Zaman Prasejarah Dan Asal Muasal Penghuni Gumi Sasak

Zaman Prasejarah Dan Asal Muasal Penghuni Gumi Sasak

Admin
Friday, 8 March 2019

Zaman Prasejarah Dan Asal-Muasal Penghuni Gumi Sasak

RiauOnline.id -- Banyak peristiwa-peristiwa penting yang terjadi di masa lalu hingga hari ini, akan tetapi sebagian besar peristiwa-peristiwa tersebut tidak dicatat atau ditulis.

Pada masa tersebut mungkin orang belum mengenal huruf atau budaya baca-tulis sehingga tidak ada keterangan-keterangan yang ditinggalkan secara tertulis.

Sumber -sumber yang menjadi informasi adalah penemuan benda-benda arkeologis seperti penemuan tengkorak, tulang-belulang manusia purba, alat-alat dan senjata sederhana serta jejak jejak yang ditinggalkan pada lingkungan alam (geologis). Masa itu disebut dengan zaman prasejarah.

Sedangkan masa setelah manusia mengenal tulisan sehingga berbagai peristiwa dapat tercatat, disebut sebagai zaman sejarah.

Kehidupan nenek moyang Gumi Sasak pada zaman prasejarah sangat menarik untuk dipelajari serta memiliki ciri khas yang berbeda dengan suku-suku lainnya di Indonesia.

Kekhasan tersebut dapat dilihat dari struktur dan model budaya yang kini berkembang.

asal sejarah gumi sasak lombok

Berbagai penemuan-penemuan yang diperoleh oleh masyarakat belum mendapatkan jawaban karena memang belum dilakukannya penelitian dengan menggunakan teknologi tingkat tinggi seperti radioisotop.

Sampai saat ini, sumber informasi yang dapat dijadikan sebagai kajian tentang perjalanan orang-orang Sasak sejak eksisnya di pulau Lombok adalah melalui cerita-cerita rakyat, babad lontar, barang-barang peninggalan masa lalu, dan hasil penemuan artefak/bukti arkeologis lainnya.

Sementara cerita-cerita rakyat dan babad lontar ini secara keilmuan belum bisa dijadikan sebagai acuan ilmiah untuk mengetahui tentang kebenaran sebuah peristiwa dalam sejarah.

Penemuan-penemuan di Gunung Piring, desa Truwai kecamatan Pujut,.Lombok Selatan oleh Proyek Penggalian dan Penelitian Purbakala Jakarta pada tahun 1976 sedikit banyak memberikan gambaran tentang tata-cara hidup serta sumber bahan makanan masyarakat suku Sasak masa larnpau.

Adapun penemuan-penemuan tersebut berupa periuk utuh, kereweng, kerangka manusia, sisa kulit kerang, arang, fragmen logam dan binatang. Selain penemuan arkeologis tersebut, juga ditemukan arca Budha Awalokiteswara, nekara dan batu nisan yang berhuruf China dan Arab.

Penemuan-penemuan tersebut memberi sinyalemen bahwa masyarakat suku Sasak masa lampau telah menjalin hubungan yang intens dengan dunia luar.

Dari penemuan benda-benda purbakala di Lombok Selatan dapat disimpulkan bahwa kira-kira pada akhir zaman perunggu, pulau Lombok bagian selatan telah dihuni oleh sekelompok manusia yang sama kebudayaannya dengan penduduk di Gua Tabon Vietnam Selatan, penduduk di Pulau Pallawan-Filipina, penduduk di Gilimanuk Bali, dan penduduk di Malielo-Sumba.

sejarah-asal-muasal-penghuni-pulau-lombok

Menurut Drs. M. M. Sukarto dan Prof. Solheim, guru besar di Universitas Hawai, kebudayaan di Gunung Piring itu termasuk ke dalam Shan Huyn Kalanny Tradition.

Umum diketahui bahwa manusia purba di Indonesia merupakan jenis homo sapiens. Terdapat dua ras homo sapiens di Indonesia, yaitu ras Mongoloid dan ras Austromelanesoid.

Adapun penyebaran kedua ras tersebut:

Ras Mongoloid, khusus sub ras Melayu-Indonesia, tersebar di sebagain besar wilayah Indonesia terutama Indonesia yang terletak di bagian barat dan selatan antara lain Sumatera, Jawa, Bali, dan Lombok.

Ras Austromelanesoid, tersebar di wilayah Indonesia bagian timur terutama Irian Jaya dan pulau-pulau sekitamya.

Nenek moyang suku bangsa Indonesia menyusuri lembah-lembah sungai di Vietnam dan Thailand sampai di Semenanjung Malaya.

Kemudian dengan menggunakan perahu bercadik mereka datang ke nusantara, mendarat di Sumatera, Jawa, Kalimantan Barat, Bali, Nusa Tenggara termasuk Lombok sampai ke Flores dan Sulawesi Selatan.

Berdasarkan penjelasan di atas, maka penghuni suku di pulau Lombok berasal dari Asia Tenggara. Adapun kemudian penduduk pendatang nusantara berasal dari Bali, Sulawesi Selatan, Jawa, Kalimantan, Sumatera, Maluku dan Nusa Tenggara Timur.