Biografi Ferdinand Lumban Tobing, Sosok Pejuang dari Sibolga Hingga Menjadi Target Pembunuhan Jepang

Ferdinand-Lumbantobing-Sosok-Pejuang-dari-Sibolga-Sumatera-Utara

RiauOnline.id, Sejarah Nasional -- Satu lagi sosok yang memiliki pran penting dala sejarah Indonesia. Beliu ini kita kenal dengan nama Ferdinand Lumban Tobing, dalam biografi ini banyak saya tuliskan bagaimana perjalanan  Ferdinand Lumban Tobing kala menghadapi periwtiwa Romusha oleh tentara Jepang.

...Jadi,

Kita juga perlu tahu tentang sosok yang satu ini. Jika biasa kita melihat ada poster Ferdinand Lumban Tobing terpajang di dinding kelas maka sebaiknya kita juga harus tahu bagaimana perih perjuangan dan pengorbanan beliau semasa zaman penjajahan Jepang.

1. Biodata Singkat Ferdinand Lumban Tobing


Sosok yang kita bahas kali ini bernama Ferdinand Lumban Tobing atau sering pula disingkat sebagai FL Tobing.

Beliau dlahir di Sibuluan, tepatnya di daerah Tapanuli Tengah, Provinsi Sumatra Utara, 19 Februari 1899 Kemudian Ferdinand Lumban Tobing meninggal di Jakarta, 7 Oktober 1962 tepat pada usia 63 tahun.

Ferdinand Lumban Tobing merupakan seorang pahlawan nasional Indonesia dari Sibolga, Sumatra Utara.

Riwayat Pendidikannya, Beliau Ia lulus sekolah dokter STOVIA pada tahun 1924 dan bekerja di CBZ RSCM, Jakarta.

Pada tahun 1943 ia diangkat menjadi Syu Sangi Kai' (DPD) Tapanuli dan juga sebagai Chuo Sangi In (DPP).Kemudian, setelah Indonesia meraih kemerdekaan, Ferdinand Lumban Tobing kemudian diangkat menjabat beberapa jabatan penting dalam Negara yang baru merdeka bernama Indonesia.

Adapun jabatan pentinya yang pernah dijabatnya adalah sebagai Menteri Penerangan dan Menteri Kesehatan (ad interim).

Selain Jabatan Menteri, Ferdinand Lumban Tobing juga pernah menjabat sebagai Residen Tapanuli dan Gubernur Sumatra Utara. Pada akhir menutup usianya kemudian beliau dimakamkan di Desa Kolang, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatra Utara.

Sebagai Bentuk penghargaan Bangsa Indonesia terhadap Ferdinand Lumban Tobing maka namanya kemudian diabadikan untuk nama sebuah Rumah Sakit Umum di Sibolga dan bandar udara di Pinangsori.

2. Perjalanan Karier Ferdinand Lumban Tobing


Pemerintah Indonesia memberi gelar Pahlawan Kemerdekaan Nasional Kepada Ferdinand Lumbantobing  dengan dasar penetapan pada Keppres No. 361 Tahun 1962 tanggal penetapan 17 November 1962.

Pada masa pendudukan Jepang, Lumbantobing diangkat menjadi dokter pengawas kesehatan Romusa. Dengan perasaan  sedih menyaksikan bagaimana sengsaranya nasib  para  Romusa  yang dipaksa membuat benteng di Teluk  Sibolga.

Oleh karena itu,  ia melancarkan protes terhadap pemerintah Jepang. Akibatnya, Tobing dicurigai dan masuk dalam daftar orang terpelajar Tapanuli yang akan dibunuh oleh Jepang.

Ia terhindar dari bahaya  maut  sebab berhasil menyelamatkan nyawa seorang tentara Jepang yang mengalami kecelakaan. Bagaimanapun ia seorang dokter yang harus menyelamatkan nyawa orang, meski ia membenci orang itu.

Ferdinand Lumbantobing telah berada di Bogor sejak sekolah dasar. Pada 1924, ia telah selesai menempuh studi kedokteran di STOVIA [Sekolah Dokter] Batavia. selepas itu ia bekerja menjadi dokter di Batavia, lalu pindah ke Tenggarong [Kalimantan Timur], kemudian ke Surabaya sampai tahun 1935. Sesudah itu, ia bertugas di Tapanuli, mula-mula di Padang Sidempuan, kemudian di Sibolga, tanah kelahirannya.

Pada 1943, ia diangkat menjadi ketua Syu Sangi Kai [Dewan perwakilan Daerah] Tapanuli di samping sebagai anggota Cuo Sangi In. Pada masa awal Revolusi kemerdekaan, ia merupakan tokoh penting di Tapanuli. Pada Oktober 1945, ia diangkat jadi Residen Tapanuli.

Saat itulah ia menghadapi masa-masa sulit ketika daerah Tapanuli dilanda pertentangan bersenjata, antara sesama pasukan RI yang datang dari Sumatera Timur setelah daerah itu jatuh ke tangan Belanda dalam Agresi Militer I Belanda.

Tetapi Tobing berpendirian tegas dan tidak mudah menyerah. Di masa Agresi Militer II Belanda, ia diangkat menjadi Gubernur Militer Tapanuli. Ia memimpin perjuangan gerilya di hutan-hutan, naik gunung turun gunung.

Sesudah pengakuan kedaulatan RI, ia menjadi Gubernur Sumatera Utara. selanjutnya, dalam Kabinet Ali pertama, ia diangkat menjadi Menteri Penerangan. Jabatan menteri lainnya yang pernah dipegangnya ialah Menteri Urusan Hubungan Antar Daerah dan terakhir Menteri Negara Urusan Transmigrasi.

3. Sejarah Ketika F.L. Tobing Menjadi Target Pembunuhan Jepang


Awalnya, Dr. Ferdinand Lumban Tobing berfikir jika kedatangan Jepang akan memperbaiki keadaan di Indonesia setelah sekian lama dijajah oleh Belanda. Ketika Dai Nippon Jepang datang, Ferdinand Lumban Tobing menerima sebuah tugas sebagai dokter pengawas kesehatan bagi romusha. Kala pribumi di paksa untuk bekerja dengan sangat kejam bahkan lebih kejam dari Hindia Belanda.

...Hati Ferdinand Lumban Tobing terasa sakit seperti teriris kala melihat saudara-saudaranya di pekerjakan secara paksa oleh Jepang,

Dalam sebuah tulisan (Nana Nurliana, Dr. Ferdinand Lumban Tobing, 1983:28): a melihat sendiri penderitaan saudara-saudara setanah-airnya dipaksa bekerja untuk kepentingan penjajah.

Belum lagi perlakuan kejam tentara Jepang. F.L. Tobing kerap mendapati para pekerja yang badannya hanya tinggal menyisakan kulit pembalut tulang saja, dan terus diperlakukan sewenang-wenang.

Tentu ia tak sanggup melihat kondisi ini terus dialami oleh Bangsa Indonesia. Sebagai bagian dari petugas pengawas kesehatan tentu akan setiap hari melihat keadaan dan kekerasan oleh tentara Jepang kala itu. Protes pun dilayangkan oleh Ferdinand Lumban Tobing, berkali-kali protes itu di sampaikan namun jepang sama sekali tak mendengarkannya.

Dalam sebuah catatan tentang Ferdinand Lumban Tobing, dikatankan bahwa ia masuk dalam daftar target orang-orang yang harus di singkirkan (dihabisi) meski bukan dengan cara-cara yang terlalu kelihatan atau kekasaran.

...Selalu mencari salah Ferdinand Lumban Tobing,

Namun yang terjadi malah sebaliknya, Ferdinand Lumban Tobing justru menjadi pahlawan bagi polisi Jepang. Suatu ketika, sang perwira polisi  jepang ini mengalami sebuah kecelakaan yang cukup parah.

Dengan kondisi yang sangat parah ini kemudian datanglah Ferdinand Lumban Tobing yang kemudian menawarkan perawatan untuk sang Perwira tersebut. Apa yang dilakukan Ferdinand Lumban Tobing ini berhasil! Perwira Polis ini sembuh total.

Orang Jepang yang semula amat benci terhadap Ferdinand Lumban Tobing kemudian berubah menjadi hormat atas tindakan yang ditunjukkannya terhadap Perwira Jepang tersebut.

Sebagai bentuk pengghargaan in, beliau kemudian ditunjuk untuk menjadi Ketua Syu Sangi Kai atau semacam Dewan Perwakilan Daerah (DPD) pada untuk Karesidenan Tapanuli pada November 1943. Bahkan, pada tingkat yang lebih tinggi lagi Ferdinand Lumban Tobing diangkat sebagai anggota Chuo Sangi In (Dewan Pertimbangan Pusat), bersama tokoh-tokoh lokal terkemuka macam Sukarno, Mohammad Hatta, Ki Hajar Dewantara, Ki Bagus Hadikusumo, dan lainnya.

4. Riwayat Pekerjaan dan Pengalam Organisasi Ferdinand Lumban Tobing 


Semasa menempuh pendidikan, Ferdinand Lumban Tobing sudah aktif dalam organisasi kemahasiswaan dan kepemudaan. Jadi, sewaktu beliau sekolah di STOVIA, Ferdinand Lumban tobing bergabung di sebuha organisasi bernama Jong Batak, organisasi ini merupakan sebuah organisasi yang anggotanya terdiri dari siswa-siswa STOVIA yang berasal dari Sumatera Utara.

Selanjutnya, Setelah Ferdinand Lumban Tobing tamat pendidikan dari STOVIA pada tahun 1924, Ferdinand Lumbantobing kemudian bekerja sebagai dokter bagian penyakit menular di Centrale Burgelijke Ziekenhuis / CBZ (sekarang Rumah Sakit Tjipto Mangoenkoesoemo) di daerah Jakarta.

Bekerja sebagai dokter di CBZ beberapa tahun lamanya, kemudian Ferdinand Lumbantobing juga sering kali dipindahtugaskan ke tempat-tempat medis lainnya.

...Misalnya, sekitar tahun 1931, Ferdinand Lumbantobing dipindahkan untuk bertugas di daerah Surabaya dan ditugaskan di bagian penyakit dalam.

lalu kemudian, tahun 1935,  Ferdinand Lumbantobing sudah bertugas di Sibolga, ibukota Karesidenan Tapanuli, kawasan ini merupakan daerah asal dari Ferdinand Lumban Tobing  sendiri. Di kawasan ini, untuk pertama kali Ferdinand Lumbantobing ditempatkan di Padang Sidempuan, kemudian dipindahkan ke Sibolga, ibukota Karesidenan Tapanuli.

Kemudian pada masa penjajahan Jepang berlangsung sekitar tahun 1942, Ferdinand Lumban Tobing  masih bertugas sebagai dokter.

Sewaktu beliau berhasil menyelamatkan nyawa seorang Perwira polisi dari Jepang yang mengelamai kecelakaan dari kendaraan, Ferdinand kemudian diangkat menjadi anggota Syu Sangi Kai(Dewan Perwakilan Daerah) dan juga diangkat sebagai Chuo Sangi In (Dewan Pertimbangan Pusat) Tapanuli pada November 1943.

Di awal masa kemerdekaan Bangsa Indonesia, Ferdinand Lumbantobing diangkat menjadi Residen Tapanuli, sejak Oktober 1945.

Kala Kemerdekaan Indonesia, Pemerintahan Hindia Belanda tidak mau mengakui atas kemerdekaan Indonesia. Belanda mencoba untuk berusaha kembali merebut kemerdekaan Indonesia dengan melancarkan Agresi Militer Belanda I dan II. Serangan ini cukup merepotkan Bangsa Indonesia dalam mepertahankan Kemerdekaan yang sudah di raih.

Pada awal revolusi ini, sosok Ferdinand Lumbantobing juga ikut berperan aktif mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Selanjutnya, pada saat Pemerintah Belanda kembali melakukan Agresi Militer Belanda II, Ferdinand Lumbantobing kemudian diangkat menjadi Gubernur Militer Tapanuli dan Sumatera Timur Selatan.

Pada masa-masa revolusi kemerdekaan, Ferdinand Lumban Tobing pernah menjabat pada beberapa jabatan penting kenegaraan seperti Menteri Penerangan, Menteri Negara Urusan Transmigrasi, Menteri Urusan Daerah, dan Menteri Kesehatan (ad interim) pada masa Kabinet Ali Sastroamijoyo I.

5. Catatan Sejarah Penghargaan dan Wafatnya Ferdinand Lumban Tobing


Dalam buku sejarah sangat jelas dicatat bahwa Ferdinand Lumbantobing ini wafat di Jakarta dalam usia 63 tahun. Kemudian Jasad beliau dimakamkan di sebuh tempat di Desa Kolang, kawasan Kabupaten Tapanuli Tengah, Provinsi Sumatera Utara.

Seluruh Bangsa Indonesia berduka, sosok pejuang ini sudah tiada. sebagai bentuk penghargaan sekaligus untuk mengingat jasa-jasanya, nama Ferdinand Lumban Tobing kemudian dijadikan sebagai nama bandar udara di Pinangsori, Tapanuli Tengah. Selain itu digunakan pada nama bandara, nama Ferdinand Lumban Tobing juga dijadikan sebagai nama Rumah Sakit Umum di daerah Sibolga, Sumatera Utara.

Pemerintah Indonesia juga turut menganugrahkan Ferdinand Lumban Tobing sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional pada 17 November 1962, yang dikukuhkan berdasarkan Surat Keputusan Presiden No. 361 Tahun 1962.

Menjadi sejarah bahwa, nama Ferdinand Lumbantobing (FL Tobing) merupakan orang Batak yang kedua kemudian ditetapkan sebagai pahlawan nasional oleh pemerintah RI setelah Sisingamangaraja XII. Presiden Sukarno atas nama Bangsa Indonesia waktu itu telah menetapkan Sisingamangaraja XII (1849-1907) sebagai pahlawan nasional pada 9 November 1961, kemudian, hanya berselang kurang lebih satu tahun F.L. Tobing memperoleh gelar yang sama, tepatnya tanggal 17 November 1962.

0 Response to "Biografi Ferdinand Lumban Tobing, Sosok Pejuang dari Sibolga Hingga Menjadi Target Pembunuhan Jepang"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel