Perlawanan Panglima Fatahillah dan Ikhtiar Menyebarkan Agama Islam

Perlawanan Panglima Fatahillah dan Ikhtiar Menyebarkan Agama Islam

Admin
Tuesday, 16 April 2019

Perlawanan-Panglima-Fatahillah-di-Demak

Pada tahun 1521, Pasai berhasil diduduki oleh armada Portugis yang mula-mula hanya untuk berdagang, tetapi kemudian berusaha menyebarkan agama Khatolik dan menjajah. Fatahillah tidak rela melihat tanah tumpah darahnya diduduki bangsa asing. Ia tidak mau hidup di bawah perintah orang asing, namun untuk melawan belum memungkinkan.

Fatahillah dilahirkan sekitar tahun 1490 di Pasai, Sumatera Utara.

Nama lain Fatahillah adalah Falatehan, Fadhilah Khan, Ratu Bagus Pase dan  Ratu Sunda Kelapa. Ayahnya bernama Maulana Makhdar Ibrahim selaku guru agama Islam di Pasai kelahiran Gujarat, India Selatan.

Berkat kemauan yang keras dan ikhtiar yang terus menerus, Fatahillah berlayar menuju tanah suci Arab. Tujuan utama untuk menunaikan ibadah haji, menggembleng diri memperdalam ilmu agama dan menambah kecakapan yang lainnya seperti olah bela diri dan strategi perang. Tiga tahun telah berlalu, saat pulang ke Pasai ternyata orang Portugis masih bercokol. Dengan hati berat Fatahillah tidak mendarat melainkan melanjutkan perjalanan menuju pulau Jawa.

Perlawanan-Panglima-Fatahillah-di-Demak

Pada sekitar tahun 1525, Fatahillah mendarat di pelabuhan Jepara, pelabuhan utama kesultanan Demak. Sultan Demak waktu itu adalah Sultan Trenggono, menyambut baik kedatangan dan maksud Fatahillah.

Sultan sangat mengagumi Fatahillah atas kedalaman ilmunya, kecakapan dan keberaniannya. Tanpa ragu Sultan Demak mengangkat fatahillah sebagai guru agama di lingkungan istana, penasehat Sultan dan panglima perang tentara Demak.

Sultan Trenggono sangat mendukung cita-cita Fatahillah untuk menyebarkan agama Islam ke seluruh pulau Jawa.

Pada tahun 1526, Fatahillah di Banten dengan bantuan Maulana Hasanuddin, putra Sunan Gunung Jati, berhasil mengislamkan masyarakat Banten tanpa kekerasan.

Rakyat Banten menerima agama Islam dengan penuh keikhlasan dan kesadaran.  Selanjutnya pada tahun 1527, Sunda Kelapa dapat di kuasai. Fatahillah diangkat oleh Sultan Trenggono sebagai wakil Sultan Demak yang memerintah di Banten dan Sunda Kelapa.

Ketika orang Portugis di bawah pimpinan Fransisco De Sa tiba di Sunda Kelapa tahun 1527, terjadilah pertempuran hebat dengan laskar Fatahillah. Portugis berhasil diusir dari Sunda Kelapa, sejak tanggal 22 Juni 1527 nama Sunda Kelapa diubah menjadi Jayakarta atau Jakarta yang berarti ‘kemenangan yang sempurna’.