Kebudayaan Kjokkenmoddinger dan Abris Sous Roche di Indonesia

Kebudayaan Kjokkenmoddinger dan  Abris Sous Roche
Kebudayaan Kjokkenmoddinger dan  Abris Sous Roche | Sejarah Indonesia

Riauonline.id -- Kjokkenmoddinger istilah dari bahasa Denmark, kjokken berarti dapur dan modding dapat diartikan sampah.

Sedangkan Kebudayaan abris sous roche merupakan sebuah hasil kebudayaan yang pernah ada dan kemudian ditemukan di gua-gua oleh para peneliti sejarah.

Hal ini mengindikasikan bahwa manusia purba pendukung kebudayaan ini tinggal di gua-gua.

1. Pengertian dan Hasil Kebudayaan kjokkenmoddinger di Indonesia



Kebudayaan kjokkenmoddinger
Kebudayaan kjokkenmoddinger di Indonesia

Pada awal pembukaan artikel ini sudah saya jelaskan sekilas tentang Kebudayaan kjokkenmoddinger, sebuah kebudayaan yang pernah ada dan berkembang di Indonesia pada masa lampau.

...Jadi,

Dalam kaitannya dengan budaya manusia, kjokkenmoddinger merupakan tumpukan timbunan kulit siput dan kerang yang menggunung di sepanjang pantai Sumatra Timur antara Langsa di Aceh sampai Medan.

Ini menjadi sebuah petunjuk penelitian sejarah,

Dengan kjokkenmoddinger ini dapat memberi informasi bahwa manusia purba zaman Mesolitikum umumnya bertempat tinggal di tepi pantai.

Info: Zaman Mesolitikum atau Zaman Batu Madya, berasal dari Bahasa Yunani yaitu mesos "tengah" dan lithos berarti batu. Secara lengkap berarti suatu periode dalam perkembangan teknologi manusia, antara Paleolitik atau Zaman Batu Tua dan Neolitik atau Zaman Batu Muda.

Kebudayaan Kjokkenmoddinger dan  Abris Sous Roche
Kebudayaan Kjokkenmoddinger dan  Abris Sous Roche di Indonesia

Penelitaian Kebudayaan Kjokkenmoddinger di Berbagai daerah Indonesia


...Jadi,

Pernah ada seorang ahli sejarah yang namanya saya sebut di atas tadi melakukan penelitian mendalam tentang Kebudayaan Kjokkenmoddinger ini.

...Beliau ini adalah Dr. P. V. van Stein Callenfels sekitar pada tahun 1925.

Penelitian yang dilakukannya ini menyimpulkan bahwa ada ketergantungan kehidupan masa itu pada hasil mengangkap siput dan kerang.

Hal ini di kuatkan dengan temuan sampah bekas tangkapan tersebut. Tumpukan kedua hewan tersebut di perkirakan dengan ketinggian 7 meter.

Dr. P. V. van Stein Callenfels
Penelitian oleh Dr. P. V. van Stein Callenfels

...Itu artinya lebih dari setinggi bubung rumah normal,

Hanya saja, proses penumpukan ini diperkirakan dalam waktu yang lama.  Bahkan diperkirakan mencapai ratusan bahkan ribuan tahun yang lalu. Kemudian, mereka juga menemukan batu penggiling beserta landasannya (pipisan) yang digunakan untuk menghaluskan cat merah.

Jadi, Cat Merah tersebut diduga sebagai media keagamaan atau ilmu sihir yang mereka gunakan.

Selain itu,

Di temukan juga beberapa peralatan atau benda-benda kebudayaan seperti kapak genggam yang disebut pebble atau kapak genggam Sumatra (Sumeteralith) sesuai dengan tempat penemuannya. Kapak tersebut terbuat dari batu kali yang dibelah dua dan teksturnya masih kasar.

Kapak lain yang ditemukan pada zaman ini adalah bache courte (kapak pendek) yang berbentuk setengah lingkaran seperti kapak genggam atau chopper.

Berdasaran pecahan tengkorak dan gigi yang ditemukan pada Kjokkenmoddinger, diperkirakan bahwa manusia yang hidup pada zaman mesolitikum adalah bangsa Papua Melanesoide (nenek moyang suku Irian dan Melanesoid)

2. Pengertian dan Hasil Kebudayaan Abris Sous Roche di Indonesia


Kebudayaan Abris Sous Roche di Indonesia
Sampung Bone Culture

Kebudayaan abris sous roche merupakan hasil kebudayaan yang ditemukan di gua-gua. Hal ini mengindikasikan bahwa manusia purba pendukung kebudayaan ini tinggal di gua-gua.

Di kawasan Gua Lawa dekat Sampung, kawasan Ponorogo ditemukan beberapa alat yang yang terbuat dari tulang sehingga disebut sebagai Sampung Bone Culture

Beberapa hasil teknologi bebatuan yang ditemukan misalnya ujung panah, flakes, batu penggilingan. Juga ditemukan alat-alat dari tulang dan tanduk rusa.

Kebudayaan abris sous roche ini banyak ditemukan misalnya di Besuki, Bojonegoro, juga di daerah Sulawesi Selatan seperti di Lamoncong.

Penelitian Kebudayaan Abris sous roche di Berbagai daerah Indonesia


Tak hanya Kebudayaan Kjokkenmoddinger yang dilakukan penelitiannya, Kebudayaan Abris sous roche juga diteliti oleh Dr. P. V. van Stein Callenfels. Hanya saja penelitian ini dilakukan sekitar  tahun 1928-1931 di Goa Lawu dekat Sampung, Ponorogo (Madiun).

Dalam penelitian ini,

Banyak ditemukan berupa alat-alat yang terbuat dari tulang sehingga disebut sebagai Sampung Bone Culture. Sedangkan di kawasan daerah Besuki (Jawa Timur), van Heekeren juga menemukan kapak Sumatra dan kapak pendek.

Kawasan lainnya, sisa-sisa kebudayaan Abris sous roche juga ditemukan pada daerah Timor dan Rote oleh Alfred Buhler yang menemukan flakes culture dari kalsedon bertangkai dan hal ini diduga merupakan peninggalan bangsa Papua Melanesoide.

Hasil kebudayaan Abris sous roche juga ditemukan di Lamancong (Sulawesi Selatan) yang biasa disebut kebudayaan Toala.

Kebudayaan Toala ditemukan pada suatu goa yang disebut Goa Leang Pattae dan inti dari kebudayaan ini adalah flakes dan pebble.

0 Response to "Kebudayaan Kjokkenmoddinger dan Abris Sous Roche di Indonesia"

Post a comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel