Tradisi Merarik Lombok: Uji Nyali dan Uji Tanggung Jawab Pria Terhadap Wanita Ala Masyarakat Sasak

tradisi-merarik-pada-pernikahan-lombok

RiauOnline.id, Sejarah Lombok – Ada banyak hal unik yang bisa kita saksikan saat berada di Pulau Lombok ini. Pulau Lombok memang terkenal dengan daerah wisata nya yang menawan dan mempesona, namun tradisi yang ada di masyarakat Lombok juga sangat unik.

Kalau masalah alam dan pariwisata yang menawan lainnya seperti Pantai Senggigi, Gili Trawangan, Gili Air, tracking Gunung Rinjani sudah tidak kita ragu kan lagi akan keindahannya. Saat ini, pariwisata yang ada di Pulau Lombok hampir sejajar dengan Pulau Dewata Bali.

Namun, kali ini kita coba melihat sisi tradisi dan budaya yang berkembang di masyarakat Sasak yang ada di Pulau Lombok ini.

Tradisi Perkawinan dalam Adat dan Budaya Suku Sasak Lombok,


tradisi-merarik-pada-pernikahan-lombok

Suku Sasak yang ada di Lombok memiliki tradisi unik ketika sedang mengadakan acara perkawinan. Menurut sejarah pada zaman dulu, jika seorang pria di lombok memiliki keinginan untuk melamar seorang gadis atau menikahi seorang wanita maka dia harus memiliki mental dan nyali yang kuat, berani serta pantang menyerah.

Nah, pembuktian itu merupakan bagian dati sikap tanggung jawab dari seorang pria kala akan meminang seorang gadis. Cara pembuktian itu sangat unik, pada kalangan masyarakat Lombok harus 'mencuri' wanita yang ingin di nikah nya.

Sang pria akan membawa wanita pujaan nya meninggalkan rumah dan ikut dengan sang pria. Wanita tersebut akan dibawa pulang kerumahnya secara diam-diam, termasuk orang tua si wanita tidak boleh mengetahui hal tersebut.

Nah, selanjutnya wanita yang dibawanya akan didiamkan di rumah pria bersama orang tuannya selama kurang lebih seminggu tanpa memberi kabar kepada orang tuannya. Setelah tiba waktunya, maka pihak keluarga pria akan membawa si wanita pulang dengan menggunakan pakaian adat sasak serta di iringi dengan musik tradisional Lombok.

Nah, pada tahap ini disebut 'Merari' adrinya membawa lari sang wanita kabur dari rumahnya tanpa memberitahukan kepada siapa pun. Inilah pembuktian seorang lelaki sasak dalam meminang sosok wanita yang disukainya.

Bagaimana sejarah singkatnya Tradisi Pernikahan Merarik di Lombok?


tradisi-merarik-lombok

Tradisi Merari, inilah istilah sistem pernikahan yang menjadi tradisi hingga saat ini di Pulau Lombok. Setidaknya ada dua pandangan yang mengemuka tentang sejarah tradisi Merari’, yaitu: Pertama, kawin lari (Merari’) dianggap sebagai budaya produk lokal dan merupakan adat asli (genuine) dari leluhur masyarakat Sasak yang sudah dipraktikkan oleh masyarakat sebelum datangnya kolonial Bali maupun kolonial Belanda.

Hal ini dikuatkan juga oleh H. L. Hasbulloh yang mengatakan bahwa Merari’ itu adalah asli adat Sasak dan merupakan warisan dari para leluhur suku Sasak.Nieuwenhuyzen juga mendukung pandangan ini.

Menurutnya,banyak adat Sasak yang memiliki persamaan dengan adat suku Bali, tetapi kebiasaan atau adat, khususnya perkawinan Sasak, adalah adat Sasak yang sebenarnya.Kedua, kawin lari (Merari’) dianggap sebagai budayaproduk impor dan bukan asli dari leluhur masyarakat Sasak serta tidak dipraktikkan masyarakat sebelum datangnya kolonial Bali.

Pendapat ini didukung oleh sebagian masyarakat Sasak dan dipelopori oleh tokoh agama. Pada tahun 1955 di Bengkel Lombok Barat. TGH. Saleh Hambali menghapus kawin lari (Merari’), karena dianggap sebagai manifestasi Hinduisme Bali dan tidak sesuai dengan Islam.

Bagaimana mungkin tradisi Merari’ ini bisa dikatakan produk impor dari Bali, sementara beberapa kampung di Lombok seperti perkampungan Sekarbela yang tidak pernah disentuh ataupun dijajah oleh Anak Agung (kolonial Bali) juga mempraktikkan budaya Merari’, bahkan menjadikannya sebuah adat yang sudah dijalankan oleh para leluhur mereka. Ini adalah bukti nyata bahwa Merari’ merupakan adat asli suku Sasak di pulau Lombok.

Merari’ sebagai sebuah tradisi yang biasa berlaku pada suku Sasak di Lombok ini memiliki logika tersendiri yang unik.

Bagi masyarakat Sasak, merari’ berarti mempertahankan harga diri dan menggambarkan sikap kejantanan seorang pria Sasak, karena ia berhasil mengambil [melarikan] seorang gadis pujaan hatinya.

Sementara pada isi lain, bagi orang tua gadis yang dilarikan juga cenderung enggan, kalau tidak dikatakan gengsi, untuk memberikan anaknya begitu saja jika diminta secara biasa [konvensional], karena mereka beranggapan bahwa anak gadisnya adalah sesuatu yang berharga, jika diminta secara biasa, maka dianggap seperti meminta barang yang tidak berharga.

Ada ungkapan yang biasa diucapkan dalam bahasa Sasak: Ara’m ngendeng anak manok baen [seperti meminta anak ayam saja].  Jadi dalam konteks ini, merari’ dipahami sebagai sebuah cara untuk melakukan prosesi pernikahan, di samping cara untuk keluar dari konflik.

Apa Pesan Dibalik Tradisi Merarik ini?


tradisi-merarik-lombok


Jika kita melihat dan kemudian membandingkan tradisi ini dengan tradisi lainnya, misalnya dengan tradis Bugis di Bone maka ini akan berbanding terbalik. Namun, itu lah tadisi dengan segala ciri khasnnya masing-masih.

...Nah,

Pada tradisi yang sering di lakukan dalam kalangan suku Sasak Lombok ini merupakan sebuah pembuktian dari masyarakat Sasak dalam hal ini calon pengantin pria bahwa dia harus berani, punya nyali tinggi serta pantang menyerah. Hal ini terlihat dari cara 'menculik' si gadis tanpa memberitahukan pihak keluarga dan memang tidak boleh tahu.

Selain itu, ada nilai tanggung Jawab pada tradisi pernikahan masyarakat Sasak ini. Selama masa penculikan si wanita tetap terjaga dengan baik.

Pria tidak boleh melakukan hal itdak senonoh terhadap wanita yang dibawanya. Apalagi wanita yang dibawanya sudah berada di tengah keluarganya sendiri. Tentu hal ini akan menjadi sesuatu yang sangat memalukan apabila terjadi.

..Uniknya lagi,

Ada anggapan dari kalangan masyarakat sasak lombok yang mengatakan bahwa jika seorang pria minta izin kepada orang tua wanita untuk menikah maka itu di anggap sebagai sebuah pelecehan terhadap kaum perempuan.

Wanita bukan barang yang harus meinta izin terlebih dahulu sebelum memilikinya, namun seorang pria harus berjuang untuk mendapatkan wanita tersebut dengan tradisi 'merarik' ini. Dan ini sekaligus sebagai bukti bahwa sang pria memang memiliki nyali yang kuat untuk mendapatkan si wanita.

Pro dan Kontra Tradisi Merarik Lombok


Budaya dan Tradisi Perkawinan orang sasak ini sebenarnya merupakan warisan leluhur mereka yang terus mereka jalankan hingga saat ini. Namun, belakangan ini muncul sebuah pro dan kontra terhadap tradisi merarik.

Menurut Para ulama dan Tuan Guru, tradisi merarik ini adalah tradisi orang Hindu Bali. Saat hindu berkuasa di Lombok tradisi sepeerti ini dianjurkan dalam kalangan masyarakt Lombok kala itu. Namun, orang sasak percaya jikan tradisi merarik ini adalah warisan leluhur mereka.

Menurut mereka, dalam tradisi merarik ini sangat memperkuat silahturahmi antara sesama mayarakat sasak serta melestarikan tradisi dan warisan leluhur Suku Sasak.

...Lihat,

Bagaimana antusias dalam masyarakat Sasak kala mereka ramai datang untuk menyaksikan agenda sakral ini. Dalam tradisi Merarik sebenarnya lebih meninggikan drajat perempuan yang harus diperjuangkan.

Ada pendapat yang mengatakan bahwa cenderung terjadinya sikap otoriter seorang suami dalam sebuah keputusan dalam keluarganya. Menjadi tabu jika seorang suami mengerjakan pekerjaan dapur atau pekerjaan-pekerjaan 'milik istri'. Meskipun wanita ini seorang wanita karier, dia harus tetap melakukan pekerjaan tersebut.

Sekain itu, istilah kawin-cerai yang sangat sering terjadi di masyarakat Lombok. Hal ini berawal dari 'nyali' yang dibutuhkan untuk 'menculik' si wanita. Nah, terkadang ada beberapa pria yang salah memaknai tadisi ini. Mereka dengan mudahnya 'kawin-cerai' setelah melakukan pernikahan.

Namun, sisi positif dalam proses kawin lari "Merarik" dapat mempersatukan masyarakat yang satu dengan masyarakat yang lain. Kondisi ini terlihat satu masyrakat kampung sibuk dengan segala persiapan pernikahan yang akan segera dilakukan.

Jadi, ada terjalin komunikasi yang baik antara sesama masyarakat Sasak dalam mempersiapkan segala sesuatunya, tentu hal ini semakin mempererat hubungan silaturahmi dalam kalangan masyrakat itu sendiri.


0 Response to "Tradisi Merarik Lombok: Uji Nyali dan Uji Tanggung Jawab Pria Terhadap Wanita Ala Masyarakat Sasak"

Post a comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel