Catatan Sejarah 17 Juli 1905: Berdirinya perkumpulan al-Jam’iyat al-Khairiyah

Catatan Sejarah 17 Juli 1905: Berdirinya perkumpulan al-Jam’iyat al-Khairiyah

Admin
Tuesday, 30 April 2019

Berdirinya-perkumpulan-al-Jamiyat-al-Khairiyah

RiauOnline.id – Ulasan panjang sejarah bangsa indonesia tak akan pernah habis untuk dibahas, perjalanan panjang menuju kemerdekaan bangsa Indonesia hari melalui lika-liku sejarah dan mencata tanggal-tanggal penting yang merupakan bagian dari Sejarah kita.

Salah satu catatan penting adalah yang terjadi pada 17 Juli 1905, kala itu berdiri perkumpulan al-Jam’iyat al-Khairiyah. Pada awalnya, salah satu agenda penting dari berdiri perkumpulan al-Jam’iyat al-Khairiyah adalah mendirikan sekolah tingkat dasar untuk masyarakat Arab.

Dalam pelaksanaan pendidikan di lingkungan ini menggunakan Kurikulumnya modern, karena yang diajarkan di sekolah itu bukan hanya pelajaran agama, tetapi materi berhitung, tentang sejarah, disiplin geografi serta pelajaran lain-lain.

Perkumpulan atau organisasi ini merupakan organisasi sosial yang memiliki visi terhadap sebuah perubahan dalam sistem atau lembaga pendidikan Islam terutama di Jakarta. Lengkapnya Al-Jamiatul Khairiyah.

Al-Jam’iyat al-Khairiyah merupakan organisasi pendidikan Islam tertua di Jakarta, sebenarnya sudah terkonsep sejak tahun 1901 dengan peran besar para ulama asal Arab Hadramaut dan juga pemuda Alawiyyin, seperti Habib Abubakar bin Ali bin Abubakar bin Umar Shahab, Sayid Muhammad Al-Fakir Ibn. Abn. Al Rahman Al Mansyur, Idrus bin Ahmad Shahab, Ali bin Ahmad Shahab, Abubakar bin Abdullah Alatas, Muhammad bin Abdurrahman Shahab, Abubakar bin Muhammad Alhabsyi dan Syechan bin Ahmad Shahab.

Perjalanan panjang demi persetujuan mendirikan organisasi al-Jam’iyat al-Khairiyah dengan misi pendidikan baru mendapat restu dari Pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1905 (Mereka juga mengajukannya pada tahun 1903)

Selanjutnya, al-Jam’iyat al-Khairiyah ditangani dan dikelola dengan baik oleh para ulama-ulama yang disebutkan tadi, nah. di tangan ulama-ulama inilah Jamiatul Khair tumbuh pesat dan berkembang dengan baik.

Masa awal Organisasi al-Jam’iyat al-Khairiyah ini berkantor di kawasan Pekojan di Tanjung Priok (Jakarta). Melihat perkembangan yang luarbiasa maka mereka mempertimbangkan untuk memindah pusat organisasi ini ke Jl. Karet, Tanah Abang.

Perlu dicatat, dibawah didikan organisasi inilah banyak lahirnya para tokoh-tokoh islam. Mereka adalah Kyai Haji Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah), HOS Tjokroaminoto (pendiri Syarikat Islam), H. Samanhudi (tokoh Sarekat Dagang Islam), dan H. Agus Salim.

Terkenala memiliki jaringan yang luar, para pemimpin-pemimpin al-Jam’iyat al-Khairiyah atau Jamiatul Khair mempunyai hubungan yang luas dengan beberapa kalangan yang ada di luar negeri, terutama negeri-negeri dengan komunitas Islam terbesar seperti Mesir dan Turki.

Nah, selanjutnya dari wilayah luar negeri ini organisasi al-Jam’iyat al-Khairiyah mendatangkan majalah-majalah dan surat-surat kabar yang dapat membangkitkan gairah dan semangat nasionalisme Indonesia, seperti Al-Mu’ayat, Al-Liwa, Al-ittihad dan lainnya.