Ketika Kerajaan Sakra (Sakra Bedah) Mulai di Rasa Penguasa Akan Runtuh

Ketika Kerajaan Sakra (Sakra Bedah) Mulai di Rasa Penguasa Akan Runtuh

Admin
Friday, 19 April 2019

Keruntuhan-Kerajaan-Sakra-Lombok

Ruangsejarah.web.id -- Karangasem menyadari, kendati pun Sakra yang semula hanya daerah kecil di wilayah kekuasaannya, akan tetapi memiliki ketangguhan yang lebih dibandingkan Pejanggik.

Sakra sangat solid, merupakan pedaleman tunggal dan tidak memiliki pedaleman lain di bawahnya, oleh karena itu wilayahnya sqngat utuh. Maka tidak mudah mengalahkan Sakra dengan kekuatan konvensional. Dengan demikian Karangasem benar-benar mempersipakan diri.

Berbagai perlengkapan senjata seperti bedil dan kapal (dengan nama Sri Cakra dan Sri Mataram) dibeli dari Singapura. Selain itu, untuk menambah kekuatan didatangkan pasukan dari Karangasem dan Kelungkung. Karangasem memerlukan persiapan sekitar tiga tahun untuk dapat melawan Sakra sambil melancarkan serangan-serangan kecil ke wilayah Sakra. Seolah-olah hanya kekuatan kecil itu yang dimiliki Karangasem, hingga saat itu pun tiba.

Serangan balik dilancarkan oleh Raja Muda Mataram A.A Gde Karangasem. Satu demi satu desa diserang oleh Karangasem yang dilengkapi senjata bedil.

Tiap desa yang dilalui penduduknya dipaksa menjadi tameng. Sebagai prajurit profesional, mereka tidak langsung menusuk ke jantung pertahanan Sakra, melainkan mengggelar strategi Sapit Urang untuk mengepung Sakra.

Setelah melalui Rarang, Suradadi, Padamara, maka pangkalan di Kopang dipindahkan ke Masbagik. Setelah itu menaklukan Penede Gandor, mereka pun memasuki wilayah Surabaya. Meskipun Pe Siraga Perkanggo Surabaya yang perkasa itu melakukan perlawanan yang gagah berani, akan tetapi tidak berdaya menghadapi pasukan yang lengkap bersenjata bedil. Keadaan itu memaksa Pe Siraga masuk Sakra.

Lokasi desa Sakra memang dipilih dengan pertahanan dikelilingi oleh kali yang dalam di sebelah timur, sisi selatan dan barat. Sedangkan di sebelah utara berderet bukit-bukit sebagai benteng alam. Pasukan dari Kelungkung setelah menyapu Mujur, Ganti, dan Beleka maju terus melalui Jerowaru dan Mendana. Lalu berhenti berkemah di sebelah barat sebelah kali Palung yang dalam.

Di sebelah timur tepatnya di bukit Selong, berkemah para prajurit Pagutan dan Pagesangan. Barulah kemudian pasukan induk menduduki bukit-bukit di sebelah utara untuk perang urat saraf di malam hari dengan menggelar pesta dan mendatangkan penari Joget. A.A. Gde Karangasem menerapkan strategi Gelar Perang Garuda Ngelayang.

Para prajurit tameng yang terdiri dari orang-orang Sasak, mereka juga ditugaskan untuk terus menerus membuat gangguan dengan serbuan setiap hari.

Pengepungan yang berbulan-bulan tanpa serangan besar-besaran benar-benar menyebabkan prajurit Sakra menjadi frustasi. Orang Sakra yang tidak mengerti strategi perang merasa tak habis pikir ketika siang dan malam pihak Bali terus menerus menembakkan bedilnya, Pipian Langit, dan ditertawakan sebagai orang kaya yang membuang-buang mesiu.

Mereka tak mengerti strategi perang urat saraf sementara bantuan yang diharapkan dari Goa dan Sumbawa tak kunjung datang karena kurang koordinasi.

Akhirnya prajurit Sakra tak punya pilihan lain kecuali keluar mengamuk tanpa aturan melawan prajurit-prajurit Sasak sendiri yang dipergunakan sebagai tameng hidup oleh prajurit Bali. Sementara orang Bali sendiri berada pada barisan belakang mempergunakan senjata lengkap.

Pada pertempuran tersebut, Raden Nuna Gede Lancung beserta saudaranya gugur di sisi barat. Sementara di sebelah timur yang dipertahankan oleh Raden Benta, Raden Mombek, dan Raden Bentabonter juga mengalami nasib yang sama.

Begitu pula dengan pasukan induk di sebelah utara, meskipun mampu merobohkan begitu banyak prajurit-prajurit Bali akan tetapi juga mengalami nasib yang sama.

Setelah banyak prajurit-prajurit tangguh Sakra yang tewas, barulah prajurit-prajurit Bali maju dan memasuki Sakra dengan membawa perlengkapan senjata lengkap. Puri yang hanya tinggal dan dipertahankan oleh Pe' Siraga juga jebol dan diratakan dengan tanah.

Seluruh bangsawan Sakra mati, kecuali para kanak-kanak yang sebelumnya telah diungsikan ke Korleko. Pe Siraga sendiri tewas sementara Raden Bini Ringgit menyiapkan pusakanya dan untuk pertama kalinya meminta ampun kepada suaminya sebelum puputan sabil.

Raden Bini Ringgit meminta bantuan pada suaminya untuk menyelamatkan anaknya yang masih bertempur di dalam desa, akan tetapi Karaeng Manajai menemukan putranya sudah tewas.

Pemban Bini Ringgit karena sudah sepuh dan tua gagal puputan sabil, dengan mudah ia ditangkap dan ditahan sebagai sandra yang sangat berharga di Taman Kelepug (Mayura) dan didampingi oleh anak tirinya. Perang Sakra ini berlangsung pada tahun 1824-1828 M meluluhlantakkan Sakra.

Perang ini disebut "Peresak". Kerajaan Sakra dianggap runtuh dan hanya berumur 50 tahun, terhitung sejak 1780 M hingga dengan 1828 M. Setelah kekalahannya, pihak Sakra kemudian menjalin dan membina hubungan baik dengan erajaan Karangasem.