Ketika Pangeran Sabrang Lor ‘Dipati Unus’ Menyerang Portugis di Malaka

Ketika Pangeran Sabrang Lor ‘Dipati Unus’ Menyerang Portugis di Malaka

Admin
Tuesday, 16 April 2019

Pangeran-Sabrang-Lor-Dipati-Unus-Menyerang-Portugis

Hanya kurang lebih satu tahun setelah kedatangan Portugis di Malaka ( 1511 ), perlawanan terhadap dominasi Barat mulai muncul. Jatuhnya Malaka ke pihak Portugis sangat merugikan jaringan perdagangan para pedagang Islam dari kepulauan Indonesia.

Aktivitas perdagangan para pedagang Islam di selat Malaka terhenti dan para pedagang Islam mencari jalan sendiri lewat pantai barat Sumatera untuk menjalin hubungan dengan pedagang-pedagang Islam di sebelah Barat Indonesia.

Di samping itu, kedudukan kerajaan Islam di Indonesia merasa terancam oleh pengaruh Portugis di Malaka. Kenyataan, kedatangan Portugis tidak hanya untuk berdagang tetapi juga untuk menyebarkan agama Khatolik dan menguasai.

Solidaritas sesama pedagang Islam terbangun saat Malaka di bawah kekuasaan Sultan Mahmud Syah jatuh ke pihak Portugis. Kerajaan Aceh, Palembang, Banten, Johor dan Demak bersekutu untuk menghadapi Portugis di Malaka.

Keterlibatan Demak juga dikarenakan banyak komoditas dari Demak melalui pelabuhan Jepara ikut dirugikan sejak Malaka dikuasai Portugis. Pasukan dari Demak dipimpin langsung oleh putra mahkotanya, yaitu Dipati Unus siap menyerang Portugis di  Malaka.

Dipati Unus atau Yunus adalah putra Raden Patah penguasa kerajaan Demak di Jawa. Dipati Unus mendapat sebutan “Pangeran Sabrang Lor “ karena jasanya memimpin armada laut Demak dalam penyerangan ke Malaka.

Pemerintahan Pangeran Sabrang Lor tidak berlangsung lama, dari tahun 1518 – 1521.

Pada tahun 1513, Demak mengerahkan kekuatan 100 kapal perang dengan ribuan prajurit untuk bergabung dengan pasukan dari Banten, Palembang, Aceh dan Johor.

Armada Demak mengambil rute melalui Banten bersama-sama armada Banten lewat selat Sunda - Pantai Barat Sumatera - Aceh -Selat Malaka –Malaka. Jadi penyerangan armada Demak dan kawan-kawan dilakukan dari arah utara ( lor ).

Karena faktor jarak yang begitu jauh dan peralatan perang yang kurang seimbang serta strategi perang kurang jitu, penyerangan tidak berhasil.

Kegagalan mengusir Portugis di Malaka ini membuat Demak harus semakin waspada dari ancaman Portugis. Untuk itu Demak lebih meningkatkan pertahanannnya dengan menambah jumlah kapal perang dan prajurit.

Terutama pada saat Dipati Unus naik tahta pada tahun 1518 menggantikan ayahnya, Raden Patah . Baru berlangsung sekitar 3 tahun, Dipati Unus jatuh sakit dan wafat tahun 1521. Pati Unus meninggal tanpa memiliki keturunan, oleh karena itu yang berhak menggantikan kedudukannya adalah adiknya, Raden Trenggono.