Arung Palakka, Jagoan Penakluk Sultan Hasanuddin

Arung Palakka, Jagoan Penakluk Sultan Hasanuddin

Admin
Monday, 14 October 2019

arung-palakka-jangoan-penakluk-sultan-hasanuddin

RiauOnline.id --  Arung Palakka, sesosok pria gagah perkasa berdarah bugis ini merupakan jagoan tangguh yang sudah terkenal di seantero Batavia.

Keperkasaannya mengetarkan seantero pendekar dan jagoan di Batavia.

Pria dengan rambut panjang ini memiliki kekuatan dan kecerdasan serta keberanian dalam mengahapi musuh, tak sedikitpun ada kata menyerah di jiwa seorang Arung Palakka.

Sistem yang diterapkan kolonial Belanda kala itu adlah kekerasan untuk menunjukan siapa yang paling berkuasa diantara mereka. Yang jago dan berani menjadi orang yang disegani dan terpandang. Dengan keberadaan “asas” tersebut membuat Arung Palakka harus mampu menjadi yang paling kuat dan ditakuti oleh jagoan atau pendekar lainnya.

Dia lah Arung Palakka, Seorang Jagoan tanpa tanding.

Kala itu, Arung palakka bersama beberapa pengikutnya melarikan diri dari cengkeraman Kerajaan Makassar. Arung Palakka tak sudi untuk tunduk dan menjadi bawahan Kerajaan Makassar.

Hingga gelar “Pemberontak” pun melekat di diri Arung Palakka, namun bagi rakyat nya, Arung Palakka tetaplah menjadi sosok pemimpin yang selalu melindungi rakyatnya dari segala kekerasan dan ancaman intimidasi dari kerajaan lainnya.

Arung Palakka terasingkan dari tempatnya sendiri, ia di cap sebagai pemberontak dan tak mau taat pada Kerajaan Makassar.

Pada akhirnya Arung Palakka memutuskan untuk membangun persekutuan yang menakutkan bersama dua tokoh terasing lainnya yaitu pria Belanda bernama Cornelis Janszoon Speelman dan seorang Ambon yang juga perkasa bernama Kapiten Jonker.

Nah, ketiga orang ini membangun kekuatan yang besar namun rahasia dan senyap.

Arung Palakka tak ingin terjajah dan bagian dari tawanan Kerajaan Makassar. Atas dasar itulah ia membangun jalinan kerja sama dengan Kolono Belanda.

Keinginan Arung Palakka di sambut dengan baik dan memberikan daerah di pinggiran Kali Angke, hingga serdadu Bugis ini disebut To Angke atau orang Angke.

Ia dan pengikutnya sementara tingal dan menempati kawasan yang diberikan oleh Koloni Belanda.

Arung Palakka dan Kapiten Jonker bergabung bersama VOC. Kapiten Jonker merupakan seorang panglima yang berasal dari Pulau Manipa, Ambon.

Pada akhirnya Speelman, Arung Palakka, dan Kapiten Jonker sama-sama berangkat dari hal yang sama yaitu keterasingan dari wilayah yang seharusnya menjadi kawasan kekuasaan mereka.

“Arung Palakka dan Kapiten Jonker terjajah...”

"Arung Palakka dan Kapiten Jonker terasingkan...”

Penaklukan Sultan Hasanuddin

Ketiga orang ini pada akhirnya mencatatkan nama mereka menjadi sebuah sejarah kala mampu membuat sultan hasanuddin bertekuk lutut dalam kekalahan menghadaipi peperangan dan perlawanan yang maha dahsyat kala itu.

Arung Palakka dan Speelman akhirnya mampu menghancurkan Benteng Sombaopu. Benteng Sombaopu ini menjadi momok bagi VOC serta rintangan (barikade) untuk menguasai Indonesia timur, khususnya jalur rempah- rempah Maluku, pada bulan November 1667.

Nama Arung Palakka makin Populer, karena selain itu Arung Palakka juga mampu menaklukan Sumatera serta menghancurkan bumi Minangkabau kala VOC tak mampu menaklukan perlawanan rakyat Minangkabau kala itu.