Sultan Baabullah: Tekad Perlawanan Menggepur Bangsa Portugis di Ternate

Sultan Baabullah: Tekad Perlawanan Menggepur Bangsa Portugis di Ternate

Admin
Tuesday, 16 April 2019

Sultan Baabullah-lawanan-Bangsa-Portugis-di-Ternate

Maluku merupakan daerah yang kaya rempah-rempah terutama pala dan cengkih. Banyak pedagang dari Jawa, Aceh, Arab dan Cina datang membeli rempah-rempah di Maluku, khususnya di Ternate.Posisi kerajaan Ternate menjadi penting pada masa itu.

Kedatangan Portugis ( 1512 ) dan Spanyol ( 1521 ) di Maluku merupakan awal malapetaka mengarah terpecah belah dan kesengsaraan. Pada tahun 1535 , Portugis di Ternate bertindak sewenang-wenang dengan menurunkan secara paksa raja Tabariji.

Raja Tabariji berkuasa tahun 1523 – 1535. Tabariji diasingkan Portugis ke Goa dipaksa untuk murtad. Jordao de Freitas, orang Portugis yang berhasil meng-kristen-kan Tabariji dengan nama baptis Dom Manuel. Pada tahun 1545  Tabariji meninggal dengan sempat memberi janji menyerahkan Ambon pada Portugis.
Sultan Baabullah-lawanan-Bangsa-Portugis-di-Ternate

Sultan Khaerun yang pada saat itu berkuasa di Ternate menolak keras pernyataan Gubernur de Mesquita pimpinan Portugis untuk   :

# Menyerahkan Ambon

# Memonopoli perdagangan

# Agar membatasi bahkan mencegah kapal-kapal dagang selain Portugis.

Sultan Khaerun tetap memberi kebebasan kepada kapal-kapal dagang dari Aceh, Persia, Gujarat, Demak dan Gresik untuk berdatangan ke Ternate membeli cengkih, pala dan lada. Sultan Khaerun membangun terus armada lautnya dengan membeli kapal-kapal dari Gresik  dan senjata baru dari Aceh dan Turki.

Portugis memandang tindakan Sultan Khaerun sangat membahayakan monopoli perdagangannya. Oleh karena itu, pada tanggal 17 Februari 1570, dengan licik Portugis menawarkan tipu perdamaian. Sehari setelah sumpah damai di paraf, de Mosquita mengundang Sultan Khaerun menghadiri pesta perdamaian di benteng.

Tanpa curiga Sultan Khaerun hadir dan dibunuh di dalam benteng.
Sultan Baabullah-lawanan-Bangsa-Portugis-di-Ternate

Peristiwa ini menimbulkan kemarahan besar bagi rakyat Maluku dan terutama Sultan Baabullah. Bersama rakyat, Sultan Baabullah bertekad menggempur Portugis. Gelombang perang besar segera melanda lautan dan daratan Ternate. 

Bergandeng dengan Tidore yang semula musuh, menyerang dan menghancurkan  benteng Portugis di Ambon.

Sultan Baabullah ( 1570 – 1583 ) adalah putra Sultan Khaerun ( 1550 – 1570 ) berhasil mengusir Portugis dari bumi Maluku dan  mengantarkan Ternate mencapai puncak kejayaan . Wilayah Ternate sampai ke daerah Philipina bagian selatan .

Kemudian pasukan Sultan Baabullah memusatkan penyerangan untuk mengepung benteng Portugis di Ternate. Lima tahun lamanya orang Portugis mampu bertahan di dalam benteng yang akhirnya menyerah pada tahun 1575 karena kehabisan bekal.

Penurunan bendera Portugis sebagai lambang kekalahan yang kemudian sebagian dari mereka diberi kebebasan  pergi menuju Timor-Timur.