Abdoel Moeis, Sosok yang Lantang Menuntut Kemerdekaan

Abdoel Moeis, Sosok yang Lantang Menuntut Kemerdekaan

Admin
Friday, 17 May 2019

Abdoel-Moeis-Sosok-yang-Lantang-Menuntut-Kemerdekaan

RiauOnline.id -- Abdoel Moeis adalah salah satu dari sekian Pahlawan Bangsa ini yang dengan lantang meneriakkan sebuah kemerdekaan. Sosok yang dilahirkan di Sungai Puar Agam Sumatera Barat pada tangga 3 Juli 1883 merupakan Pahlawan Kemerdekaan Indonesia.

Atas dasar pergerakan dan usah hingga merasakan kemerdekaan Indonesia, Abdoel Moeis di beri Gelar Pahlawan Kemerdekaan Indonesia dengan Dasar penetapan: Keppres No. 218 Tahun 1959 pada tanggal 30 Agustus 1959.

Teriakan dan seruan lantang untuk “Kemerdekaan Hindia”

Tepat delapan hari setelah menjadi pemimpin redaksi surat kabar Neratja Bandung, ia segera menulis tajam,

“…Perhimpoenan- perhimpoenan terseboet hanja satoe toejoeannja, jaitoe kemerdekaan Hindia”.

Seruan itu ditujukan bagi  kaum  pergerakan  pribumi  pada 16 Oktober 1917 tepat di hari pemilihan umum Volksraad Hindia Belanda. Abdoel Moeis memang tegas soal kemerdekaan bangsa pribumi Hindia [Indonesia].

Berkali-kali ia menyerukan slogan “Hindia boeat anak Hindia”. Seruan itu lantang menuntut kemerdekaan, satu hal yang dilarang pemerintah kolonial masa itu.

Abdoel  Moeis  memang  politikus  kritis  pada  masanya,  sekaligus sastrawan hebat yang melahirkan novel Salah Asuhan yang terbit pada 1928 dan dianggap sebagai sastra Indonesia modern terbaik sepanjang masa.

Abdoel Moeis yang berasal dari lereng gunung Marapi yang subur serta wilayah penghasil logam dan tekstil, merupakan seorang Minangkabau, putra Datuk Tumangguang Sutan Sulaiman, seorang demang yang keras menentang kebijakan Belanda di dataran tinggi Agam.

Selesai sekolah ELS [Europeesche Lagere School] dan HBS [Hogere Burger School], Abdoel Moeis melanjutkan pendidikannya ke Stovia [School tot Opleiding van Indische Artsen] di Batavia meski tidak sampai lulus.

Akan tetapi, kemampuan Abdul Muis dalam bahasa Belanda yang melebihi orang Belanda membuat Mr. Abendanon, Directeur Onderwzjs [Direktur Pendidikan] mengangkatnya sebagai seorang klerk [juru tulis]. Jadilah Moeis seorang pegawai negeri kolonial meski hanya bertahan selama dua tahun [1903-1905].

Di Bandung, selepas memutuskan berhenti jadi pegawai kolonial, Moeis jadi wartawan dan langsung bergabung dengan majalah Bintang Hindia hingga tahun 1912, lalu sempat sebentar menjadi mantri lumbung, lalu bergabung dengan surat kabar Belanda Preanger Bode sebagai korektor, Hanya dalam tempo tiga bulan, ia diangkat menjadi hoofdcorrector [korektor kepala] karena kemampuan berbahasa Belandanya yang luar biasa.

Keresahan sebagai seorang pribumi yang merasakan ketidakadilan di bawah “kaki” kolonial, membuatnya terjun dalam bidang politik. Moeis lalu masuk organisasi SI [Sarekat Islam] pada 1913, sebelumnya nama Moeis naik daun saat artikel-artikelnya yang mengecam pemerintah kolonial yang merendahkan kaum pribumi sering dimuat De Express milik IP [Indische Partij].

Moeis ikut mengurusi surat kabar Oetoesan Hindia milik SI pada 1915 dan ikut pula mendirikan surat kabar harian Kaoem Moeda di Bandung.

Pengalaman dalam media semakin banyak dan ia juga semakin kritis saat bergabung dalam surat kabar Neratja, ia semakin lantang menyerukan kemerdekaan bangsa pribumi. Moeis semakin radikal. Kepada anggota sarekat, ia selalu menanamkan semangat perjuangan melawan pemerintah kolonial.

Ketika kongres Sarekat Islam diadakan pada 1916, ia menganjurkan agar Sarekat Islam (SI) bersiap-siap menempuh cara kekerasan menghadapi pemerintah apabila cara lunak tidak berhasil.

Abdoel Moeis juga ikut terlibat dalam Komite Boemi Poetra untuk mengadakan perlawanan terhadap maksud pemerintah kolonial yang akan mengadakan perayaan besar-besaran 100 tahun kemerdekaan negeri Belanda dari Prancis. Melalui komite ini juga, Moeis turut mendesak Ratu Belanda agar memberikan kebebasan bagi bangsa pribumi dalam berpolitik dan bernegara.

Pada 1917, Moeis dipercaya sebagai utusan Sarekat Islam untuk pergi ke negeri Belanda mempropagandakan komite Indie Weerbaar. Dalam kunjungan itu, ia mendorong tokoh-tokoh Belanda untuk mendirikan THS [Technische Hooge School] di Priangan. Sekembalinya dari negeri Belanda, pada 1918, Abdoel Moeis ditunjuk sebagai anggota Volksraad mewakili Central Sarekat Islam.

Semangat perlawanannya tidak pernah padam. Pada 1919, Moeis pergi ke Sulawesi dan menggelar pidato menentang kerja rodi pemerintah kolonial. Akibatnya kerusuhan terjadi, seorang pengawas Belanda di Toli-Toli terbunuh. Abdoel Moeis dipersalahkan dan dihukum karena dianggap menghasut rakyat.

Moeis tidak patah arang, selepas hukuman ia menjadi pemimpin Pengurus Besar Perkumpulan Buruh Pegadaian dan segera terlibat dalam aksi pemogokan kaum buruh di Yogyakarta pada 11 Januari 1922 yang membuat pemerintah kerepotan.

Setahun kemudian, Abdoel Moeis berulah lagi. Ia mengunjungi Padang, Sumatera Barat. Di sana ia mengundang para penghulu adat untuk bermusyawarah, memprotes aturan landrentestelsel [Undang-undang Pengawasan Tanah] yang memberatkan masyarakat Minangkabau.

Pemerintah kolonial akhirnya bertindak tegas. Abdoel Moeis segera ditangkap, dilarang untuk tinggal di Sumatera selamanya, lalu diasingkan ke Garut Jawa Barat, dan dilarang keras untuk terlibat urusan politik. Abdoel Moeis memang berhenti sejenak dari aktivitas politik.

Kala itu, ia hanya menjadi petani dan menulis novel terkenalnya, Salah Asuhan. Akan tetapi, tidak menunggu waktu terlalu lama untuk Moeis terlibat lagi dalam perjuangan kaum pribumi. Pada 1926, ia menjadi anggota Regentschapsraad [dewan kota] Garut. Enam tahun kemudian diangkat menjadi Regentschapsraad Controleur hingga Jepang masuk ke Nusantara pada 1942.

Selepas kemerdekaan tahun 1945, Abdoel Moeis masih aktif dalam politik dengan mendirikan Persatuan Perjuangan Priangan yang fokus pada pembangunan di Jawa Barat dan masyarakat Sunda. Akan tetapi, usia tua tidak mampu lagi menopang kegiatan Abdoel Moeis. Pada umur 75 tahun ia tutup usia dan dimakamkan di taman makam pahlawan Cikutra Bandung.

Tepat dua bulan selepas kematiannya, presiden Soekarno yang begitu mengagumi kiprah Abdoel Moeis yang tanpa henti hingga akhir hayatnya berjuang bagi kaum pribumi, memberinya gelar Pahlawan Kemerdekaan Nasional.