Perang Total Kerajaan Mataram dibawah Pimpinan Sultan Agung Hanyokrokusumo

Perang Total Kerajaan Mataram dibawah Pimpinan Sultan Agung Hanyokrokusumo

Admin
Tuesday, 16 April 2019

Perang-Kerajaan-Mataram-dibawah-Pimpinan-Sultan-Agung-Hanyokrokusumo

Daerah Mataram  semula merupakan bagian dari wilayah kerajaan Pajang. Bupati Mataram pertama adalah Ki Gede Pemanahan. Pada tahun 1575 , Ki Gede diganti oleh puteranya yaitu Danang Sutawijaya.

Sultan Pajang wafat ( Sultan Hadiwijaya ) sekitar tahun 1582, Mataram  menyatakan memisahkan diri dari Pajang. Sutawijaya didampingi penasehatnya Ki Jurumertani, mengukuhkan diri sebagai raja Mataram pertama bergelar Panembahan Senopati.

Mataram kemudian diperintah oleh putra Panembahan Senopati yang bernama Mas Jolang ( 1601 – 1613 ). Mas Jolang gugur dalam suatu pertempuran sengit di Krapyak, sehingga mendapat sebutan Panembahan Seda Krapyak.

Sebagai penggatinya yang sah adalah putranya yang bernama Raden Mas Rangsang  yang untuk selanjutnya dikenal dengan nama Sultan Agung Hanyokrokusumo.

Sultan Agung di samping cakap sebagai raja juga fasih dalam hal seni budaya, ekonomi, sosial dan perpolitikkan. Kerajaan-kerajaan Islam di Jawa yang berhasil disatukan antara lain Gresik ( 1613 ), Tuban ( 1616 ), Madura ( 1624 ), dan Surabaya ( 1625 ).

Latar belakang kejengkelan Sultan Agung  (Mataram ) bersitegang dengan kompeni Belanda antara lain  :

# Kompeni  Belanda memonopoli perdagangan.

# Kompeni Belanda mengingkari Perjanjian 1614.

# Kompeni Belanda berkali-kali merampok kapal dagang Mataram.

# Kompeni Belanda suka menghina orang Islam dan memperkosa para wanita.

Pada tahun 1614 sebenarnya VOC telah melakukan kontak dengan Mataram ( Sultan Agung ) yang melahirkan Perjanjian 1614, berisi:

Sultan memperkenankan Kompeni Belanda mendirikan kantor dagang ( loji ) di Jepara.
Belanda siap memberikan apa saja yang diminta Sultan Agung.

Sultan Agung menyadari bahwa Kompeni Belanda tidak dapat dipercaya, ingin mencari enaknya sendiri dan sewenang-wenang. Karena kekesalan itulah Sultan Agung memerintahkan Adipati Jepara untuk menghancurkan loji Belanda di Jepara. Serangan yang dilakukan pada tanggal 8 Agustus 1618 inilah sejumlah kompeni Belanda dan pemimpinnya, Cornelis van Masyck dan Balthasar van Eyndhovendinyatakan tewas.

Selanjutnya, pada tanggal 22 Agustus 1628 pasukan Mataram tidak tanggung-tanggung menyerang Batavia, jantung kekuatan VOC. Serangan pertama Mataram ini dipimpin Tumenggung Baureksa dan Dipati Ukur,  berhasil membunuh 56 orang, 24 luka berat dan 200 orang menyerah dalam penyerbuan terhadap benteng Holland, Parel, Gelderland, Bommel dan Freesland.

Kekuatan Mataram pada serangan pertama ke Batavia tahun 1628:

# Kekuatan armada laut  :

Pendaratan tanggal 22 Agustus 1628, berjumlah 59 kapal dagang, Tanggal 24 Agustus 1628, armada ke 2 mendarat 7 kapal perang, Pada tanggal 25 Agustus 1628, pendaratan ke 3 berjumlah   27 kapal

# Serangan darat   :

Tumenggung Baurekso menyerang dari front Timur dan Adipati Ukur menyerang dari front Selatan
Setelah mendapat serangan bertubi-tubi, Gubernur Jendral VOC,  J.P.  Coen pada tanggal 21 Oktober 1628 mengadakan serangan balasan dengan kekuatan 700 orang yang dipimpin Jaques le Febre.

Senopati Tumenggung Baurekso gugur, bantuan dari Mataram yang dipimpin Tumenggung Suro Agul-Agul, Kyai Adipati Manduwa Reja, dan Kyai Adipati Upasanta datang terlambat.

Pertempuran ini mengakibatkan banyak korban dikedua belah pihak. Mataram kehilangan 744 orang prajurit, kompeni Belanda kehilangan ratusan serdadunya.
           
Serangan kedua pasukan Mataram  dimulai tanggal 22 Agustus 1629. Pasukan Mataram mengerahkan 130.000 orang prajurit dan semua perbekalan, senjata diatur dengan tertib. Sasaran penyerbuan diarahkan pada benteng Parel, Holland, Robiju, Safier dan Diamant.

Benteng-benteng itu dikepung oleh berlapis-lapis prajurit Mataram. Pertempuran serupun terjadi pada tanggal 20 September 1629, kompeni yang bertahan di dalam benteng mulai kehabisan bekal dan peluru.

Selain jatuh korban 600 serdadu kompeni,  Gubernur Jendral J.P. Coenjuga tewas, yang menurut versi Belanda disebabkan oleh wabah penyakit menular. Meskipun Mataram tidak mutlak berhasil menghancurkan kompeni di Batavia apalagi mengusirnya, tetapi Sultan Agung sudah menunjukkan semangat anti penjajahan asing, khususnya kompeni Belanda.