilakukannya.

...dan selalu sukses dimasanya!

Sosok yang mau belajar dan mengajar,

…Lihat,

Bagaimana Dewi Sartika mengubah pola kehidupan Wanita kala itu.

Jadi, wanita zaman Dewi Sartika hanya kenal 3 hal: Dapur, Sumur dan Kasur. Namun, pola ini secara halus  dirubah. Meski tak merubah kodrat sebagai istri namun Dewi Sartika ingin mereka lebih menjadi Isteri yang mandiri, namun tak mengubah posisi hormat pada suami.

…Faktanya,

Di Sekolah yang dibangun Dewi Sartika ada pelajaran ‘life skill’ menjahit. Hal ini diajarkan sebagai bagian dari kemapuan yang harus dimiliki oleh seorang Istri kala itu.

Sosok yang Gigih Berjuang,

Kita tahu kan bahwa zaman itu wanita tak lazim untuk bersekolah,

Nah, paradigma itu kemudian dirubahnya. Jika sekolah formal tak bisa ditempuhnya, maka Dewi Sartika membangun sekolah sendiri dengan perjuangan berat.

…Dengan kekuatan seadanya,

Bukan berarti Dewi Sartika harus menyerah dengan keadaan yang tetap menelantarkan pendidikan wanita pribumi kala itu. Inilah yang terus diperjuangkan Dewi Sartika, hingga Pemerintah Hindia Belanda mengakui keberadaan dan eksistensi sekolah tersebu.

Sosok yang Melawan dan Melawan Pada Keadaan

Keadaan wanita sat itu sangat menyedihkan, mereka tidak bersekolah!

Kondisi ini yang terus dilawan oleh Dewi Sartika, seandainya tidak ada Dewi Sartika maka saya tidak bisa membayangkan bagaimana pola fikir Ibu-Ibu kita melihat pendidikan.

Formasi berubah,

Atas perjuangan ini, Wanita di zaman Dewi Sartika tetap bersekolah dan tidak buta huruf lagi. Setidaknya satu langka wanita maju dari sebelumnya.

Cara melawan Dewi Sartika ini sangat halus dan tidak menyinggung perasaan siapapun.

Sosok Rendah Hati dan Penolong Sesama,

...tak bisa dipungkiri,

Dewi Sartika tidak lagi memilih dan memilah siapa yang harus menjadi murid-murid disekolah yang didirikannya.

Hadirnya sosok Dewi Sartika membuka angina perubahan segar terhadap wanita-wanita dari kalangan bawah, mereka tak mampu bersekolah layaknya golongan bangsawan.

Perjuangan Dewi Sartika Untuk Bangsa Indonesia


…Jika bertanya kepada generasi sekarang, mungkin tidak banyak yang mengenal sosok Dewi Sartika ini,

...yakin itu!

Pedahal sosok Dewi Sartika adah perintis sekolah Wanita pertama di nusantara ini.

Mengapa ada nama ‘Jalan Dewi Sartika’ di beberapa daerah di Indonesia?

…Good question,

Tentu hati kecil kita bertanya akan seberapa penting wanita yang satu ini hingga namanya di abadikan oleh Bangsa Indonesia.

…Makanya, belajar sejarah!
Sosok wanita kelahiran 4 Desember 1884 ini merupakan perintis ‘Sekolah Wanita’ di Indonesia. Mungkin kita tidak punya banyak informasi tentang ini.

Oke!

Saya ingatkan lagi, dulu ada Sekolah Isteri, Sekolah Keutamaan Isteri, Organisasi Keutamaan Isteri, Sekolah keutamaan Wanita hingga Sekolah Raden Dewi. Ini adalah beberapa nama sekolah yang dirintis oleh sosok Dewi Sartika.

Perannya sangat penting!

Kisah Asmara Dewi Sartika Yang Menolak Pangeran dan Menikahi Duda


…Kisah asmara, selalu menarik untuk ikut dibawah dalam sejarah Dewi Sartika ini,
Jadi, begini ceritanya.

Kala Dewi Sartika sedang sibuk dengan pekerjaannya sebagai Kepala Sekolah pada Sekolh Istri yang didirikannya, sang Ibu sedikit cemas dengan usianya yang semakin bertambah. Kala itu memang Dewi Sartika belum juga menikah.

Kesibukan ini terlihat bahwa Dewi Sartika makin melupakan masalah lelaki yang kelak menjadi imamnya.

Dewi Sartika termasuk orang yang enggan membicarakan masalah pernikahan dengan orang tuannya, dia berfikir bahwa masalah jodoh sudah ada yang mengaturnya, tidak perlu dicemaskan.  Dia menyerahkan masalah jodoh ini pada Tuhan Yang Maha Tahu siapa yang terbaik untuk menjadi pendamping hidupnya.

Namun, ketakutan seorang Ibu tetap saja tak bisa di pungkiri.

…Sangat lumrah!

Nah, suatu hari yang tak terduga dating lah seorang utusan Kesultanan Banten yang membawa pesan dari keluarga Pangeran Djajadiningrat.  Tujuan kedatangan ini adalah untuk melamar Dewi Sartika di Bandung.

…Hati sang Ibu sangat gembira,

Sepertinya, hal yang sudah di nanti-nantinya itu telah tiba.

Namun, kegembiraan sang Ibu tak bertahan lama.

Dewi Sartika menolak lamaran itu!

…Hari pun berganti.

Suatu ketika Dewi Sartika dan para angota guru dari Sekolah Istri diminati bantuan oleh Raden Martanagara, Bupati Bandung. Beliau meminta  meminta bantuan Dewi Sartika dan para guru untuk dapa mengurusi bagian konsumsi acara pengajian di Pendopo Dalem. 

…Dewi dan para Guru Sekolah Istri dengan senang hati menolong kegiatan itu!

Asmara pada pandangan pertama,

Sekian ramai undangan yang hadir, mata Dewi Sartika tertuju pada satu sosok yang menurutnya cukup menarik perhatian.

Pria itu bernama Raden Agah Kanduruan Suriawinata seorang guru di Eerste Klasse School Karang Pamulang. 

Nah, dalam kesempatan acara pengajian itulah Dewi Sartika dan Raden Agah Kanduruan Suriawinata mulai berkenalan. 

Jadi, sosok pria ini ternyata seorang duda dengan dua anak. Istrinya meninggal dunia dan tak berapa lama salah satu anaknya juga meninggal dunia, keadaan ini makin membuat hati Dewi Sartika makin bersimpati dengan sosok yang satu ini.

…Cinta pun tiba!

Setelah acara ini, Dewi Sartika terus berlanjut komunikasi dengan pria berkumis ini. Memang, dia mendambakan sosok pria yang semacam ini, tabah dan penyanyang.

Namun, hubungan mereka mendapat tantangan dari keluarga Dewi Sartika. Ibu dan kakak sulung Dewi Sartika tidak menyutujui hubungan tersebut.

…memiliki tekad yang kuat ingin menikahi Dewi Sartika,

Hingga pada suatu malam, Dia keluar untuk melakukan semedi semalaman di makam Raden Aria Adipati Wiranatakusumah IV yang merupakan kakek Dewi Sartika. Semedi ini dimaksudkan untuk mencari restu dan petunjuk kemungkinan jika menikah dengan Dewi Sartika. 

Ternyata buahnya menggembirakan. Akhirnya Raden Ayu Rajapermas dan Raden Somamur merestui pernikahan Dewi Sartika dengan Raden Agah. Pernikahan yang dilangsungkan secara sederhana tapi mengandung kesan yang sangat dalam. 

Inilah harga cinta sejati dari Sosok Dewi Sartika….

Wafatnya Sang 'Ratu Perintis Pendidikan' Kaum Wanita


Pada masa Perang Kemerdekaan, dimana Agresi militer I Belanda dilancarkan pada 21 Juli 1947, Dewi Sartika terpaksa menghentikan kegiatan dan mengungsi ke Cineam.

Di tengah kecamuk perang itu Dewi Sartika mengembuskan napas terakhirnya dalam usia 63 tahun.

Ia dimakamkan dengan upacara sederhana di pemakaman Cigagadon, Desa Rahayu Cineam. Tiga tahun kemudian ia dimakamkan kembali di kompleks Pemakaman Bupati Bandung di Jalan Karang Anyar.

Mengingat jasa-jasanya dalam membangun pendidikan putri-putri bangsa, maka pemerintah Indonesia mengangkatnya sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional pada tahun 1966.



0 Response to "Biografi Dewi Sartika, Sosok Tegar dan Pendiri Sekolah Wanita Pertama di Indonesia"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel